facebook twitter instagram Tumblr

Anik's Blog

Hasil event antologi


Cover antologi cerpen 

*) Cerpen ini pernah diikutkan di Event Antologi Cerpen di Pusaka Media. Buku ini antologi pertama dengan teman-teman sekerjaan di Yayasan Bina Insani

Aku duduk dengan gusar di lantai kamar. Memandangi monitor laptop yang sedari tadi menyala, tapi pikiranku bergerilya kemana-mana. Kamar berantakan dengan tumpukan buku paket, laptop, dan berbagai macam kabel yang kugunakan pembelajaran online sejam yang lalu. Hatiku tidak kalah berantakan melihat segelintir daftar siswa yang mengerjakan tugas. Kini ruang belajar yang  berpindah digital tak ubahnya seperti ruang kosong yang menggaungkan suaraku yang mengudara. Setiap hari seperti penyiar radio yang berkata-kata di tengah lalu lalang kesibukan manusia. Padahal mereka dari kalangan menengah ke atas yang segala kebutuhan pembelajarannya terpenuhi. Gadget bagus dan sinyal wifi yang kecepatannya tak diragukan lagi.

Berbicara tentang gadget dan sinyal, ingatanku jadi melompat jauh ke masa lima tahun silam di tanah pedalaman Kepulauan Sula, Maluku. Tempat dimana hatiku telah sengaja kutinggalkan di sana sebagai relawan pengajar muda. Aku ingin mengais masa lalu di waktu sepagi ini. Masih terekam jelas ketika aku mengajar anak-anak di ruang kelas yang temboknya sudah retak di banyak bagiannya. Sinar matahari masuk ke ruang kelas melalui beberapa celah atap yang lubang. Aku masih ingat bagaimana awal di sana, mereka menyambutku dengan wajah polos dan tanpa alas kaki. Pertama mengajar, mereka duduk rapi memperhatikan. Kukenalkan pada mereka tentang apa itu profesi dan berbagai macam profesi di luar sana. Karena selama ini yang familiar di mata mereka adalah petani, nelayan, dan pedagang. Di mata mereka, guru adalah kasta tertinggi yang harus dihormati. Aku diperlakukan bak perdana menteri yang kemana-mana dilindungi, selalu mendapat bagian dari makanan apapun yang mereka punya.

Kupikir dengan bersenang-senang sebentar mengingat mereka bisa meredakan pilu yang tengah memasuki hati tanpa permisi. Nyatanya, seperti menabur garam pada luka, menambah perih karena semakin rindu dengan mereka. Mataku becek. Ada genangan yang kutahan, tapi lama-lama jatuh juga, kubiarkan.

Aku berada di titik lelah. Pikiran carut-marut dengan kondisi pandemi yang mengharuskan berdiam diri di rumah, beradaptasi dengan pembelajaran online, dan para murid yang tidak bisa diajak berkompromi di keadaan serumit ini.

Kuhapus mata yang membasah dengan kasar, segera bangkit dari tempat duduk, dan bersiap-siap berangkat untuk mengikuti rapat guru di sekolah.

----

Semua guru duduk di ruang guru dengan jarak satu meter. Kita tetap menggunakan masker meski sedikit pengap. Rapat untuk membahas evaluasi pembelajaran online seminggu ini dimulai oleh kepala sekolah.

"Masih ada banyak anak yang tidak mau menyalakan video ketika pembelajaran, sebelum selesai mereka juga sudah keluar, tugas sama sekali tidak dikerjakan." Bu Aminah membuka suara yang pertama kali di evaluasi ini, lalu semua guru terlihat manggut-manggut menandakan ucapan beliau mewakili apa yang guru-guru alami. Tak terkecuali aku, sangat mengamini ucapan beliau.

Bu Aminah, guru tertua di sekolah ini pun juga tidak dihargai oleh mereka. Apalagi aku, guru yang masih kemarin sore masuk ke sekolah ini. Lagi dan lagi upaya pembenahan sistem pembelajaran online terus kami benahi agar anak-anak tak memiliki celah untuk berulah. Rapat diakhiri, guru-guru berjalan keluar. Tapi aku dan Bu Afifah masih terpaku di tempat duduk masing-masing. Kulihat beliau sibuk dengan laptopnya, entah apa yang sedang dikerjakan.

"Bu, masih sibuk?" tanyaku hati-hati. Beliau lebih tua lima tahun di atasku. Karena meja kami di ruang guru dekat, hubungan kami juga semakin akrab karena sering mengobrol.

"Tadi ngecek siswa yang mengirim tugas, tapi sekarang sudah selesai. Bu Hana apa kabar?" Beliau mengemasi laptopnya ke dalam tas sambil sesekali menoleh ke arahku dengan mengulas senyum.

"Agak kurang enak hati hari ini." Ada tertawa kecil yang kupaksakan, agar terlihat apa yang kukatakan seperti bahan guyonan. Padahal sebenarnya aku ingin membuka ruang obrolan dengan beliau.

"Kenapa?" Selesai mengemasi barangnya, beliau memposisikan tubuhnya menghadap ke arahku. Terlihat beliau seolah siap melebarkan telinga.

"Sedang di titik jenuh ngajar, Bu. Bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja ngajar di rumah. Apalagi anak-anak yang makin lama makin berulah." Beliau masih diam, matanya bertemu pandang denganku. Wajahnya meneduhkan seperti ruang nyaman untuk berbagi cerita. Beliau selalu terlihat antusias dengan apapun yang kuceritakan. Tapi kali ini tidak seperti biasanya, Bu Afifah membuka suara sebelum aku bercerita terlalu panjang.

"Bosan itu sebuah keniscayaan, apalagi di masa rumit seperti ini. Saya sendiri sedang membagi pikiran saya untuk sekolah dan keluarga. Suami yang kena PHK, anak yang biaya sekolahnya melangit, dan anak kedua saya sedang sakit." Beliau menutup ceritanya dengan senyum, tapi guratan kesedihan tetap tak bisa ditutupi. Ada sendu yang menggantung di wajah kuning langsatnya.

Aku diam seketika itu juga. Cerita yang ingin kulisankan tersangkut di tenggorokan. Tidak ada yang berhasil kuceritakan.

Padahal sebenarnya aku ingin bercerita tentang murid-muridku dulu. Mereka yang keterbatasan fasilitas di pedalaman tapi antusias belajar dan menghargai gurunya. Meski tanpa sinyal, mereka tetap belajar dengan apapun yang ada di sekitarnya.

Tentang Dawan, murid di sana yang terhitung lambat dalam menangkap materi, tapi yang kusuka dia selalu antusias untuk bertanya. Begitu juga ibu mereka yang begitu baik, entah hasil kebun apapun yang dipunya selalu diberikan kepadaku.

