Sabtu, 31 Maret 2018

Mencintai Diam-Diam Itu Bukan Diam-Diam Mencintai lho!

00.13 3 Comments

See the source image
Source: Google
Mencintai itu fitrah. Setiap manusia dikaruniai oleh Allah rasa cinta kepada sesama mahluk. Manusia boleh mencintai lawan jenis, tidak ada larangan untuk itu. Hati kita tidaklah mati rasa yang akan terasa biasa saat bertemu dengan lawan jenis yang mengagumkan atau sikapnya yang meneduhkan. Manusiawi jika ada rasa getaran apabila bertemu pandang dengan seseorang yang diam-diam mencuri hati. Namun, sebagai muslim/ah kita harus tahu bagaimana cara mencintai yang sesuai syariat. Bukan dengan melakukan tindakan yang dimurkai Allah seperti pacaran.

Mencintai yang baik itu dengan cara menyebutnya dalam doa dan memantaskan diri agar kelak diberikan jodoh yang pantas pula. Mencintai seperti ini biasa disebut dengan mencintai dalam diam. Menyimpan rasa kepada seseorang tanpa mengungkapkan. Hanya memendam diam-diam, namun ramai dalam lantunan doa untuknya.

Kalian juga pernah mencintai diam-diam? Atau bahkan sekarang sedang mengalaminya? Sering stalking instagramnya, kah? Sering kepo statusnya di facebook? Atau sering tanya-tanya kabar si doi ke temannya?

Kalau jawabannya kebanyakan sering, patut dipertanyakan lagi, sebenarnya perasaan kalian itu mencintai diam-diam atau diam-diam mencintai? Memang apa bedanya, bukannya sama saja?

Sebenarnya sama saja. Sama-sama tidak mengungkapkapkan perasaan kepada doi. Namun yang membedakan, mencintai diam-diam itu menyerahkan segalanya kepada Allah. Apabila rindu, menyampaikan kerinduannya kepada Allah yang Maha memiliki hati doi. Bukan memenuhi linimasa media sosial dengan status galau yang memperlihatkan kalau kita sedang rindu dengan seseorang. Jika rindu malah stalking instagram, memandangi foto, dan melihat foto unggahan lamanya.

Mencintai diam-diam itu bukan dengan mencari-cari jalan agar bisa berpapasan, melihat sekilas wajahnya, atau memandanginya dari kejauahan. Namun, menjaga pandangan dari doi yang belum halal. Malahan yang lebih baik, menghindar tidak bertemu agar tidak menumbuhkan perasaan.
Baca Selengkapnya: https://trenlis.co/mencintai-diam-diam-itu-bukan-diam-diam-mencintai-lho/

Jumat, 30 Maret 2018

Taaruf dan Khitbah Itu Bukan Pacaran lho, terus apa?

23.50 0 Comments
See the source image
Source: Google


Pernikahan tidak terjadi begitu saja. Sesuai syariat, ada proses yang harus dilalui sebelum melaksanakan akad pernikahan, yaitu taaruf (perkenalan melalui pihak ketiga), khitbah/lamaran, lalu pernikahan. Islam sudah mengatur tata cara proses ini sebaik mungkin untuk menjaga diri pasangan calon. Akan tetapi, semakin ke sini banyak hal yang berubah pada kebiasaan masyarakat. Ajaran Islam tidak diindahkan lagi dan menggantinya dengan mengikuti budaya barat. Dimulai dari proses awal taaruf saja, banyak orang yang menyalahgunakan masa ini untuk mendekati seseorang. Dengan bersembunyi dibalik tameng taaruf, salah satu pihak beralasan untuk sering berkirim kabar dan menanyakan hal-hal pribadi. Padahal dalam syariat, taaruf dilakukan melalui perantara untuk bertukar informasi satu sama lain dalam bentuk dokumen. Kedua belah pihak tidak diperkenankan untuk melakukan urusan berdua tanpa sepengetahuan perantara.


Apabila pasangan calon sudah ke tahap khitbah, statusnya tetap belum sah. Hanya akad nikah yang menghalalkan keduanya. Dalam masa khitbah, kita tetap harus menjaga diri dari calon laki-laki/wanita. Tidak berarti dalam masa itu kita sudah berhak pergi bersama hanya berdua, lebih sering berkomunikasi, dan hal lain semacamnya. Tetap semua harus melalui perantara seperti saat melakukan taaruf. Sekali pun nantinya pasangan calon ini melakukan pernikahan, akan tetapi keduanya harus tetap menjaga diri dari satu sama lain. Dalam masa ini setan lebih mudah masuk ke dalam hati karena adanya perasaan memiliki satu sama lain setelah sudah saling terikat dengan lamaran. 


