Suaraku
melengking keras saat jarum itu menusuk kulit. Tempat ini lebih layak disebut
tempat konveksi, dibandingkan rumah sakit. Di sini kulit manusia beda tipis
dengan potongan kain yang bisa ditusuk jarum berulang kali.
Para
wanita berseragam putih menjelma seperti malaikat berulang kali datang tanpa
iba membawa pil-pil pahit. Membawa nampan makanan yang nantinya akan jadi bahan
mainan para pasien.
Aku
hanya memandangi mereka dengan tatapan kosong. Tidak menyangka, tempat ini
menjadi bagian dari cerita hidup. Meski sebenarnya merutuki diri sendiri,
kenapa aku rela menjebloskan diri ke tempat ini, tetapi aku merasa lebih nyaman
di sini.
Aku
sudah lelah berpura-pura terlihat lapang dada. Itu malah membuat kepingan
hatiku semakin retak tak berdaya.

