facebook twitter instagram Tumblr

Anik's Blog

"Sebenarnya kedatanganmu ke sini untuk apa?" tanya Anna sambil membetulkan letak kaca mata minusnya. Lalu dia mengunyah sate usus yang sudah tersaji di setiap meja. Aku melihatnya sekilas dari samping, terlihat lensa kaca matanya sudah menebal menandakan minusnya makin besar. 

Aku belum menjawab, masih ada sedotan yang menyumpal mulutku. "Mau ngobrol sama kamu aja, emang nggak boleh?" Aku meletakkan gelas es jeruk yang buliran embunnya menetes ke meja. Lalu menopang dagu dengan posisi duduk menyerong ke arahnya. 

"Masa sih? Kamu nggak lagi ada masalah, kan?" 

Aku tertawa. Dalam hati mengamini pertanyaannya. Tapi untuk kali ini, aku belum membuka bicara untuk menceritakan segala gundahku. Entah, berada di dekat Anna aku tak ingin cerita apa-apa. Padahal ini adalah waktu yang aku tunggu-tunggu untuk menceritakan segala isi kepalaku yang telah penuh. Tentang kisah cintaku yang rumit, ditambah orangtua yang mendesakku untuk segera menikah, keluarga yang mengataiku wanita lupa menikah, atau tetangga yang tanpa berdosannya meledekku ketika berpapasan di depan rumah. Kepada Anna, aku ingin memulangkan segala cerita ini. Entah kenapa, aku merasa ingin dan harus mengunjunginya sampai aku mengambil cuti kerja. 

"Nggak kok." Aku berbohong. Entah kenapa, aku belum juga ingin cerita. Padahal ini hari kelima di kotanya, yang berarti hari terakhir aku bersinggah. Tiket kereta pulangku bertanggalkan esok hari. Mungkin nanti malam aku akan cerita agar menjadi kesan terakhir yang manis dan penuh haru. 

Pesanan soto daging kami belum datang, ada banyak pembeli yang harus juga dilayani. Tempat makan ini bisa dikatakan sudah luas, tapi masih saja terasa sempit karena membludaknya para pembeli.

Beberapa hari aku sudah menghabiskan waktu bersama Anna dan suaminya. Mereka orang yang riuh dalam obrolan. Membicarakan banyak hal random mulai tentang pekarangan rumah sampai hal jauh sampai pluto. Sesepele tentang bangunan tua yang kami lewati atau perilaku orang-orang berkendara juga tumpah menjadi obrolan yang melebar kemana-mana. Melihat hal itu aku berpikir, tidak ada yang menjadi rahasia di pikiran mereka. Satu sama lain dipersilakan tahu apapun yang terbesit di benak mereka.

Anna adalah teman yang aku kenal setahun lalu di sebuah seminar kepenulisan di Surabaya. Perempuan asli Jogja yang saat itu sedang berkunjung ke rumah mertuanya lalu tertarik ikut sebuah seminar. Di sana kami berkenalan lalu bertukar kontak. Kita tidak terlalu sering berkomunikasi, tapi sekali saja kami terhubung melalui whatsapp pesan kami bisa panjang layaknya sebuah cerpen. Dari situlah keakraban kami terjalin. 

Setelah dua hari aku sampai Jogja dan main ke tempatnya, aku baru tahu banyak hal tentangnya. Dia terpilih menjadi manusia yang lahir di keluarga yg dilimpahi kekayaan. Dia tumbuh menjadi orang yang cerdas dan berhati bak ibu peri. Aku selalu suka dengan cara berpikir dan kelugasannya menjelaskan banyak hal kepadaku. Perempuan yang sudah melahap banyak buku. Sudah ada ratusan eksemplar buku berbagai topik di rumahnya. Aku melihat rak berjejer rapi di ruang khusus pada sudut rumahnya. Selama ini Anna memang tidak memperlihatkan kehidupannya kepadaku. Dia jarang bercerita tentang masalah pribadi, meski kita sudah terbilang akrab meski hanya riuh di dunia maya. Dia hanya sering berbagi tentang kegiatan menulisnya.

Ditambah lagi, dia bertakdir dengan laki-laki yang penuh dengan kasih sayang dan limpahan wawasan. Mereka berdua menjadi keluarga kecil yang bertumbuh dengan melakukan banyak hal kebaikan di yayasan sosial. Setelah mendengar banyak ceritanya beberapa hari ini aku berpikir ingin menjadi dia. Tinggal di rumah megah di sebuah perumahan bergengsi di Sleman dengan suami yang meneduhkan. Hidupnya penuh dengan limpahan kemudahan dan kenikmatan. 

Kemarin-kemarin, aku yang lebih sering menghubunginya terlebih dulu untuk bercerita berbagai macam bising di kepalaku yang membutuhkan tempat untuk diluapkan. Dengannya aku merasa teduh. 