Aku masih ingat sekali ketika ada PR matematika, anak-anak belum juga bisa mengerjakan. Pukul 7 malam ada yang mengetuk pintu rumah orangtua asuhku di sana. Ternyata dia dan beberapa kawannya datang untuk meminta penjelasanku. Jelas aku sangat kaget, selepas senja pulang ke peraduannya tidak ada lagi cahaya di sana selain sinar rembulan. Mereka datang membawa seberkas cahaya dari lampu minyak. Sekitar sejam kemudian tugas mereka sudah selesai, kuminta mereka menginap saja. Aku khawatir terjadi apa-apa ketika mereka menempuh jarak 5 KM di tengah kegelapan seperti ini.

"Tak apa-apa, kita sudah terbiasa seperti ini," ucapnya memperlihatkan keberaniannya lalu bersama dengan kawannya yang lain berlari kecil menembus malam yang semakin pongah memperlihatkan gelapnya.

Air mataku luruh kala itu, keberadaanku di sana bagi mereka sangat berarti. Meski berkawan dengan gelap, tapi semangat mereka selalu menyala. Sedangkan di kota, aku merasa tak lebih berarti dari mesin pencarian google yang lebih dipercaya anak-anak untuk menjadi teman belajarnya.

Ingin rasanya tadi mengeluh di depan Bu Afifah agar sedihku mereda, nyatanya secara tidak langsung beliau mengajariku untuk bersyukur atas keadaan yang tidak lebih pelik dari masalahnya. Harusnya aku menyadari, setiap tempat pasti ada tantangannya. Harusnya aku juga memahami, tidak hanya aku yang lelah, tapi murid-muridku juga jenuh diposisikan keadaan seperti ini. Dan harusnya aku terpacu untuk belajar menjadi guru yang lebih baik lagi.

 

Tentang Penulis

Anik Cahyanik, dipilih menjadi nama pena oleh gadis yang saat ini berjalan menuju usia seperempat abad. Lulusan Pendidikan Ekonomi yang kesasar di jalan yang benar di dunia  dapodik sekolah SDIT Bina Insani Kota Kediri. Belajar menjadi bermanfaat dengan menulis di akun instagram @kinachay dan blog anikcahyanik.blogspot.com.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

            Berat untuk diakui bahwa ini tulisan pertama di tahun 2021 yang benar-benar sengaja ditulis untuk blog ini. Berlalu sudah separuh jalan tahun ini terlalui, blog ini baru tersentuh. Jahat betul rasanya aku ini, membiarkan tempat pulang bersarang tak terurus. But, aku lagi kangen. Kangen dengan diriku sendiri yang melipir ke kamar untuk selftalk. Kemarin-kemarin rasanya pikiran terlalu riuh sampai aku lupa bertanya dengan diriku sendiri, “Sebenarnya apa sih yang kamu rasakan?”

          Tahun 2021 hadir dengan segala kejutannya. Tahun ini adalah titik balik terbesar yang membuat mataku terbukakan tentang hidup yang sebenarnya. Wiiis, sok dewasa banget euy. Padahal masih baru jadi anak kemarin sore merasakan garam kehidupan. Wkwkw

          Nggak nyangka, Allah masih memberiku usia dan kesehatan sampai saat ini hingga akhirnya masih bisa menikmati oksigen dengan bebasnya. Aku memasuki dunia seperempat abad yang membuat pikiran makin penuh dengan pertanyaan hidup.

          Sejujurnya, selain kangen dengan diriku sendiri, tiba-tiba aku kangen dengan dunia perkuliahan yang memaksaku untuk bikin makalah, presentasi, atau baca buku teori. Aneh ya, padahal dulu ngebet banget pengen cepet lulus biar bebas dari segala macam tugas yang menjemukan. Sekarang giliran aku sudah di titik waktu yang pernah kuinginkan, aku dibuat kangen oleh masa lalu.

          Salah satu keinginan ingin lulus waktu itu biar aku bisa baca novel sepuasnya tanpa dihantui tumpukan buku teori yang melambai-lambai untuk kubaca. Tapi nyatanya, setelah lulus aku jadi makin suka baca buku teori. Nyesel gitu kenapa fasilitas kampus yang menyediakan buku fisik sebegitu banyak dan bagusnya nggak kumanfaatin waktu itu. Kenapa aku cuma tertarik dengan dunia pernovelan yang ternyata makin ke sini aku makin nggak tertarik lagi.

          Oke, gapapa. Aku masih tetap bisa menjangkau bacaan yang kuinginkan. Aku masih bisa membaca buku apapun yang aku sukai dimana pun dan kapan pun. Akan tetapi, rasanya hanya membaca buku tanpa masuk ke ruang diskusi dan menuliskan apa yang telah kita baca itu rasanya hambar. Dulu ngerasa puas banget setelah bikin makalah dan mempelajari isinya terus presentasi dan tanya jawab di ruang kelas. Ya gimana ya, merasa dapat asupan tambahan untuk otakku. Seneng aja gitu bisa ngomong depan orang-orang meski diliputi detak jantung yang berkejaran, keringat dingin, dan tangan yang gemeteran karena dilihatin dosen. Wkwk

          Itu dia alasanku kembali ke blog ini. Iya, mungkin emang sekarang aku belum mendapat kesempatan untuk di posisi seperti itu lagi. Tapi kenapa nggak kumanfaatin blog ini sebagai tempat nulis untuk menampung apa-apa yang pernah aku baca dan terbesit di pikiran. Sebenarnya sudah bikin akun instagram sih yang bahas khusus perbukuan, tapi lama nggak keurus. Komitmennya nih yang harus dikencengin. Sudah gabung di grup menulis juga kan, niatnya nih yang harus dilurusin.

          Terlepas dari hal itu tadi, ada hal besar yang menohokku berulang kali. Apakah itu? Tentang Sadar Penuh Hadir Utuh. Istilah ini aku dapat dari Mas Adjie Santosoputro yang fokus tentang pembahasan Mindfullness.

Source: Google

          Aku tuh sering pas di masa sekarang pengen cepet-cepet ke masa depan. Penasaran di masa depan aku seperti apa dan akan bertemu siapa. Tapi ketika di masa depan, aku jadi kangen dan pengen balik ke masa lalu. Ada banyak hal di masa lalu yang baru saja kusadari dan pahami ketika sudah di masa depan. Andai aja aku dulu begini, begitu, yah gitu jiwa-jiwa menyesalnya jadi keluar.

          Aku mulai disadarkan suatu hal setelah kemarin ada kejadian pas mandi aku lupa sudah sabunan atau belum. Aku ngerasa parah banget. Bilang ke diri sendiri, kamu tuh kemana aja sih sebenarnya. Aku dimana, pikiranku kemana. Hampir nggak pernah sinkron. Nah itu dia yang dinamakan Sadar Penuh Hadir Utuh Dimana kita berada dan apa yang kita lakukan, ya fokus kita ke situ, bukan malah pikiran bergerilya kemana-mana.