Kamis, 29 Maret 2018

Inilah 5 Cara Bahagia Jadi Jofis (Jomblo Fi Sabilillah)

23.59 0 Comments

Masa muda adalah masa paling tepat untuk menghabiskan waktu dengan berkarya dan membangun jaringan sebanyak mungkin. Usia memang tidak menjadi batas seseorang untuk berkarya.  Namun, saat usia muda semangat belajar masih membara dan waktu luang yang begitu banyak. Anak-anak muda belum disibukkan dengan urusan anak dan rumah tangga, waktunya tercurah untuk dirinya sendiri. Pada saat itulah seharusnya anak muda memanfaatkan waktu untuk hal-hal produktif. Agar kelak saat sudah menua tinggal memetik hasilnya.

Kelak ada masanya setiap orang diminta pertanggungjawaban atas waktu yang dia gunakan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu, "Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya". (HR. At-Tirmizi)

Dunia anak muda itu luas, tidak hanya sekadar masalah cinta dan perasaan. Hubungan asmara memang penting untuk ke depannya. Namun, tidak semua waktu tercurah hanya untuk mengurusi hal itu. Percayalah dengan janji Allah, jodoh akan mengetuk pintu pada waktunya. Tidak perlu membuang-buang waktu dengan orang yang salah, lebih baik masa muda kita gunakan untuk meningkatkan kualitas diri. Kalau ada yang bilang pacaran itu untuk menumbuhkan semangat, jawab saja Allah dan orangtua lebih memberi semangat dari segalanya. Kalau hanya sibuk mengurusi pacar, maka kita tidak akan tahu begitu luasnya dunia luar.
Baca Selengkapnya: https://trenlis.co/inilah-5-cara-bahagia-jadi-jofis-jomblo-fi-sabilillah/

Source: Unsplash.com

Rabu, 28 Maret 2018

Inilah 5 Alasan Pentingnya Jomblo Belajar Parenting!

00.07 2 Comments

See the source image
Source: Google

Setiap hal di kehidupan kita ada ilmu yang bisa kita pelajari. Semua ada tata cara yang mengaturnya agar bisa menjalani dengan baik dan sesuai tujuan. Tak terkecuali dengan mendidik anak pun ada ilmunya, yang biasa disebut dengan ilmu parenting. Ilmu yang mempelajari cara mendidik anak dengan baik dan benar serta membekali orangtua yang sedang menemani tumbuh kembang anak. Kebanyakan orang berpikir mendidik anak tidak perlu menggunakan teori, yang terpenting mencontohkan hal-hal yang baik dengan kasih sayang dan kelembutan. Itu saja sudah cukup bagi mereka. Padahal nyatanya, banyak orangtua melakukan hal-hal yang bertujuan untuk menyayangi, nyatanya malah memanjakan dan membentuk karakter anak yang tidak mandiri. Nah, itulah pentingnya ilmu agar kita jadi tahu mana yang baik dan benar.

 Ada juga yang berpikir belajar mendidik anak nanti saja setelah menikah atau menjelang mempunyai anak. Memang sih, belum masanya para jomblo untuk fokus pada hal-hal seperti ini. Bagi mereka mempelajari ilmu yang masih digunakan beberapa tahun ke depan entah kapan itu adalah pekerjaan yang membuang-buang waktu, lebih baik mempelajari ilmu-ilmu sesuai bidang kuliah atau pekerjaan yang sedang digeluti.

Untuk para jomblo, kalian boleh berkilah dengan mengatakan, “Nanti dulu deh, kan aku belum ingin punya anak.” Mendidik anak itu tidak melihat berapa tahun sebelum kalian mempunyai anak, bertahun-tahun kalian belajar pun malah lebih bagus. Sekali pun kalian masih jomblo, belum ada pasangan, belum punya keinginan menikah, tidak ada buruknya jika menyiapkan lebih awal untuk ilmu parenting. Belajar mendidik itu membutuhkan proses yang panjang. Tidak hanya membutuhkan teori, namun juga kesiapan mental yang matang untuk menjalaninya nanti.