Pesanan soto kami datang. Uapnya mengangkasa dan aroma rempahnya menguar menambah selera. Sambil menyuapkan sendok demi sendok nasi soto, kami mengobrolkan banyak hal. Sesekali aku melempar pandangan ke jalanan. Beruntung kami mendapat tempat duduk yang dekat dengan pintu masuk. Pandangan kami bisa leluasa melihat jalanan yang sedang padat-padatnya di perempatan lampu merah yang hanya berjarak 3 meter di depan tempat makan ini. Netraku menangkap seorang anak kecil sekitar usia tiga tahunan duduk di atas motor di tengah kedua orang yang mungkin itu adalah orangtuanya. Matanya hitam membulat. Sepertinya dia baru selesai dimandikan, terlihat dari wajahnya yang penuh dengan bedak putih yang sengaja tidak diratakan. Cemong memenuhi wajah menambah kesan gemas pada pipi gembilnya. 

Kedua ujung bibirku sedikit melengkungkan senyum yang tertahan. Suka melihat kelucuannya. Lalu aku mengedarkan pandangan ke kedua pasangan di sampingku, aku terkejut ketika mendapati suami Anna juga memandangi anak lucu itu. Kudapati Anna sibuk dengan nasi soto sambil sesekali mengecek ponsel. Suaminya tidak mengatakan apapun, terlihat jelas bahwa dia juga melempar senyum ke anak itu meski si anak tidak melihatnya. Ketidaktahuan istrinya dia manfaatkan untuk memandangi anak itu sepuasnya. 

Ternyata aku salah jika mengira semua hal di kepala mereka mudah tertumpah. Ternyata masih ada filter di nurani suami Anna untuk menyeleksi apa saja yang pantas dikatakan. Tanpa harus bertanya aku paham, kenapa laki-laki itu tidak menceritakan kelucuan anak itu kepada istrinya. Tidak selamanya yang menurut kita lucu itu menggemaskan, bisa jadi malah menimbulkan salah paham. Si suami mungkin saja khawatir kelucuan sore itu menjadi penabur perih pada kesedihan Anna yang masih menanti kehadiran buah hati. 

Aku menjadi teringat beberapa kali di pesan whatsapp Anna mengatakan, "Doakan aku segera dipercaya menjadi ibu ya, Dea!" Aku mengamininya.

Kupikir, perempuan yang selalu menjadi tempatku cerita itu adalah orang yang kuat. Dia bijak untuk menghadapi segala masalahnya. Ternyata aku terlalu cepat berasumsi. Melalui pesan singkat, aku tidak bisa melihat sorot mata dan air mukanya. Tidak bisa benar-benar paham bagaimana perasaannya ketika aku tidak mendengar langsung getar suaranya ketika bercerita. Kupikir kalimat mohon didoakan adalah kata-kata Anna yang sedang ingin menambahkan obrolan. Karena aku tidak melihat raut sendunya atau keluhan-keluhannya padaku. Kupikir, dia selama ini masih baik-baik saja. 

Beberapa hari bersama mereka, tidak pernah ada obrolan tentang anak di antara kita bertiga. Aku sangat menjaga hal itu, mungkin juga suaminya. Hanya pernah sekali Anna mengatakan ketika kita berada di mobil dalam perjalanan, "Puluhan komik di kamarku nanti buat anakku." Lalu suara dalam mobil hening. Aku dan suaminya mungkin sama-sama bingung memberi komentar dengan kalimat apa. 

Malam harinya aku dan Anna memiliki waktu berdua di ruang tamunya. Suaminya sedang sibuk mengerjakan proyek.

"Suamiku selama ini tidak pernah menuntut apa-apa. Aku boleh bekerja, boleh di rumah, boleh ikut kegiatan apapun. Bahkan, dia juga tidak memburu-buru untuk memiliki keturunan." Mengalir segala ceritanya. Dia mencuri napas sejenak, lalu melanjutkan kisahnya. 

"Beruntungnya aku, mertua dan keluarga juga tidak pernah mengatakan komentar miring tentang aku yang belum hamil. Tapi aku sering dihantui rasa bersalah karena terlalu sibuk bekerja. Sampai aku kepikiran untuk fokus saja menjadi ibu rumah tangga dan segera melakukan promil. Mungkin ini semua salahku karena sibuk berambisi berkegiatan di luar." Sejak saat itu, aku baru paham apa yang sebenarnya dia rasakan. Orang-orang di sekitarnya begitu baik, namun dirinya sendiri yang belum bisa menerima keadaannya. 

"Tapi di sisi lain, aku juga ingin melakukan banyak hal di yayasan tempatku bekerja. Aku senang berkegiatan di sana, bertemu banyak orang." 

Detik itu juga aku merasa bersalah, pernah merasa ingin menjadi orang lain yang hidupnya terlihat lebih beruntung. Padahal aku yang lupa, semua manusia lahir dengan sepaket nikmat dan ujiannya masing-masing. Seperti salah satu firman-Nya, Dan yang ada pada sisi Allah adalah yang lebih baik. 

