facebook twitter instagram Tumblr

Anik's Blog

Suaraku melengking keras saat jarum itu menusuk kulit. Tempat ini lebih layak disebut tempat konveksi, dibandingkan rumah sakit. Di sini kulit manusia beda tipis dengan potongan kain yang bisa ditusuk jarum berulang kali.

Para wanita berseragam putih menjelma seperti malaikat berulang kali datang tanpa iba membawa pil-pil pahit. Membawa nampan makanan yang nantinya akan jadi bahan mainan para pasien.

Aku hanya memandangi mereka dengan tatapan kosong. Tidak menyangka, tempat ini menjadi bagian dari cerita hidup. Meski sebenarnya merutuki diri sendiri, kenapa aku rela menjebloskan diri ke tempat ini, tetapi aku merasa lebih nyaman di sini.

Aku sudah lelah berpura-pura terlihat lapang dada. Itu malah membuat kepingan hatiku semakin retak tak berdaya.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Ini malam ketiga aku menaruh sekotak martabak dan sebuket bunga di meja makan. Setiap hari kubiarkan mereka tergeletak di sana. Lalu keesokan harinya, barang yang selalu kutemukan tergeletak di depan pintu rumah itu sudah tidak ada. Entah, mama membuang kemana barang haram itu.

Tanpa kuberi tahu, mama pasti sudah mengerti dari mana barang itu berasal. Karena aku juga membiarkan sepucuk surat merah hati di atas bunga teronggok tak terbaca. Mama pasti membacanya.

“Ma, kotak martabak dan bunganya Mama taruh mana?” tanyaku keesokan harinya saat melihat mama pulang membawa sekantong plastik sayuran.

“Martabaknya mama kasih ke tetangga sebelah, kemarin ke tukang rosok yang lewat depan rumah, dan hari ini ke tukang sayur. Kalau bunganya mama rendam air di botol plastik dekat kolam ikan belakang.”
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Sesampainya di rumah, aku hanya diam tanpa mengajak mama berbicara sedikit pun. Aku mengunci diri di kamar seharian. Perasaan kembali kalut. Menyesal sudah datang ke pernikahan mereka. Masakan mama di meja makan juga tak kusentuh sekali pun.

Hanya saat malam, aku ke luar kamar untuk menonton TV. Suara TV sangat keras menyaingi hujan lebat di luar. Acara yang kutonton adalah tayangan komedi, tetapi sulit rasanya menertawai acara itu. Bagiku mereka hanyalah gambar bergerak untuk mengisi kebosanan, bukan kekosongan hati.

 “Han, kamu tidak makan?” Terlihat separuh kepala mama dari celah pintu kamarnya yang terbuka. Aku menggeleng.

Aku mengganti channel TV berulang kali. Tidak ada yang menarik menurutku. Terdengar ketukan pintu yang keras dan berulang-ulang. Aku memandangi pintu depan yang bergetar-getar karena terlalu keras diketuk.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
“Han.” Aku mengedarkan pandangan ke sekitar mencari sumber suara.

“Iya?” Kulihat ada sesosok lelaki berkacamata dengan gagang hitam duduk di belakangku. Aku menoleh ke arahnya.

“Kamu Hanna, kan?” tanyanya.

“Iya. Kamu...?” Aku mencoba mengingat-ingat sosoknya, tetapi tak juga kutemukan wajahnya dalam kepingan memoriku.

“Aku Randu,” jawabnya. Bahkan, namanya saja terdengar asing di telingaku. Selama ini aku memang tak pernah mempunyai teman bernama Randu.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Tulang-tulangku serasa lemah memandangi mereka duduk berdua di pelaminan. Ada perasaan sakit yang semakin terasa di sudut hati saat pertama kali masuk ke gedung megah ini. Bau melati mulai mengoar di hidung, dan sepasang mempelai mengenakan gaun putih yang tertangkap pandanganku menambah sesak.

“Han.” Mama menyenggol lenganku. Aku terlihat diam memandang mereka.

“Ayu cantik, Ma.” Aku tersenyum memandang mama dengan berkaca-kaca.

“Hanna lebih cantik,” ucapnya. Aku tertawa geli mendengar gurauan mama, lalu membalas menyenggol lengannya pelan.

Saat aku dan mama duduk untuk makan beberapa hidangan, ada teman-teman kuliah yang memandangiku dengan aneh. Pasti mereka iba melihatnya. Aku mencoba terlihat seperti biasanya. Terlihat kuat, meski sebenarnya hati ini rapuh.
Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar
Kuoleskan lipstik peach tipis ke bibir bawah. Belum kulanjutkan, aku memandangi diri yang sedang mematut di depan cermin. Seharusnya hari ini aku dirias bukan untuk datang sebagai tamu undangan, tetapi menjadi mempelai perempuan. Aku menelan ludah merasakan kegetiran perasaanku. Rasa sakit itu terasa lagi.

Kupegangi pinggiran meja rias kayu kuat-kuat menahan sakit yang tiba-tiba menyergap diriku. Kukira mulai kemarin aku sudah baik-baik saja, ternyata belum sepenuhnya luka ini benar-benar sembuh.