          Aku pernah ngintip bukunya Mas Adjie yang berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh ini. Dulu pernah nyari di Gramed nggak nemu, katanya udah nggak ada. Nggak tahu kalau sekarang produksi lagi nggak. Jadinya aku ngintip di Google Book. Baca-baca sedikit, intinya sih cara untuk lebih fokus itu ya kita nggak multitasking. Kalau lagi makan yaudah makan aja, rasain apa yang kita makan, fokus sama teksturnya, menikmati kunyahannya. Tidak perlu makan sambil nyekrol instagram. Ya gitu, sama juga dengan ketika sedang aktivitas lainnya harus dinikmati dan disadari.

          Selama ini aku belum sepenuhnya seperti itu, sehingga rasanya apa yang kulakukan cepat berlalu tanpa ada hal-hal yang berarti. Ketika sudah terlewat baru kerasa aja kenapa aku dulu nggak menikmati di masa-masa itu.

          Nggak baik juga kelamaan berkubang di penyesalan tanpa ada perubahan ya, kan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menikmati apapun yang sedang kupilih dan kujalani. Yang berlalu tidak akan pernah kembali, jadi ya biarkan yang berlalu hanya rapi di ingatan untuk dijadikan pengingat. Sudah masuk Agustus, cepet ya. Sayang sekali jika 2021 hanya dihabiskan untuk merindu dan menyesali tanpa mengusahakan apa-apa.

          Semoga siapa pun kamu yang membaca ini, kamu menikmati apapun yang sedang kamu pilih dan jalani.

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Sertifikat Event di Komunitas HOW

*) Cerpen ini pernah diikutkan event di komunitas HOW


Tumpukan pakaian berantakan di sana sini, setiap sudut kamar yang tidak terlalu luas ini dipenuhi barang pribadiku yang seharusnya sudah kumasukkan ke koper sejam yang lalu. Perasaanku tak kalah berantakan. Ada rasa berat yang menggelayuti hati dan pedih yang kutahan.

 

Bumi berotasi begitu cepat, membuat setahun keberadaanku di Pulau Bawean terasa seperti hanya hitungan hari. Rasanya baru kemarin aku tiba di sini dengan disambut warga dan anak-anak tanpa alas kaki. Rasanya baru kemarin aku berperang dengan diri sendiri karena beradaptasi dengan segala perbedaan yang ada di sini.

 

Pulau yang keberadaannya tak pernah kuperhatikan karena ukurannya sangat kecil di peta, ternyata sekarang kakiku seakan berat melangkah meninggalkannya.

 

Mataku becek. Ada genangan di sana yang kutahan, tapi lama-lama terjatuh. Kubiarkan. Dulu kupikir menjadi relawan pengajar di pedalaman seperti ini amatlah menyenangkan. Hidup di tempat yang minim polusi udara, menyatu dengan alam, dan terbebas dari media sosial. Nyatanya, aku tak setangguh mereka yang semangatnya menyala di tengah kegelapan malam tanpa penerangan. Tak semampu mereka yang terbiasa hidup jauh dari kebisingan kota. Tak sekuat mereka yang terbiasa hidup dengan kepolosan tanpa melihat gemerlapnya dunia.

 

Lama-lama jiwaku seakan telah menyatu di sini. Aku menjadi berteman dengan sunyi dan gelap. Jadi terbiasa dengan keheningan tanpa notifikasi ponsel yang seringkali membuat pikiranku carut-marut. Aku menjadi suka dengan ratusan langkah kakiku setiap berangkat dan pulang dari sekolah. Aku jadi tidak takut dengan hujan lebat dan petir meski rumah orangtua asuh yang kutinggali terbuat dari kayu yang rapuh. Jiwa kokoh mereka yang menguatkan aku, senyum getir mereka yang seolah bilang padaku alam akan tetap baik-baik saja karena mereka selalu menjaganya.

 

Rasanya keadaan seperti mempermainkan. Awal kedatangan aku dipaksa untuk bertahan dengan segala penerimaanku terhadap orang-orang dan tempat baru ini. Kini ketika puing hatiku telah tertinggal di sini, aku dipaksa untuk melanjutkan perjalananku yang lain. Suka tidak suka, besok adalah waktu keberangkatan untuk pulang. Memeluk kota Surabaya yang setahun ini hanya kudengar riuhnya setiap sebulan sekali ketika berhasil keluar pedalaman untuk mendapat sinyal.

 

Kuhapus air mataku dengan kasar, lalu beranjak mengemasi baju dan barang lainnya. Terasa berat seperti menata batu-bata.

 

"Bu, Bu Hanaaa." Aku amat mengenal suara itu. Kubiarkan beberapa saat untuk menenangkan detak jantung yang tak beraturan. Melihat mereka seperti menabur garam pada luka, membuat semakin perih. Murid-muridku yang menggemaskan itu adalah alasan terbesar aku ingin tetap berada di sini.

 

Aku keluar kamar menuju pintu depan dengan keadaan sudah tenang.

 

"Bu, Ibu jadi pulang besok?" tanyanya dengan suara cempreng dan logat Madura khasnya.

 

"Jadi, kan kemarin kita sudah mengadakan acara perpisahan."

"Malam ini kita mau menginap di rumah ini, terakhir kali bersama ibu guru."

Air mataku luruh tetapi segera kuusap cepat tanpa memberi kesempatan mereka melihatnya.

"Pulang saja, nanti kamu dicari emakmu." Aku memegang bahu anak itu.

 

Mereka membujuk berulang kali, akhirnya aku menyerah. Membiarkan lima anak perempuan tidur di ruang tamu bersamaku di malam terakhir itu. Udara di luar sangat dingin, tapi hatiku menghangat menatap tubuh kecil mereka yang disinari rembulan yang masuk dari celah jendela.

***

Aku telah sampai di kota yang selama ini tetap bising dari aku lahir. Lebih bising lagi dengan pemberitaan virus corona yang ganasnya sudah menggerogoti ribuan nyawa mulai akhir tahun kemarin. Sialnya, hari pertama kepulanganku di saat itu bertepatan dengan presiden mengumumkan ada 2 WNI yang terkena virus itu. Media sosial yang selama ini enggan kubuka, kuberanikan diri untuk membukanya. Seperti banjir bandang, informasi virus itu merebak dimana-mana. Hatiku menciut ingin rasanya aku kembali ke tempat teraman di pedalaman sana. Mereka tenang tanpa tahu hal mengerikan semacam ini.

 

Kupikir hari pertama kedatanganku di Surabaya akan kuhabiskan untuk berjalan-jalan di mall bersama keluarga yang selama ini telah lama kutinggalkan. Nyatanya, aku harus rela mengurung di rumah untuk menghindari virus yang sudah semakin mendunia ini.