Sekoper cerita yang telah kukemas tidak jadi kukeluarkan isinya. Untuk kali ini, aku melebarkan ruang dan telinga untuk Anna. Meluaskan hatiku untuk menampung segala ceritanya. Semua orang sedang menanti pada versi takdirnya masing-masing. Aku menanti jodoh, Anna menanti keturunan. Pantas saja jika kemarin-kemarin kaki dan hatiku rasanya ingin segera mengunjunginya, ternyata melihat mata Anna membasah malam ini adalah jawabannya. 


Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
"Tapi, aku cinta..," ucapku ragu-ragu. Lirih tapi aku yakin masih tertangkap oleh pendengaran Lidya. Rumahnya lengang malam ini hanya dihuni oleh Lidya dan aku yang menumpang menginap.

"Han, cinta itu apa sih sebenernya? Apa yang kamu rasain itu bener-bener cinta atau hanya ketertarikan, obsesi ingin memiliki, atau bahkan rasa ketergantungan karena sudah lama menjalin hubungan dengannya?"

Ucapan Lidya seperti baja yang menghantam keras pikiranku. Beberapa saat kemudian manusia macam aku yang mengaku sudah baik dalam mencintai merasa bodoh untuk menjawab pertanyaannya. Lidya tahu aku tak punya jawaban atas pertanyaanya. Dilihatinya aku yang sedang termenung sibuk dengan pikiranku sendiri.

"Atau jangan-jangan, kita tahu arti cinta setelah menikah. Menemukan arti cinta yang sebenarnya. Kamu yakin apa yang dia lakukan ke kamu itu karena cinta?"

Aku diam, Lidya amat paham jika sudah seperti ini berarti aku ingin berbicara dengan diri sendiri. Suasana rumahnya semakin sunyi, suara kendaraan dan klakson terdengar berkejaran di luar. Ada cangkir teh semeja di antara dua perempuan yang keduanya sama-sama mempersilakan satu sama lain untuk berbicara dengan sunyi. 

***
Aku menatap lama sebuah pamflet di media sosial yang bertuliskan pembukaan pendaftaran pengabdian di pedalaman. Jauh dalam hati kecilku aku tertarik, tapi seandainya aku mendaftar berarti menabuh genderang perang kedua kalinya. Baru seminggu yang lalu pertengkaran sengitku dan Dimas berkobar seperti nyala api yang melalap kesabaranku. 

"Untuk apa membuang waktu demi orang lain yang tidak kamu kenal, dan bahkan kamu juga tidak digaji," katanya ketika aku menceritakan ingin mendaftar pengabdian di Lombok. Aku ingin merasakan kehangatan suku Sasak selama dua minggu dan melihat lebih dekat ketinggian Gunung Rinjani yang begitu pongahnya. ⁣Mengambil cuti kerja yang sudah lama tak kumanfaatkan. Menepi dari kebisingan kota. 

Hubunganku dengan Dimas sudah hitungan tahun meski belum genap menghabiskan sepuluh jari. Selama itu juga perasaanku mengakar kuat sampai aku menahan untuk mengalah, menuruti segala kemauannya. Tidak mengikuti promosi jabatan di kantor, tidak bergabung di komunitas sosial agar tidak menyita waktu katanya, dan yang kemarin membatalkan rencanaku mendaftar pengabdian. 

Katanya, nanti dia ingin aku menjadi ibu rumah tangga. Sehingga aku tidak perlu memiliki karir yang cemerlang, daripada nanti aku merasa sayang untuk meninggalkan pekerjaan setelah menikah, begitu alasannya. 

"Yasudah, kalau begitu, aku hanya ingin mengikuti kegiatan sosial."

Kupikir dia akan menyukai keinginanku, rupanya alasan kemanusiaan juga tak cukup meluluhkan hatinya. Aku merasa terkungkung hidup dalam penjaranya. 

Lidya benar apakah yang dia lakukan itu dibenarkan atas nama cinta? Suara-suara itu timbul dan hilang dari pikiranku. Sampai akhirnya aku memilih untuk menepi dari kebisingan suara Dimas yang lebih dominan mengatur hidupku. 

"Kamu harus tegas ambil keputusan, maumu apa lalu putuskan." ucap Lidya malam itu. 

"Han, menikah itu nggak hanya butuh cinta, tapi juga butuh orang yang setujuan. Kamu merasa Dimas setujuan sama kamu nggak?"

Ini masih belum menikah, bagaimana nanti? 

Berhari-hari aku berkelahi dengan batinku sendiri. Kucoba sisihkan perasaan-perasaan untuk Dimas. Menilik perjalanan ke belakang bersamanya. Dan aku merasa kehilangan diriku sendiri.

***
"Han, itu artinya kamu lolos?" Pesan whatsapp Lidya mendarat di ponselku setelah tiga menit lalu aku mengirim foto email yang kuterima dari yayasan sosial pendidikan nasional.