Tidak harus terlalu serius mempelajarinya, bisa menjadi selingan di saat ada waktu senggang. Atau saat tidak sengaja menemukan artikel di internet kita bisa membacanya sedikit-sedikit. Poin pentingnya adalah kita tidak menutup diri dengan hal ini. Tidak perlu malu untuk membeli buku, follow blog, bahkan datang ke seminar parenting. Kelak kita akan lebih malu jika sudah mempunyai anak tapi tidak tahu cara mendidiknya.

Sebenarnya kenapa sih kita harus belajar parenting, berikut alasannya:

Jumat, 23 Maret 2018

Menikah itu Bukan Sekadar untuk Memilikinya, tetapi Demi Menambah Kecintaan kepada-Nya

23.11 7 Comments
unsplash.com

Setiap orang mempunyai alasan dan niat saat akan melakukan sesuatu. Tanpa niat yang kuat, seseorang tidak bisa mantap mengambil keputusan. Ibarat skripsi, latar belakangnya harus kuat. Begitu pun juga dengan menikah. Ibadah yang kita lakukan sampai berakhirnya usia kita ini membutuhkan niat yang kuat saat mengambil keputusan untuk mengakhiri masa lajang. Entah karena sudah mapan, sudah berumur, sudah memiliki pasangan, atau sudah siap lahir dan batin.



Begitu juga dengan memilih pasangan dalam menikah, semua orang mempuyai alasan masing-masing. Bila seseorang ditanya kenapa memilih laki-laki/wanita tersebut menjadi calon pasangannya, kebanyakan orang menjawab karena mencintainya. Meski ada juga yang menjawab, karena dia merasa pilihannya adalah pilihan yang tepat. Kalau seperti ini, sebenarnya menikah itu untuk beribadah atau untuk memiliki seseorang yang kita cintai? Nah loh.



Menikah untuk beribadah seakan hanya menjadi teori. Semua orang baligh pasti sudah tahu tentang hal ini. Namun yang menjadi pertanyaan, seberapa jauh kita memahami dan mempraktikkan teori ini. Mencintai lawan jenis itu fitrah, bukan hal yang dilarang dalam agama Islam. Tidak ada yang menyalahkan jika kita mencintai seseorang. Akan tetapi, kecintaan kita terhadap manusia jangan sampai melebihi kecintaan terhadap Allah. Sampai-sampai nantinya kita lupa bahwa semua ibadah seperti menikah pun tetap harus Allah yang menjadi tujuan. 



Kita bisa belajar dari kisah Abdullah bin Abu Bakar RA. Memang apa kisahnya? Baca selengkapnya Menikah itu Bukan Sekadar untuk Memilikinya, tetapi Demi Menambah Kecintaan kepada-Nya

Pentingnya Mencarikan Jodoh Untuk Tulisan

20.46 2 Comments

Beberapa hari aku memang sengaja tidak menyempatkan waktu untuk menulis di blog. Karena ada tugas menulis di tempat lain dan nyambi nyicil skripsi. Kali ini ada sesuatu yang pengen aku ceritain. Semoga saja ada yang membaca tulisan ini. Insyaallah bermanfaat.

Dari tadi siang sebelum sholat Jumat, ada teman yang menghubungi melalu whatsapp. Sebenarnya bukan sengaja menghubungi sih, cuma tadi mengomentari postingan foto dagangan di status wa-ku dan kubalas hanya sekadarnya. Lalu dia me-reply pesanku yang sudah lama sekali tenggelam di chat paling atas. Kuklik pesanku itu ternyata sudah tidak ada karena aku pernah membersihkan keseluruhan chat. Pesan itu tentang obrolan kecil kami mengenai akun dakwah yang dia kelola. Akun ini sudah sukses, sering bekerja sama dengan berbagai acara dan followers-nya mencapai ratusan ribu.

Aku ditawari untuk menulis di sana. Sebenarnya sudah lama sejak tahun lalu. Tapi karena aku memang dasarnya susah mempelajari hal-hal yang abstrak, jadinya aku tidak mengiyakan tawarannya. Lebih tepatnya aku menggantungnya, menerima nggak, menolak juga nggak. Aku lebih cepat nyantol dan mudah mempraktikkan kalau mempelajari tentang bagaimana menghitung biaya produksi, mencatat transasksi keuangan, atau membuat laporan keuangan. Aku suka menulis, tapi untuk mempraktikkan teori-teorinya bagiku susah. Ya karena memang, menulis, mendesain, dan mengisi konten membutuhkan daya kreatif. Sedangkan, aku orangnya nggak kreatif-kreatif amat. Alasan aja sih, lebih tepatnya tidak mau berusaha. -_-

Hari ini aku ditawari lagi sama dia. Lagi-lagi aku tetap tidak menjawab iya dan nggak. Sebenarnya aku mau, karena dengan begitu aku bisa ada wadah untuk menulis tulisan-tulisan inspiratif.