 

“Terus rencanamu setelah ini apa, Han?” Ibu menuang teh panas ke cangkirku. Aku mengedarkan pandangan ke semua anggota keluarga yang wajah mereka masih tetap sama, meneduhkan dalam pandanganku.

 

Setelah selesai dituangkan Ibu, aku meraih cangkir itu sambil memegangi pinggirannya lalu membuka suara, “Yang jelas sih Hana pengen ngajar, tapi ternyata keadaan di sini sedang rumit seperti ini. Sementara waktu Hana melanjutkan pekerjaan menulis artikel yang sudah Hana tekuni sejak kuliah.”

 

“Kamu mau Ibu tawari mengajar di sekolah Ibu? Sekolah dari pekan lalu membuka lowongan guru tapi belum ada yang sesuai kriteria. Adanya pandemi kepala sekolah memutuskan untuk tidak melanjutkan membuka lowongan ke luar, tapi guru-guru diminta untuk mencarikan orang terdekat agar lebih aman.”

 

Aku diam seketika, semua pasang mata menatapku. Kulihat ayah menatapku sambil menurunkan kacamata bacanya. Kedua adik perempuanku menatapku sekilas lalu melanjutkan aktivitasnya mengerjakan tugas, sedangkan ibu masih menunggu jawaban di sebelahku.

 

“Ibu yakin?” tanyaku.

“Kenapa tidak? Meski kamu bukan lulusan guru kan kamu sudah ada pengalaman ngajar dari semenjak kuliah. Ini hanya untuk sementara mengisi kekosongan posisi guru.”

 

Aku masih diam, tidak menyangka tawaran mengajar akan datang secepat ini.

“Kalau kamu mau, kirim berkas dan tutorial mengajarmu untuk seleksi.”

“Boleh deh, besok aku siapkan berkasnya,” kataku.

***

Setelah beberapa hari menjalani seleksi, aku lolos menjadi guru Bahasa Indonesia di yayasan tempat ibu mengajar. Ini adalah hal yang baru bagiku untuk mengajar online. Sudah terlatih beradaptasi dengan hal baru semenjak di Bawean, membuat aku suka untuk mencoba-coba hal baru yang menantang. Bagaimana pun itu, setiap hal selalu ada tantangannya sendiri. Kupikir mengajar anak kota sama saja seperti ketika aku mengajar sewaktu kuliah dulu. Nyatanya, ketika ruang mengajar berubah menjadi online keadaan anak-anak tidak sama seperti ketika seperti di kelas biasanya. Ada yang sengaja tidak mengikuti kelas, tidak pernah mengerjakan tugas, bahkan ketika ada kelas online ada siswa yang tidak mau menyalakan kamera. Kesabaranku sungguh diuji, meski aku tahu bukan hanya kepadaku mereka bersikap demikian.

 

Awal-awal mengajar di yayasan ini aku begitu uring-uringan. Aku menjadi rindu dengan siswa-siswaku di Bawean. Aku ingin melompat mundur ke waktu ketika masih bersama mereka. Tetapi harusnya kusadari dulu awal di Bawean aku juga merasakan perasaan seberantakan ini nyatanya aku bisa menjalaninya sampai akhir. Kali ini aku yakin pasti juga bisa melewati ini semua.

 

“Han, semua butuh penyesuaian.” Ibu memegang pundakku ketika kami mengobrol di ruang tengah. Selesai mengobrol, aku masuk kamar lalu tenggelam di selimut. Lampu kamar sudah kumatikan. Ternyata seberat ini merindukan orang yang belum tahu kapan bisa kutemui lagi. Dan apakah masih bisa kutemui lagi. 

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Sehabis Isya' tadi jalan-jalan sebentar ke instagram. Melihat ada seorang teman yang membagikan postingan tentang acara di TV One yang sedang mewawancarai seorang suami yang menuntut pihak rumah sakit karena istrinya dimandikan oleh petugas pria. Parahnya, mereka juga memfoto jenazah yang telanjang tersebut, dengan alasan untuk dokumentasi. Dalam aturan Islam, menjaga aurat seorang mayat adalah sebuah keharusan. Bagaimana pun mayat harus tetap dimuliakan. 

Melihat si suami yang menangis setengah menjerit meminta pihak rumah sakit diadili, aku terenyuh. Ia sadar hal itu menjadi tanggung jawabnya. Menuntut hak istri untuk dijaga auratnya meski sudah tidak lagi bernyawa. 

Aku teringat dengan cerita Ustadz Hanan yang selalu berdoa agar ibunya dijaga auratnya oleh Allah ketika meninggal. Sebelumnya Ustadz Hanan bercerita alasan beliau kenapa sampai kepikiran untuk mendoakan demikian. Tapi aku lupa. :D 

Lalu ternyata ketika tsunami tahun 2004 menyapu bersih daratan Aceh, ibu beliau menjadi salah satu korbannya. Alhamdulillah, ibunya ditemukan dalam keadaan masih tertutup oleh baju dan jilbab. Padahal terjangan ombak yang bisa memporak-porandakan daratan, tentu sangat mudah untuk menghempaskan pakaian yang dipakai korban. Saat itu juga aku berpikir, iya juga ya, kenapa aku nggak kepikiran untuk berdoa semacam ini.

Setelah mendengar cerita ini, aku belum pernah mendoakan diriku sendiri atau ibuku dengan doa yang sama. Karena belum kebiasaan dan lagi-lagi cerita Ustadz Hanan menguap begitu saja terlupakan. 

Allah mengingatkanku lagi dengan cerita beliau ketika 2018 lalu aku berkesempatan untuk menjadi relawan di Palu. Jadi waktu itu aku mendapat pos di rumah bapak kepala adat. Kalau sore hampir tidak pernah mandi karena tidak sempat dan buka prioritas ketika di sana. Haha

Dua minggu di sana setiap hari aku mandi selalu di atas pukul 9 malam. Waktu itu listrik sering mati tiba-tiba, syukurnya di rumah kepala adat ini ada genset tapi tidak sering digunakan. Dan gempa juga masih sering mengguncang tiba-tiba. Suatu malam pas ketepatan aku yang mandi, lampu mati begitu lama. Bapak pemilik rumah meneriakiku untuk sabar sebentar karena genset sedang berusaha untuk dinyalakan. 

Di dalam kamar mandi dalam keadaan gelap dan aku tak bisa berbuat apa-apa, pikiranku kacau mengingat kemungkinan terburuk. Fyi, aku ini orangnya overthinking. Kalau takut bisa sangat parah, pikiran tidak terkendali membayangkan banyak hal. Aku jadi ingat cerita ibu-ibu tetangga bapak kepala adat, saat gempa sore itu terjadi beliau sedang mandi lalu langsung lari mengambil handuk dengan panik. Untungnya, sore menjelang Maghrib keadaan belum terlalu gelap. 