Berbulan-bulan aku bungkam tentang ini dari Dimas dan Lidya. Sibuk menyiapkan essai dan persyaratan seleksi lain tanpa mereka tahu. Setelah benar-benar lolos kali ini baru aku memberitahunya tanpa mengajak bertemu seperti yang pernah terjadi. Daripada hatiku goyah dan tunduk patuh karena tersihir dengan ucapan Dimas yang mengandung mantra hipnotis. 

"Iya lolos." Kubalas lalu bercentang biru dengan cepat. Kulihat di ujung sana Lidya sedang mengetik pesan.

"Boleh sama Dimas?"

"Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa, dia bukan suamiku yang harus aku turuti kemauannnya."

"Kamu serius? Ini pengabdiannya setahun lho, Han."

Bersamaan dengan itu pesan Dimas masuk.

"Kalau kamu mau pergi, pergilah. Tapi bukan lagi aku yang menjadi tempat pulangmu."

Ada yang perih, tapi ini adalah konsekuensi atas hal yang aku kupilih. Keputusan mahal yang harus kubayar dengan mengorbankan hal besar. 

Selesai~

Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar

Mata Hana berbinar menceritakan lelaki yang baru saja mengajaknya makan siang. Aku menelan bahagia yang dicipta melalui ceritanya. Dulu aku juga pernah diperlakukan sedemikian manisnya. Seolah hanya aku perempuan yg paling dicinta. Tanpa harus bertanya pada teman kerjaku itu, aku sudah tahu tempat favorit lelaki itu untuk makan siang. Segelas minuman favorit apa yang tak absen dipesan untuk menuntaskan dahaganya. Menu pesanan apa yang tersuguh untuknya. ⁣

Tanpa memintanya bercerita, aku juga sudah hafal di sudut mall kota, lelaki itu suka menghabiskan waktu ketika weekend seperti anak-anak yang lepas dari jam sekolah. Namun, aku memilih untuk tidak menyela ceritanya. Kupasang telinga dan memasang air muka seolah aku tak pernah tahu apa-apa. Aku tak ingin perempuan berdagu lancip itu cemburu jika tahu aku lebih banyak tahu tentang lelakinya. Yang Hana tahu aku adalah teman kuliah lelaki itu. Aku bisa menebak jalan cerita mereka nanti seperti apa. Tapi kusimpan sendiri, karena aku tidak mau dianggap seperti cenayang.⁣

***⁣
Aku bisa merasakan hawa panas yang menyelubungi tubuhnya dan sendu yang menghiasi wajah Hana. Terbata-bata di sela sesenggukan, mulut tipis itu berulang kali menceritakan lelakinya. Membuka kenangan lama yg berhasil mengaduk-aduk perasaan. Meski tanpa harus selesai mendengarkan, aku sudah khatam perihal tentang lelaki itu. Lelaki yg paling pandai melakukan praktik pencurian hati, tapi juga lebih pandai memporak-porandakan perasaan. ⁣
Aku bisa tahu tanpa harus menyelidiki, lelaki itu meninggalkan Hana bkn karena kesibukan, tp ada hati lain yg lebih menarik untuk disinggahinya kesekian kali. Aku membisu mendengarkan ceritanya. ⁣

Berulang kali dia merutuki diri sendiri. Menyesali kenapa dulu begitu mudahnya menerima ajakan perkenalan dengan lelaki melalui media sosial. Diam-diam di belakangku mereka berpacaran. Separuh tahun lembaran tentang mereka baru dibuka kepadaku oleh Hana. Aku terperanjat, tapi kuperlihatkan bahwa aku baik-baik saja & turut bahagia. Meski sebenarnya detak jantungku tak beraturan ketika saat itu tahu lelaki yang diceritakannya adalah mantanku tnp dia ketahui sampai saat ini.

Selesai~

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
"Ada tempat yang adem di kota panas ini." Satu pesan whatsapp darinya mendarat di ponselku. 

"Dimana?" Aku segera membalasnya. 

"Coba tebak dimana!" 

"Hmmm, entah."

"Pelabuhan."

"Oh ya? Aku belum pernah ke sana."

"Minggu depan kamu kuantar ke sana," janjinya. 

Untuk kesekian kali, dia menepati janjinya. Dan sore itu, di pelabuhan yang dia janjikan, aku dihadiahi senja. Meski pada awalnya senja bukanlah hal yang dia tawarkan untuk bisa kulihat. 

Orang-orang berebut memotret senja, aku duduk di sebelahnya sambil mengamati orang-orang dengan berbagai ekspresinya.

"Kamu nggak mau foto senja?"

"Cara orang menikmati senja itu berbagai macam, ada yang difoto, dijadikan puisi, atau hanya dilihat seperti aku ini."

"Foto aja gih, mumpung di sini. Bagus. Apalagi ada siluet banyak kapal sandar di bawah."