Mungkin dia agak kesel juga dengan aku yang kesannya begitu lelet dan nggak bisa diajak kerjasama cepet. Dia tanya begini, “Ada rencana mau nulis buku, nggak?” Kupikir dia tanya begini karena ingin menawari aku untuk nulis buku bareng atau apa gitu. “Iya pengen. Tapi sampai sekarang aku belum tahu mau nulis apa,” jawabku.

“Siapa role modelnya?”

“Dwi Suwiknyo sama Asma Nadia,” jawabku. Karena memang akhir-akhir ini aku lagi ngefans sama Dwi Suwiknyo, kalau sama bunda Asma sih udah lama. Aku suka beliau karena tulisannya lembut dan ringan. Kalau Mas Dwi, sebenarnya aku belum baca bukunya. Hanya membaca tulisannya di blog dan webnya. Aku suka pemikiran dan tindakannya yang care banget sama penulis pemula seperti aku ini.

Lalu temanku ini bilang seperti ini, “Kamu tahu Kurniawan Gunandi sama mbak yang nulis buku Rentang Kisah, nggak? Awalnya mereka itu bisa besar karena mempunyai fans di media sosial. Mereka membangun pembaca dan pendengar setia dulu di media sosial. Sekarang tuh eranya kayak gitu.”

Batinku, bukan cuma sekadar kenal sama mbak yang nulis Rentang Kisah, aku juga fans dan stalker akutnya dia. Kalau lagi suntuk atau down, aku stalking blog dan vlog-nya. Kalian tahu kan siapa dia? Yup, Gita Savitri Devi atau Gitasav. Aku cerita sama temanku ini kalau aku ngefans sama dia bla bla bla. Bahkan aku juga cerita liburan kemarin sampai rela berjam-jam di Gramedia untuk baca buku Rentang Kisah sampai habis. Karena waktu itu aku nggak punya uang buat beli.

 “Aku terlalu takut untuk mengekspos diriku di media sosial. Entah, karena lingkaranku yang nggak suka nulis sehingga aku jadi tidak ada dukungan untuk itu. Atau karena aku merasa tulisanku belum sebagus lainnya,” jawabku yang sedikit curhat kepada dia.

“Sebenarnya orang-orang yang setuju dengan pemikiran kita nggak harus suka nulis juga. Nulis aja sesuatu yang terlintas dalam diri entah kejadian teman atau orang sekitar. Tulisan yang relatable dengan banyak orang itu yang sering viral. Banyak orang yang merasa terwakili. Jadi takutnya karena apa?”

“Apa ya, entah aku kurang percaya diri. merasa takut kalau tulisanku dibaca orang yang kukenal. Makanya selama ini aku hanya ramai di blog. Tapi takut untuk share di media sosial.”

Kulihat lagi dia membalas pesanku seperti ini, “Kalau seumpama Gitasav nggak berani sharing di media sosialnya, nggak mau ngomong di youtube, orang-orang jadi tahu dan menerima pesan dan pola pikirnya nggak, ya? Oh kayaknya bakal tahu sih, kan dia juga nulis di blog. Tapi bakal se masive atau bahkan terinspirasi sama buku dan kisah yang ditulis nggak, ya?”

Dia seperti sedang bicara dengan dirinya sendiri, tapi sebenarnya dia mengajak aku berpikir tentang apa yang diucapkannya.

Dengan sedikit bingung, aku menjawabnya seperti ini, “Pertanyaan sederhana tapi cukup membuat aku mikir terlalu dalam.”

“Sebenarnya dalam benakmu sudah ada jawabannya, kan, ya?”

“Iya, realisasinya yang sulit,” jawabku.

“Memang tidak bisa sih dorongan dari luar soal seperti ini. Harus dorongan dari dalam.”