Tapi syukurnya, aku tidak mengalami seperti yang beliau ceritakan. Lampu nyala dan aku bisa melanjutkan aktivitas lagi. 

Setelah keluar dari kamar mandi, aku bersyukur berulang kali masih dijaga oleh Allah. Aku jadi teringat dengan cerita Ustadz Hanan. Beberapa hari disana aku merapalkan doa itu terus, memohon diberi keselamatan dan dijaga auratku dalam keadaan apapun. Lalu setelah pulang ke Jawa, aku lupa lagi untuk berdoa hal itu. Karena sudah merasa di tempat yang aman, jadi tidak terpikir lagi untuk berdoa seperti itu. Padahal seharusnya aku tetap merapalkannya karena untuk menjaga apa pun yang akan terjadi nantinya. Seperti halnya, dengan berita yang tersebar bulan puasa lalu di kotaku--Kediri. Ada seorang perempuan yang dijambret ketika mengendarai motor. Perempuan itu sampai terjatuh dari motor dan meninggal di tempat. Fotonya tersebar luas di media sosial dengan baju tersingkap dan bagian perutnya terlihat. 

Doa ini yang mungkin hampir sering terlupakan, padahal sangat penting untuk dimohonkan. 

*) Sorry ya, lama nggak nulis di blog jadi kaku gini



Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar

Seandainya aku bisa meminum kopi, apakah aku akan menjadi anak indie yang akan menyelipkan kopi pada beberapa tulisanku? Pertanyaan yang tidak terlalu penting itu sempat mampir di kepalaku. Aku suka senja yang menenangkan, tapi nyatanya juga tidak aku curi keindahannya untuk diabadikan pada puisi-puisiku. 

Beberapa teman suka mengunggah fotonya bersama secangkir kopi dengan menandai sebuah kedai kopi. Apakah aku juga perlu mengunggah es coklat yang aku sukai, karena ketidakberdayaanku menenggak kafein?

Organ tubuhku diciptakan bukan untuk bersahabat dengan kafein. Awalnya kukira hanya kopi yang tidak bisa kunikmati. Setiap beberapa tenggakan sudah merasuk ke tubuhku, keringat mulai terlihat, detak jantung berkejaran, dan tubuh mulai lunglai tak berdaya. Kadang, pada satu sisi perut terasa sakit atau mules. Parahnya hampir selama 24 jam aku tidak akan bisa tidur. Ternyata setelah aku meminum cappucino atau mocca, tubuhku juga bereaksi demikian. 

Efek sampingnya yang tidak aku suka, membuat aku membulatkan tekad untuk menyingkirkan minuman berkafein itu dari daftar minuman yang bisa kupesan. Hanya satu kopi yang bisa aku nikmati, kopi bapak yang aku seruput diam-diam setiap sore. Itu pun tidak banyak, mungkin jika ditakar hanya satu atau dua mili saja. Bapak tidak pernah tahu kebiasaan yang sudah aku lakukan semenjak masih di jaman putih abu-abu dulu. Sekalipun tahu, bapak juga tidak akan marah. Beliau selalu rela membagi makanan atau minuman apapun untuk anaknya. Aku suka aroma kopinya yang menguar.

Ketika aku sempat kuliah dan kerja di luar kota, salah satu hal yang paling kurindukan adalah menyeruput kopi beliau. Tapi pada akhirnya, ketika aku sudah pindah kerja di kota kelahiranku aku malah tidak lagi melakukan kebiasaan ini. Bukan karena sudah tidak suka, tapi karena ada yang menggantikanku. Beberapa keponakan bergantian menghabiskan kopi beliau, sehingga di sore hari sering aku mendapati kopinya sudah habis. 

Baru kemarin aku makan di meja makan, lalu melihat kopi beliau masih seperempat cangkir. Mumpung masih ada, aku meminumnya sedikit. Ada yang berbeda, kali ini rasa pahitnya yang dominan. Tapi tetap terasa enak. Berbeda dengan kopinya dulu yang masih ada manis-manisnya. Mungkin di umurnya yang sudah menua, bapak tidak lagi ingin menimbun banyak gula di tubuhnya. Belakangan ini aku baru menyadari kopi sachetan itu tidak sehat, tapi bersyukurnya bapak masih baik-baik saja sampai sekarang. 

Kopi pahit sore kemarin mengingatkanku pada seseorang yang amat menyukainya. "Cobain deh minum kopi pahit, itu lebih bisa dinikmati. Kalau kopi manis sama aja kamu cuma nikmati gula," katanya suatu hari yang tersisa di ingatanku. 

"Nggak ah, aku nggak bisa minum kopi. Bisa nggak tidur semaleman nanti. Bikin badan lemes."

"Aku minum kopi tetep ngantuk. Kamu aja yang aneh."

Aku masih ingat betul kejadian itu. Siang hari ketika kita mampir di kedai kopi. Saat itu dia sedang berkunjung ke kotaku. Ada kedai kopi yang kami lewati dan satu-satunya yang paling dekat dengan keberadaan kami saat itu. Daripada berjalan lebih jauh lagi, kami memutuskan untuk mampir saja di tempat itu.

Beberapa bulan mengenalnya aku belum pernah secara langsung melihat dia meminum kopi. Hanya beberapa kali dia mengirim foto kopi panasnya kepadaku atau mengunggah cangkir kopi dan buku di sisinya. 

"Kamu mau pesen kopi?" Aku membaca beberapa menu minuman yang ditawarkan.

"Nggak ah, masa siang-siang ngopi." Akhirnya kami sama-sama memesan es coklat. 

Di awal bulan Maret lalu ketika corona belum masuk ke Indonesia, ada pameran buku di kotaku. Dia menyempatkan diri untuk datang ke kotaku untuk kedua kalinya. Aku menemaninya sampai pukul 7 malam sebelum kereta kepulangannya tiba. 

Sore sebelum jadwal kepulangannya, kita mampir di kedai kopi dengan bangunan lawas yang disulap seestetik mungkin.   

"Kamu pesen kopi?" Aku melihat daftar menu dan bertanya pada dia. 

"Boleh, deh." 

"Yaudah ngopi gih, nanti aku minta dikit."

"Mau kopi apa?" Balik dia yang bertanya kepadaku.

"Terserah kamu. Apa aja boleh."

Setelah dia membaca beberapa saat buku menu, dia menjawab, "Aku pesan kopi vietnam. Nanti cobain."

Di sisi lain aku pesan susu murni hangat, nanti sebagai penawarnya jika aku meminum kopinya terlalu banyak. 