Aku menurut. Beberapa kali mencuri lekuk indahnya sebelum senja kembali ke peraduannya. 

***
"Foto senja di pelabuhan kemarin hilang." Aku mengirimkan pesan kepadanya. Panik. Lucu ya, merasa kehilangan pada apa yang awalnya tidak ingin kusimpan. Harusnya aku merasa biasa saja. 

"Bagaimana bisa?"

"Entah." 

"Kapan-kapan kuantar lagi ke sana." 

"Boleh."

Mungkin ini pertanda alam agar aku kembali lagi ke sana bersama dia. Menikmati langit kebiru-biruan dengan semburat kemerahan. Matahari hampir terbenam dengan kilau keemasan, terlihat seperti akan tenggelam ke permukaan laut. 

Tapi nyatanya, bukan hanya foto senja yang hilang. Seminggu kemudian dia telah lenyap seperti tertelan bumi. Tanpa kabar. Tidak ada lagi sapa atau tanya. Entah, dia kemana. Hilang tanpa ada jejak atau melambaikan tangan. Tak sempat bertanya kepadaku, apakah sudah siap tanpanya. 

Prasangkaku dulu salah. Foto senja yang hilang atau tak sengaja kubuang itu, sepertinya menjadi pertanda bahwa hal tentang dia tak perlu disimpan, cukup diingat menjadi bagian dalam hidupku. Dia memilih senja untuk menjadi akhir pertemuan kita. Matahari meninggalkan rupa-rupa manusia yang lelah bergelut dengan nasib seharian. Seperti halnya dia, meninggalkan aku yang masih berkelahi dengan diri sendiri tentang perasaan ini. 

Setiap kedatangan memberikan kita aba-aba untuk siap kehilangan. Meski kadang, petunjuk hidup yang ambigu membuat aku tak bisa membedakan mana tanda berhenti atau terus berjalan. Aku tak bisa sekadar menerka-nerka, mana bagian penutup dari kisah ini. Sampai akhirnya, dia pergi dan aku belum sempat berkemas-kemas. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tangis anaknya melengking terhitung sangat lama sejak tadi. Dia biarkan. Marni tidak perlu khawatir tetangga kanan kiri rumah akan protes mendengarnya. Mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan tangisan bayi sejak dua tahun yang lalu. Bahkan bukan hanya itu, suara jeritan Marni atau barang-barang melayang sudah menjadi hal yang biasa bagi para tetangganya. Dulu mulanya mereka kaget tak terkira, lalu lama-lama terbiasa berdampingan dengan bagian hidup Marni. 

Marni amat tahu gendongan atau pelukan darinya tidak akan mampu meredakan tangis anak keduanya. Anak itu hanya ingin susu untuk mengisi lambung yang ukurannya masih tidak seberapa itu. Susu formula habis, tidak ada satu butir pun yang tersisa di kemasannya. Tubuhnya yang kurus kering juga sudah tidak mampu memproduksi air susu. 

Kehilangan anak pertama karena dipaksa untuk dirawat saudaranya ternyata menjadi hal yang amat disyukurinya saat ini. Seandainya dia harus mengasuh dua balita, tambah pecah kepalanya. Saudaranya khawatir akan seperti apa anak yang diasuh perempuan seperti Marni.

Marni merasa buntu. Biasanya air gula atau air rebusan beras bisa menjadi pengganti susu, tapi saat ini gula dan beras pun sudah tandas. Marni sudah tidak punya muka untuk berhutang di warung sebelah rumah. Nominalnya yang mencapai ratusan ribu belum juga terlunasi. 

Tak perlu bertanya kemana suami Marni, itu akan menambah perih lukanya. Memiliki suami atau tidak baginya sama saja. Nafkah suaminya seperti janji kepala desa yang akan memberikan bantuan, tak kunjung datang. Masih bagus kepala desa menyisakan janji, sedangkan suami Marni berjanji akan menafkahi saja tidak berani. Entah suaminya berfoya-foya di meja perjudian atau membeli kenikmatan perempuan, Marni tidak peduli. Suaminya mau pulang ke rumah seminggu sekali saja rasanya masih beruntung. Meski Marni bisa menebak, suaminya pulang bukan karena ingin memberi nafkah atau merindukan keluarga kecilnya, tapi karena uangnya sudah tinggal sedikit. Itu berarti sedang tidak sanggup menebus kenikmatan pada perempuan di warung remang-remang. Lalu pada Marni dia bisa memuaskan hasrat tanpa harus menguras kantong. Meski wajah Marni tak cantik di matanya, kulit tubuhnya sudah kendor kemana-mana, setidaknya dia bisa puas. 