Baja yang menghantam hati ini terlalu kuat dan dalam. Lubang lukanya sampai menganga  tak terlihat dasarnya. Kulihat mataku berkaca-kaca. Dengan cepat kuambil tisu di depanku. Kuhapus dengan kasar genangan air di kelopak mata. Rasanya ingin aku merutuki diri sendiri, kenapa aku menjadi gadis yang cengeng seperti ini.
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Aku membuka dua pintu almari lebar-lebar. Kulihat isinya yang berisi beberapa gantungan dan lipatan baju yang sudah sering kupakai. Bukan bingung mencari baju untuk ke pernikahan Ayu, tetapi aku masih bingung mencari referensi kado untuk mereka. 

Kulihat seisi kamar, tidak ada hal yang membuatku mendapat ilham. Kardus yang tersimpan di atas almari juga kuturunkan. Kukeluarkan semua isi-isinya. Mungkin saja ada barang yang belum dimiliki Ayu dan akan kubelikan hari ini juga untuk dibungkus. Setelah semua isinya tercecer di luar, sama sekali aku tak menemukan barang yang pas untuk bisa kubawa.

Ini bukan kado ulang tahun yang mudah mencari ide item barangnya. Biasanya saat ulang tahun, Ayu kuberi bingkai foto kita, syal rajutan, rok motif polkadot lucu, atau kalung etnik. Ayu bukan lagi seorang gadis labil yang akan kuberi barang pernak-pernik merah muda.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
“Saya merasa bersalah karena tidak memberi tahu Hanna dari awal, saya sudah berusaha mencari waktu dan kesempatan yang tepat untuk menjelaskan kepada Hanna, tapi saya tidak pernah sanggup.”

“Semua sudah terjadi, Dimas. Semoga kalian bahagia dengan jalan kalian masing-masing.”

“Terima kasih untuk kebaikan tante dan Hanna selama ini.” Dimas berlalu dari hadapan mama tanpa sempat kulihat wajahnya. Aku dan mama menatap kepergiannya sampai punggungnya tak terlihat lagi.

“Ma.” Sebelum menunggu jawaban mama, aku sudah menghapus air mataku dengan segera.

Selama tiga hari aku hanya berbicara seperlunya kepada beliau, entah kenapa hari ini aku mendengar mama berkata lembut kepada Dimas ada bagian hatiku yang tersentuh.

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
*Maaf telat banget ya ngepostnya. Karena tidak bisa memakai alat komunikasi beberapa hari lalu jadi nggak bisa nulis dan ngeblog dulu. Ada yang bilang nggak kangen aku, tapi kangen cerbungku. Huhuhu. Alhamdulilah, setidaknya ada yang dikangenin wkwk :D udahah ah, aku kalo udah ngomong jadi panjang nanti urusannya. Langsung aja baca lanjutannya gaeess, jangan bosen baca ya meskipun ini masih jelek pake banget, semrawut acakadut, kritik saran boleh kok di kolom komentar. Nggak dimarahin, justru malah aku terima kasih banget udah diperhatiin *kedip-kedip* #Yakan intermezzo jadi panjang gini. Udah ah :D


Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali, karena ruang kamarku yang berada paling depan, bisa kudengar suara itu sangat jelas. Mata masih enggan untuk terbuka. Kukira, suara itu terdengar dari alam mimpi, tetapi semakin lama semakin terdengar keras.

Kubuka mata pelan dan kuedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Meski korden jendela sampingku belum terbuka, tetapi bisa terlihat di luar sana sudah sangat terang. Cahaya mentari sudah masuk ke celah-celah ventilasi kamar.

Mungkin pagi ini mama masih belanja, dari tadi suara ketukan pintu itu masih terdengar dan tidak ada yang menyahut dari dalam. Kusibakkan selimut lalu berjalan gontai sambil mengusap-usap kedua mata. Dengan malas kubuka pintu depan, terlihat ada sosok lelaki yang memunggungi. Tanpa dia membalikkan badan, aku sudah tahu siapa dia. Dari caranya berdiri, potongan rambut, bahkan kaos jersey kesukaan yang dipakainya saat ini.
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

Foto saya
Anik's Blog
Hi, ini tempat pulangnya Anik. Berisi hal-hal random yang rasanya perlu ditulis.
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Tumblr

Member Of

1minggu1cerita

Categories

  • Blogwalking
  • Calon Ibu
  • FIKSI
  • Flashback
  • Kerelawanan
  • Obrolan Cermin
  • Review Ala-Ala
  • Sudut Pandang Pernikahan

Postingan Populer

  • Ketika Aku Masih Diingat
  • Butiran Candu
  • Sepucuk Surat Merah Hati (2)
  • (CERPEN) Tangisan di Rumah Marni
  • Teman Main Kirana

Blog Archive

  • Maret 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Juli 2023 (2)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (2)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (4)
  • Juli 2020 (3)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (17)
  • April 2020 (4)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (9)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (1)
  • Maret 2019 (7)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • Oktober 2018 (6)
  • Maret 2018 (22)
  • Februari 2018 (14)
  • Agustus 2017 (7)
  • Juli 2017 (11)
  • Juni 2017 (11)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (14)
  • Desember 2016 (12)
  • November 2016 (2)

Created with by ThemeXpose