Menunggu pesanan datang, kami mengobrolkan banyak hal random. Mulai dari perbedaan bahasa sukunya yaitu Madura dan sukuku Jawa. Atau tentang perbincangan yang hangat-hangatnya saat itu tentang corona kenapa tidak bisa masuk Indonesia.

Pesanan kopi datang. Oh, aku baru tahu kalau ternyata kopi vietnam itu ada alat penyeduh di atas gelas kopinya. Paling bawah ada susu putih kental yang belum tercampur dengan kopi.

Sumber: Google


"Aku coba dulu sebelum dicampur dengan susunya." Aku mengambil cairan kopinya dengan sendok kecil.  Rasanya pahit menurutku. Lalu aku aduk agar susunya tercampur. Kurasakan lagi, sedikit ada rasa susunya.

"Kamu harus nyobain jenis kopi lainnya. Biar tahu bedanya,"katanya.

"Bukannya sama-sama pahitnya?"

"Ya tapi ada bedanya."

Untuk pertama kalinya aku meminum kopi selain kopi bapak. Sedikit demi sedikit kami sama-sama menghabiskan minuman masing-masing. 

"Mau lagi nggak? Sebelum habis nih." Dia menawari.

Aku menggeleng. Seseruput saja sudah cukup bagiku untuk tahu rasanya. 

Aku memandanginya lekat-lekat. Memperhatikannya ketika dia berbicara, caranya menglihati gelas kopinya lalu menyeruput sedikit, atau ketika dia sedang berpikir sesuatu. Mungkin sebenarnya ini bukan tentang apa yang kita minum, tapi bersama siapa minuman kita semeja. Rasa pahit kopinya tadi, tetap terasa manis di lidahku. Karena apapun yang dia sukai, aku juga akan menyukai. 

Sayangnya, mungkin saat itu adalah pertama dan terakhir kali aku meminum kopinya. Bulan April kami sempat janji akan bertemu lagi, tapi nyatanya batal karena pandemi ini. Lalu pada bulan apapun nantinya, mungkin tidak akan lagi ada pertemuan di antara kami. Karena suatu hal aku memintanya untuk pergi tanpa memberinya kesempatan untuk meninggalkan penjelasan. 

Nanti, di suatu pagi aku akan membuatkan kopi untuk seseorang yang juga akan aku minum sedikit bagiannya. Tapi nanti tidak hanya membuatkan, tapi juga akan aku temani kopinya dengan segelas teh hangat semeja dan obrolan setiap pagi. 

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
"Sebenarnya kedatanganmu ke sini untuk apa?" tanya Anna sambil membetulkan letak kaca mata minusnya. Lalu dia mengunyah sate usus yang sudah tersaji di setiap meja. Aku melihatnya sekilas dari samping, terlihat lensa kaca matanya sudah menebal menandakan minusnya makin besar. 

Aku belum menjawab, masih ada sedotan yang menyumpal mulutku. "Mau ngobrol sama kamu aja, emang nggak boleh?" Aku meletakkan gelas es jeruk yang buliran embunnya menetes ke meja. Lalu menopang dagu dengan posisi duduk menyerong ke arahnya. 

"Masa sih? Kamu nggak lagi ada masalah, kan?" 

Aku tertawa. Dalam hati mengamini pertanyaannya. Tapi untuk kali ini, aku belum membuka bicara untuk menceritakan segala gundahku. Entah, berada di dekat Anna aku tak ingin cerita apa-apa. Padahal ini adalah waktu yang aku tunggu-tunggu untuk menceritakan segala isi kepalaku yang telah penuh. Tentang kisah cintaku yang rumit, ditambah orangtua yang mendesakku untuk segera menikah, keluarga yang mengataiku wanita lupa menikah, atau tetangga yang tanpa berdosannya meledekku ketika berpapasan di depan rumah. Kepada Anna, aku ingin memulangkan segala cerita ini. Entah kenapa, aku merasa ingin dan harus mengunjunginya sampai aku mengambil cuti kerja. 

"Nggak kok." Aku berbohong. Entah kenapa, aku belum juga ingin cerita. Padahal ini hari kelima di kotanya, yang berarti hari terakhir aku bersinggah. Tiket kereta pulangku bertanggalkan esok hari. Mungkin nanti malam aku akan cerita agar menjadi kesan terakhir yang manis dan penuh haru. 

Pesanan soto daging kami belum datang, ada banyak pembeli yang harus juga dilayani. Tempat makan ini bisa dikatakan sudah luas, tapi masih saja terasa sempit karena membludaknya para pembeli.

Beberapa hari aku sudah menghabiskan waktu bersama Anna dan suaminya. Mereka orang yang riuh dalam obrolan. Membicarakan banyak hal random mulai tentang pekarangan rumah sampai hal jauh sampai pluto. Sesepele tentang bangunan tua yang kami lewati atau perilaku orang-orang berkendara juga tumpah menjadi obrolan yang melebar kemana-mana. Melihat hal itu aku berpikir, tidak ada yang menjadi rahasia di pikiran mereka. Satu sama lain dipersilakan tahu apapun yang terbesit di benak mereka.

Anna adalah teman yang aku kenal setahun lalu di sebuah seminar kepenulisan di Surabaya. Perempuan asli Jogja yang saat itu sedang berkunjung ke rumah mertuanya lalu tertarik ikut sebuah seminar. Di sana kami berkenalan lalu bertukar kontak. Kita tidak terlalu sering berkomunikasi, tapi sekali saja kami terhubung melalui whatsapp pesan kami bisa panjang layaknya sebuah cerpen. Dari situlah keakraban kami terjalin. 

Setelah dua hari aku sampai Jogja dan main ke tempatnya, aku baru tahu banyak hal tentangnya. Dia terpilih menjadi manusia yang lahir di keluarga yg dilimpahi kekayaan. Dia tumbuh menjadi orang yang cerdas dan berhati bak ibu peri. Aku selalu suka dengan cara berpikir dan kelugasannya menjelaskan banyak hal kepadaku. Perempuan yang sudah melahap banyak buku. Sudah ada ratusan eksemplar buku berbagai topik di rumahnya. Aku melihat rak berjejer rapi di ruang khusus pada sudut rumahnya. Selama ini Anna memang tidak memperlihatkan kehidupannya kepadaku. Dia jarang bercerita tentang masalah pribadi, meski kita sudah terbilang akrab meski hanya riuh di dunia maya. Dia hanya sering berbagi tentang kegiatan menulisnya.

Ditambah lagi, dia bertakdir dengan laki-laki yang penuh dengan kasih sayang dan limpahan wawasan. Mereka berdua menjadi keluarga kecil yang bertumbuh dengan melakukan banyak hal kebaikan di yayasan sosial. Setelah mendengar banyak ceritanya beberapa hari ini aku berpikir ingin menjadi dia. Tinggal di rumah megah di sebuah perumahan bergengsi di Sleman dengan suami yang meneduhkan. Hidupnya penuh dengan limpahan kemudahan dan kenikmatan. 