Marni berjalan lunglai ke dapur. Mengisi botol minum anaknya dengan air tawar. Dia tahu anaknya tidak akan bisa dibohongi. Anak sekecil itu tahu mana rasa manis dan air tanpa rasa. Dia jejalkan begitu saja dot itu ke mulut mungil anaknya. Tangisnya mereda. Mulutnya langsung menyedot air itu keras-keras. Ternyata anak kecil sama saja seperti orang dewasa, tak peduli apa rasanya yang penting bisa membasahi tenggorokannya yang kering dan mengisi lambungnya yang meronta-ronta. 

Suara pintu depan diketuk begitu keras. Marni meninggalkan anaknya di kamar lalu bergegas membukakan pintu. Dia tidak berharap itu adalah suaminya daripada menelan kekecewaan. Setelah daun pintu terbuka lebar, dia melihat Bu Darmi yang ada di depan. 

"Mar, ini Mbakmu ngirim uang buat kamu. Lima ratus ribu, coba kamu hitung dulu." Bu Darmi mengulurkan uang lembar biru yang masih bagus seperti baru diambil dari mesin ATM.

"Iya, genap lima ratus ribu. Terima kasih, Bu Darmi."

"Sama-sama. Ini sekalian kubelikan susu untuk anakmu. Biasanya anakmu minum susu merk ini, kan?" Ada sekotak susu formula di dalam kantong plastik hitam yang diberikan Bu Darmi.

"Bu Darmi kok repot-repot." Ini memang bukan pertama kalinya tetangga kanan kiri rumah memberi bantuan untuknya. 

"Bu, ini uangnya untuk ganti susu, ya." Marni mengembalikan uang satu lembar biru.

"Halah, ndak usah. Ndak apa-apa." Bu Darmi mendorong tangan Marni. 

"Saya ndak tahu harus bagaimana berterima kasih kepada Bu Darmi dan tetangga lainnya." Tanpa malu Marni mengusap matanya yang membasah. Sudah menjadi rahasia umum tentang apa yang terjadi dengan rumah tangganya. Uang dari kakak-kakaknya juga tidak sepenuhnya bisa mencukupi kebutuhan.

"Ya sudah, anakmu nangis segera buatkan susu. Aku pulang dulu."  Bu Darmi berjalan terburu-buru keluar dari pelataran rumah peninggalan almarhum Bapak Marni. 

Marni segera ke dapur membuatkan susu untuk anaknya. Dia mengusap-usap mata agar air susu tidak terasa asin karena tetesan air matanya. 

Berulang kali Marni merutuki dirinya sendiri. Dia merasa menjadi anak terakhir yang hanya mendapat sisa-sisa takdir dari ketiga saudaranya. Kedua kakak laki-lakinya sukses menjadi karyawan BUMN, dan kakak perempuannya yang lebih beruntung memiliki paras cantik menjadi pramugari. Sedangkan dia, hanya perempuan yang kata orang otaknya tidak penuh. Sekolah sampai tamat SD saja sudah beruntung. Meski nilainya pas-pasan tetap tidak bisa untuk mempertanggungjawabkan kemampuan akademiknya. Fisiknya juga jauh berbeda dengan kakaknya. Kulit kecoklatan dan wajah yang tidak ada manis-manisnya. Lalu kedua almarhum orangtuanya kala itu tidak menyekolahkan dia lagi karena dianggapnya sia-sia menyekolahkan anak yang tidak bisa maksimal berpikir. Marni dibiarkan di rumah melakukan apapun sesukanya bersama pembantu, lalu ditinggal kedua orangtuanya bekerja sebagai abdi negara di kantor dinas. 

Mungkin memiliki anak seperti Marni adalah aib bagi mereka. Nasibnya tambah memburuk ketika perempuan polos itu percaya rayuan Somad yang menginginkan harta orangtuanya. Laki-laki yang dikenalkan tetangganya. Awalnya saat orangtua Marni masih ada, Somad memperlakukan Marni dengan baik. Dia terlihat seperti laki-laki santun yang bertanggung jawab. Orangtua Marni tidak peduli meski Somad hanya buruh bangunan, asalkan ada yang mau dengan anaknya, mereka menyetujuinya.  

Sampai akhirnya orangtua Marni meninggal pada kecelakaan tunggal di tol. Marni kelimpungan harus hidup dengan siapa sedangkan kakak-kakaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri di pulau seberang. Hampir sebagian barang-barang di rumah dijual suaminya untuk menambal kekurangan uang untuk bersenang-senang. Beruntung rumah itu masih utuh dan sertifikat tanah disembunyikan oleh Marni. Hanya rumah itu harta Marni satu-satunya. Murni mengaku kepada saudaranya dia yang menjual semuanya untuk memenuhi biaya lahiran dan anaknya.