Sampai sekarang aku mengetik ini, aku mengumpulkan keberanian untuk bisa menunjukkan diriku kepada orang lain. Sebenarnya apa yang dia bilang benar sekali. Tapi ada yang perlu digaris bawahi, semata bukan aku ingin tenar seperti Gitasav. Tapi logikanya gini, katanya aku mau tulisanku menginspirasi banyak orang, tapi siapa yang mau terinspirasi, kalau ternyata aku sendiri nggak mau tulisanku dibaca orang.

Aku nggak tahu harus bagaimana agar aku bisa keluar dari rasa takut dan zona nyaman ini. Sebenarnya kuncinya ada pada diriku sendiri yang harus melawannya. Ya emang bener sih, kelak tulisan akan menemukan jodohnya. Tapi bukan berarti aku harus diam saja. Setidaknya aku mencari jalan agar tulisanku bisa mudah untuk menemukan jodohnya. Kalau didiamkan di sini siapa yang mau menemukan? #Ngomongsamakaca

Senin, 19 Maret 2018

Kesederhanaan Bapak dan Penilaian Orang

10.29 5 Comments



Dari aku kecil, Bapak tidak mendidik dengan menuruti semua apa yang kuinginkan. Bapak tidak mengiming-imingi  barang yang memang tidak bisa dibelinya hanya untuk meredakan tangis anaknya. Karena Bapak tahu luka anak kecil yang dibohongi akan membekas sampai dewasa. Sekali pun beliau mampu membelikan, manfaat barang itu juga dipertimbangkan. Kalau ternyata hanya untuk kesenangan, lebih baik tidak membelinya, jika aku tetap ingin membeli harus dengan hasil tabungan sendiri.

Suatu ketika aku pernah protes kepada Bapak perihal lantai rumah yang tidak dikeramik seperti rumah tetangga yang lebih terlihat kinclong. Jawaban beliau membuat aku tertegun beberapa lama. Kalian tahu jawabannya? Jawabannya seperti ini, “Bapak lebih suka rumah bapak sederhana tapi bisa menyekolahkan anak, daripada rumah bagus tapi biaya sekolahnya nunggak.” Cara mengucapkannya biasa, kalimatnya juga sederhana, tapi begitu luar bisa membuat aku terharu dan baper sejadi-jadinya. 

Bapak itu orang yang prinsipnya kuat menurutku. Beliau bukan orang yang mudah mengikuti trend hanya untuk meninggikan prestise-nya di mata masyarakat. Siapa pun bapak, beliau hidup dengan pikiran dan hatinya sendiri. Bukan untuk mengikuti penilaian atau omongan orang.

Beliau pernah bercerita kepadaku tentang tetangga yang rumahnya sepuluh langkah lebih lima dari rumah kita. Tetangga itu curhat ke bapak tentang hutang-hutangnya yang kian menumpuk. Itu hal yang mencengangkan bagiku. Karena apa? Karena tetangga itu rumahnya mewah lantai dua, pagar besi, mobil bagus, dan toko grosirnya tak sepi dari pembeli. Bahkan, kalung dan gelang istrinya berkarat-karat dipakai.

Ada lagi tetangga sebelah rumah yang begitu bangganya memakai motor barunya. Tapi beberapa bulan kemudian, motornya disita karena tidak bisa mencicilnya. Atau orang kaya sebelah sana tapi uangnya terkuras habis untuk membiayai penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Begitulah, cerita orang-orang yang bapak sampaikan kepadaku.

Aku juga jadi ingat dengan seorang teman kuliah yang hidupnya secara materi enak. Pergi dan pulang kuliah naik mobil, tinggal di perumahan, dan makan apa saja bebas tanpa mikir. Tapi nyatanya, setiap pagi matanya sembab menangisi bapaknya yang harus keluar-masuk rumah sakit karena serangan jantung. Materi yang dia punya tidak berarti apa-apa dalam keadaan seperti ini.

“Kita hidup bukan untuk menuruti penilaian orang,” ucap bapak setelah selesai bercerita.

“Secara materi kita memang lebih kurang dari mereka. Tapi secara batin, kita lebih bahagia dari mereka. Makan seadanya kalau hidup tenang dan sekeluarga sehat, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Daripada memperbagus rumah dan kendaraan hanya agar mendapat pujian dari orang, tapi pikiran carut-marut setiap malam tanpa ada yang peduli.”

Setelah berbicara panjang, Bapak menatap layar televisi untuk melanjutkan nontonnya. Dan aku sibuk memikirkan ucapannya.