Kemarin-kemarin, aku yang lebih sering menghubunginya terlebih dulu untuk bercerita berbagai macam bising di kepalaku yang membutuhkan tempat untuk diluapkan. Dengannya aku merasa teduh. 

Pesanan soto kami datang. Uapnya mengangkasa dan aroma rempahnya menguar menambah selera. Sambil menyuapkan sendok demi sendok nasi soto, kami mengobrolkan banyak hal. Sesekali aku melempar pandangan ke jalanan. Beruntung kami mendapat tempat duduk yang dekat dengan pintu masuk. Pandangan kami bisa leluasa melihat jalanan yang sedang padat-padatnya di perempatan lampu merah yang hanya berjarak 3 meter di depan tempat makan ini. Netraku menangkap seorang anak kecil sekitar usia tiga tahunan duduk di atas motor di tengah kedua orang yang mungkin itu adalah orangtuanya. Matanya hitam membulat. Sepertinya dia baru selesai dimandikan, terlihat dari wajahnya yang penuh dengan bedak putih yang sengaja tidak diratakan. Cemong memenuhi wajah menambah kesan gemas pada pipi gembilnya. 

Kedua ujung bibirku sedikit melengkungkan senyum yang tertahan. Suka melihat kelucuannya. Lalu aku mengedarkan pandangan ke kedua pasangan di sampingku, aku terkejut ketika mendapati suami Anna juga memandangi anak lucu itu. Kudapati Anna sibuk dengan nasi soto sambil sesekali mengecek ponsel. Suaminya tidak mengatakan apapun, terlihat jelas bahwa dia juga melempar senyum ke anak itu meski si anak tidak melihatnya. Ketidaktahuan istrinya dia manfaatkan untuk memandangi anak itu sepuasnya. 

Ternyata aku salah jika mengira semua hal di kepala mereka mudah tertumpah. Ternyata masih ada filter di nurani suami Anna untuk menyeleksi apa saja yang pantas dikatakan. Tanpa harus bertanya aku paham, kenapa laki-laki itu tidak menceritakan kelucuan anak itu kepada istrinya. Tidak selamanya yang menurut kita lucu itu menggemaskan, bisa jadi malah menimbulkan salah paham. Si suami mungkin saja khawatir kelucuan sore itu menjadi penabur perih pada kesedihan Anna yang masih menanti kehadiran buah hati. 

Aku menjadi teringat beberapa kali di pesan whatsapp Anna mengatakan, "Doakan aku segera dipercaya menjadi ibu ya, Dea!" Aku mengamininya.

Kupikir, perempuan yang selalu menjadi tempatku cerita itu adalah orang yang kuat. Dia bijak untuk menghadapi segala masalahnya. Ternyata aku terlalu cepat berasumsi. Melalui pesan singkat, aku tidak bisa melihat sorot mata dan air mukanya. Tidak bisa benar-benar paham bagaimana perasaannya ketika aku tidak mendengar langsung getar suaranya ketika bercerita. Kupikir kalimat mohon didoakan adalah kata-kata Anna yang sedang ingin menambahkan obrolan. Karena aku tidak melihat raut sendunya atau keluhan-keluhannya padaku. Kupikir, dia selama ini masih baik-baik saja. 

Beberapa hari bersama mereka, tidak pernah ada obrolan tentang anak di antara kita bertiga. Aku sangat menjaga hal itu, mungkin juga suaminya. Hanya pernah sekali Anna mengatakan ketika kita berada di mobil dalam perjalanan, "Puluhan komik di kamarku nanti buat anakku." Lalu suara dalam mobil hening. Aku dan suaminya mungkin sama-sama bingung memberi komentar dengan kalimat apa. 

Malam harinya aku dan Anna memiliki waktu berdua di ruang tamunya. Suaminya sedang sibuk mengerjakan proyek.

"Suamiku selama ini tidak pernah menuntut apa-apa. Aku boleh bekerja, boleh di rumah, boleh ikut kegiatan apapun. Bahkan, dia juga tidak memburu-buru untuk memiliki keturunan." Mengalir segala ceritanya. Dia mencuri napas sejenak, lalu melanjutkan kisahnya. 

"Beruntungnya aku, mertua dan keluarga juga tidak pernah mengatakan komentar miring tentang aku yang belum hamil. Tapi aku sering dihantui rasa bersalah karena terlalu sibuk bekerja. Sampai aku kepikiran untuk fokus saja menjadi ibu rumah tangga dan segera melakukan promil. Mungkin ini semua salahku karena sibuk berambisi berkegiatan di luar." Sejak saat itu, aku baru paham apa yang sebenarnya dia rasakan. Orang-orang di sekitarnya begitu baik, namun dirinya sendiri yang belum bisa menerima keadaannya. 

"Tapi di sisi lain, aku juga ingin melakukan banyak hal di yayasan tempatku bekerja. Aku senang berkegiatan di sana, bertemu banyak orang." 

Detik itu juga aku merasa bersalah, pernah merasa ingin menjadi orang lain yang hidupnya terlihat lebih beruntung. Padahal aku yang lupa, semua manusia lahir dengan sepaket nikmat dan ujiannya masing-masing. Seperti salah satu firman-Nya, Dan yang ada pada sisi Allah adalah yang lebih baik. 

Sekoper cerita yang telah kukemas tidak jadi kukeluarkan isinya. Untuk kali ini, aku melebarkan ruang dan telinga untuk Anna. Meluaskan hatiku untuk menampung segala ceritanya. Semua orang sedang menanti pada versi takdirnya masing-masing. Aku menanti jodoh, Anna menanti keturunan. Pantas saja jika kemarin-kemarin kaki dan hatiku rasanya ingin segera mengunjunginya, ternyata melihat mata Anna membasah malam ini adalah jawabannya. 


Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
"Apa rencanamu setelah ini, Nik?" Seorang teman bertanya. Izza namanya, salah satu temanku di organisasi relawan. 

"Za, sebenarnya aku pengen bikin-bikin sesuatu. Project apa gitu. Tapi aku merasa sendiri, belum menemukan teman yang pas untuk jadi partner." 

Ketika mengobrol ini, aku sudah lulus kuliah dan tahun lalu menyempatkan diri main ke Jember, kota perantauanku. 

"Memangnya kenapa kalau sendiri?" Izza bertanya dengan nada dan raut wajah seriusnya. Kulihati wajahnya yang tidak dipoles riasan apapun. Ada sesuatu yang berbeda, oh frame kacamatanya baru.

"Aku perlu dikuatin orang, Za. Aku nggak bisa jalanin apa-apa sendiri. Memulai hal baru sendiri. Butuh ditemani dan apapun itu kalau mikirnya bareng-bareng pasti lebih ringan."