Kakak-kakak Marni bergantian mengirim uang karena iba mendengar keadaan ekonomi Marni dari Bu Darmi. Hanya saja, Marni melarang Bu Darmi untuk menceritakan tabiat suaminya. Uang dari mereka disembunyikan Marni agar suaminya tidak tahu. Berulang kali Marni memiliki ponsel hasil dibelikan kakaknya, dirampas dan dijual oleh suaminya. Lalu Marni mengirim kabar apapun kepada saudaranya melalui Bu Darmi. Marni beralasan butuh uang sehingga menjual ponselnya. Beruntungnya, pajak tanah dan rumah ditanggung saudaranya. Dia tidak terlalu banyak menggunakan listrik agar tidak membengkak tagihan bulanan. 

Marni melihat botol yang berisi air tawar telah habis dan tergeletak di samping anaknya yang nangis berguling-guling. Dia mengganti dengan botol yang sudah diisi susu penuh. Anaknya diam lagi. Lalu Marni menggendongnya, diajak ke toko dekat rumah untuk membayar sebagian hutang dan belanja bahan pokok. 

"Mar, kamu ndak pengen cerai sama suamimu?" tanya Bu Budi pemilik toko langganannya berhutang.

Marni diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Dia memaklumi mulut Bu Budi yang kalau bicara seenak jidatnya sendiri. Apalagi tahu Marni orang yang tidak akan melawan, tambah sesuka hatinya dia bicara apa. 

"Kamu itu lho Mar, sering disiksa sama dia. Dipukul sampai kepalamu biru itu. Kasian anakmu harus dengar kamu bertengkar sama suamimu terus."

Marni mendengarkan sambil memilih barang yang dibelinya di rak toko. 

"Nanti Mar, kamu kerja di tokoku sini nggak apa-apa. Bantu-bantu aku atau di cateringnya anakku si Lila. Kamu bisa hidup bebas dan mandiri."

Bekerja memang tidak ada di kamus Marni. Dia selama ini tidak tahu cara bekerja sama atau berkomunikasi dengan orang. Dunianya hanya di rumahnya sendiri. Beli barang, masak, makan, hanya itu yang dia tahu. Dari pengantin baru pun Marni hanya pernah merasakan diajak jalan di pasar malam oleh suaminya dalam hitungan jari saat orangtuanya masih ada. 

"Kalo aku jadi kamu dulu ndak mau nikah sama Somad, Mar. Mobilnya orangtuamu dan barang-barang di rumahmu lho sudah ludes dijual dia. Kakak-kakakmu sudah punya kehidupan sendiri di pulau orang. Ndak usah nambah beban dirimu sendiri."

Marni tetap tidak menjawab ocehan Bu Budi. Tetangganya sudah kenal Marni dari dulu memang seperti itu, tidak bisa diajak ngobrol. Tidak ada yang bisa tahu sebenarnya pikiran Marni itu ada isinya atau tidak. 

Sepulang dari toko Bu Budi, pikiran Marni berkecamuk. Benar juga apa yang dikatakan Bu Budi, pikirnya. Tapi apakah Somad mau menceraikannya. Bertahan dengan Marni, si Somad masih bisa merampas uang dari kakaknya dan pulang ke rumah meski dia tidak ikut sepeser pun andil dalam pembangunannya. Kalau dia cerai dari Marni, dia sudah tidak punya rumah. Pulang ke orangtuanya juga akan diusir karena tahu anaknya malas kerja, tukang judi dan main perempuan.

Malam panjang Marni lalui tanpa lelapnya mata. Dia sudah merasa lelah lima tahu harus hidup dengan siksaan seperti ini. Bagi Marni, hanya Somad dan rumah ini yang dia miliki. Kalau dia berpisah dengan laki-laki gondrong itu, dia sudah tak memiliki siapa-siapa. Saudara dari bapak atau ibunya juga sudah tidak peduli lagi dengannya. Tapi kalau dipikir-pikir, hidup Marni akan lebih baik tanpa siksaan dari Somad. Dia tidak akan lagi bingung menyembunyikan uangnya agar tidak dicuri Somad. 

Seminggu berlalu, hari ini Marni bertekad untuk bisa cerai dari suaminya. Kalau perlu Marni meminjam uang ke tetangga atau meminta uang ke saudaranya untuk bisa mengurus perceraian. Berhari-hari Marni sudah memikirkannya dengan matang. Dia sudah yakin dengan pilihannya. Dia ke toko Bu Budi untuk berbelanja sekaligus bertanya, apa yang harus dipersiapkan untuk mengurus perceraian. Dia berjalan dengan riang menemui Bu Budi, seperti layaknya akan menemui kehidupan baru. Sebentar lagi dia bisa bernapas lega tanpa Somad. Dia akan belajar menjadi perempuan seperti pada umumnya yang bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan anaknya. Rumahnya akan lebih tenang tanpa jeritan kesakitan saat dipukul atau dilempar barang oleh suaminya. 

"Eh, Mar. Mau beli apa?" 

Marni masih diam. Ada beberapa orang di toko Bu Budi, Marni sungkan untuk bertanya. Dia pura-pura memilih barang sambil menunggu orang-orang pulang. 

"Bu Darmi, kemarin ada barang baru pembalut sirih. Siapa tahu Bu Darmi suka. Lihat saja di rak pojok, Bu." Suara Bu Budi membuat Marni terdiam sesaat.

Mengajak pikirannya mengingat, rasanya dia sudah lama tidak beli pembalut. Dia juga merasa beberapa bulan ini tidak menstruasi. Tubuhnya berkeringat. Diingat-ingatnya, selama hamil dua anak ini dia memang tidak merasa apa-apa ketika hamil muda. Dia akan merasa mual memasuki bulan keempat atau kelima. Apa benar aku hamil, batinnya.

Dia keluar dari toko Bu Budi dengan anak di gendongannya. Berjalan cepat ke apotek dekat ujung gang untuk membeli alat tes kehamilan.

"Mar, ndak jadi belanja, Mar?" Suara Bu Budi diabaikannya.

Tubuhnya hampir lemas, gemetar. Pikirannya berkecamuk. Tidak, tidak boleh, batinnya. Bayangan bahagia ketika berjalan ke toko Bu Budi sudah melebur. Jantungnya berdegup tak beraturan, napasnya tersengal-sengal. Dia berjalan setengah berlari. Anak dalam gendongannya melihat ibunya dengan tatapan polos.

Marni datang dengan malu-malu menyebut sesuatu yang akan dibelinya. Tubuh berkeringat, bingung menelusup memporak-porandakan pikiran dan hatinya.

Besok paginya dengan tangan gemetar dia memasukkan alat tes itu ke urinnya. Beberapa saat kemudian, dia mengambil alat tersebut.

"Mati aku!"

Tubuh Marni lemas. Air mata membelah tebing pipinya. Melanjutkan atau mematikan kehidupan sama-sama membutuhkan uang. Dia membentur-benturkan kepalanya di dinding kamar mandi. Andai dia lebih pintar sedikit untuk mengenal apa itu program KB. Beban hidupnya bertambah lagi, akan ada tangisan di rumahnya, dua anaknya dan tangisan Marni.

Selesai.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
fadelisme.files.wordpress.com

Setiap langit sudah lama memperlihatkan gelapnya, aku mendengar suara orang menangis. Tidak terlalu keras, hanya isakan yang sengaja dipelankan. Lama sekali suara itu menangis. Kudengar dia juga sedang berbicara terbata-bata, entah berbicara dengan siapa. Setahuku kamar yang berada di pojok itu hanya dihuni oleh seorang gadis. Hanya pemilik kamar itulah yang sering bersuara di malam hari menjelang pagi. Kamar lainnya senyap yang terdengar hanya dengkuran pemiliknya.

Pertama kali mendengarnya, kukira ada seorang kawannya yang sedang menginap. Tapi mana mungkin kawannya bisa menginap setiap hari di kamar kosan itu. Mengingat peraturan dari pemilik kos tidak boleh membawa teman menginap lebih dari tiga hari, kecuali jika kawan itu mau membayar separo harga kamar. Begitulah, percakapan tentang peraturan kos yang pernah kudengar dari beberapa anak di sini.

Aku sudah lama hidup diam-diam di rumah kosan besar ini. Bahkan, aku sudah hafal nama-nama pemilik setiap kamar. Tanpa mereka ketahui, aku sering menguping obrolan mereka. Entah itu berbicara tentang laki-laki, keluarga, teman, kuliah, bahkan urusan keuangan. Sedikit-sedikit aku mencuri ilmu dari mereka. Saat ada orang mengobrolkan film terbaru, aku jadi tahu. Aku pun juga tahu drama korea apa yang baru mereka tonton. Merk sepatu apa yang baru mereka beli, baju warna apa yang mereka inginkan, bahkan siapa nama laki-laki yang sedang dekat dengan salah satu dari mereka.
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Older Posts

About Me

Foto saya
Anik's Blog
Hi, ini tempat pulangnya Anik. Berisi hal-hal random yang rasanya perlu ditulis.
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Tumblr

Member Of

1minggu1cerita

Categories

  • Blogwalking
  • Calon Ibu
  • FIKSI
  • Flashback
  • Kerelawanan
  • Obrolan Cermin
  • Review Ala-Ala
  • Sudut Pandang Pernikahan

Postingan Populer

  • Ketika Aku Masih Diingat
  • Butiran Candu
  • Sepucuk Surat Merah Hati (2)
  • (CERPEN) Tangisan di Rumah Marni
  • Teman Main Kirana

Blog Archive

  • Maret 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Juli 2023 (2)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (2)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (4)
  • Juli 2020 (3)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (17)
  • April 2020 (4)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (9)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (1)
  • Maret 2019 (7)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • Oktober 2018 (6)
  • Maret 2018 (22)
  • Februari 2018 (14)
  • Agustus 2017 (7)
  • Juli 2017 (11)
  • Juni 2017 (11)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (14)
  • Desember 2016 (12)
  • November 2016 (2)

Created with by ThemeXpose