"Tapi, diri kamu sendiri sudah kuat belum?"

"Aku merasa nggak kuat maka dari itu aku nyari partner untuk menguatkan."

Suasana kedai mie jamur saat itu masih sepi, belum ada teman lain yang berdatangan. Izza datang lebih awal bersamaku. Mereka sengaja mengadakan pertemuan di tempat langganan kami biasa rapat karena kedatangannku.

"Anik, kamu nggak bisa sepenuhnya meminta kekuatan dari orang lain. Setiap orang kan punya sisi lemahnya masing-masing. Sebaiknya kita jangan bergantung kepada partner, harusnya diri kita sendiri yang perlu dikuatkan agar bisa saling mengisi."

"Ya maksud aku bersinergi gitu, Za." 

"Tapi yang perlu ditekankan di sini adalah keinginan kamu untuk dikuatkan dan ditemani. Jangan menunggu orang lain yang menguatkan. Mulai dari menguatkan dirimu sendiri."

Obrolan di atas membuat kepalaku bising akhir-akhir ini. Lagi-lagi aku ada di titik ingin ditemani dan dikuatkan. Pikiran itu hilang timbul, wajar ya karena aku masih dalam masa-masa penatian. Bukan lagi hanya untuk membuat project kebaikan, tapi juga menyatukan visi misi menjadi keluarga; menikah. 

Kadang aku berpikiran, ketika menikah akan lebih leluasa mengobrol dan berdiskusi apapun dengan seseorang. Merencanakan banyak project dengannya. Ketika aku down ada yang menguatkan. Tapi makin ke sini aku menyadari, ada yang salah dengan cara berpikirku. Selain karena obrolanku dengan Izza, juga karena apa kata Kale di film NKCTHI yang bagi orang-orang fakboy. "Bahagia itu tanggung jawab kita masing-masing." Begitu kata Kale. Seperti halnya berdamai  dengan diri sendiri, menjadi kuat, semua adalah tanggung jawab diri kita sendiri.

"Siapa tahu jodohmu belum datang karena masih diperbaiki kualitasnya sama Allah agar dia tepat seperti apa yang kamu butuhkan. Atau bisa jadi, kebalikannya. Kamu yang sedang diperbaiki atau dua-duanya," ucap seorang teman saat aku sedang merasa kebingungan, dimana harusnya aku mendapatkan jodoh. Ini kedengarannya konyol ya. Hm. Tapi kalau dipikir, seandainya Allah sudah mempertemukan aku dengan orang tersebut, apakah aku sendiri sudah bisa menjadi partner yang baik untuknya? Kalo lagi ngaca, jadi makin sadar, Anik belum banyak bisa apa-apa. Belajar terus, belajar untuk memantaskan diri, ya, Nik! 

Melihat Hawariyyun dan Dena Haura, Mbak @alia.aryo dengan suaminya, Kurniawan Gunadi dan istri aku merasa rumah tangga mereka adalah keluarga yang bertumbuh. Support satu sama lain untuk belajar dan memberi manfaat untuk sesama. Keduanya saling mengisi, bukan hanya salah satu pihak yang dikuatkan. Ada rasa takut yang menyusup, bisa nggak ya aku punya rumah tangga seperti mereka, yang terus belajar bertumbuh dan memberi arti untuk sekitar.

Aku sempat bertanya-tanya, dimana harusnya aku mencari jodoh yang setujuan, bisa dijadikan partner untuk berpikir dan diskusi. Di dunia nyata, aku belum menemukan laki-laki seperti ini. Bisa jadi, mungkin lingkaran pergaulanku belum luas sehingga yang kukenal orang itu-itu saja. Sudah pernah mencoba ikhtiar taaruf, tapi ya belum berjodoh. Sampai akhirnya kupikir, Allah masih memberiku waktu belajar lagi.

Aku mencoba meluaskan pergaulanku dan belajar banyak hal. Mungkin nanti entah di titik atau persimpangan mana akan dipertemukan dengan orang yang setujuan. Entah kapan nanti, dengan cara yang mengagumkan menurut Allah pastinya. 

Mas, banyak yang memburu-burumu untuk segera datang. Tapi Allah yang lebih tahu kapan waktu terbaik untuk kita bertemu. :')

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hallo, terima kasih sudah mampir di blog ini. Aku tahu pengunjung di blog ini tidak terlalu banyak dan random stranger. 

Seperti judulnya, aku sedang mencari sahabat pena. Siapapun yang mau bersahabat pena denganku bisa mengirimkan email ke cahyanix@gmail.com. Kalian boleh menggunakan second email yang tidak menunjukkan nama kalian. Boleh bercerita apa saja sesuka kalian, rahasia apa pun tanpa perlu menunjukkan identitas jika enggan. Bercerita sepanjang apa pun pasti akan kubaca, tapi ya jangan sepanjang novel lah ya. Trust me, aku akan menjaga cerita-cerita kalian sekalipun misalnya kalian berani menunjukkan identitas. Tidak ada batas waktu, kapan pun kalian menemukan tulisan ini, boleh mengirimkan email. Jika pun sudah mengirim email, kalian boleh memutuskan untuk tidak membalas emailku kapan pun jika sudah merasa tidak ingin lagi. 

Jika ada yang bertanya, kenapa aku sampai mencari sahabat pena, jawabannya karena aku ingin mempunyai teman ngobrol. Btw, aku bukan orang yang wise atau lulusan psikologi. Hanya seseorang yang suka mendengar cerita orang lain. Aku hanya bisa menjadi teman kalian berbagi agar kalian mempunyai teman untuk menceritakan apa yang menyesakkan. Jangan berekspektasi aku bisa memberikan solusi yang mujarab atau kelegaan.  

Aku pernah menggunakan aplikasi slowly untuk mendapatkan sahabat pena dari dalam dan luar negeri. Tapi ternyata tidak semudah itu. Stranger random yang aku kenal di sana beberapa ada yang hanya mengirim surat-surat pendek, ada juga karena kesibukan tidak lagi membalas surat, sehingga aku memutuskan untuk menghapus akunku. 

Pernah sempat akan berkirim surat melalui pos dengan seorang teman yang aku kenal di tumblr, tapi karena suatu hal sampai berganti tahun dia tidak sempat mengirim ke aku. Mungkin nanti lain kali jika kita sudah akrab boleh lah ya pake surat pos. 

Aku ingin mencari orang yang benar-benar serius untuk bercerita, bukan orang yang hanya iseng untuk berkenalan. Jika ada surat masuk yang hanya iseng saja, maka aku tidak akan membalasnya. Sekali lagi, aku bukan siapa-siapa. Hanya orang yang suka mendengar. 

Semakin ke sini aku makin sedikit memiliki waktu untuk bisa mengobrol berkualitas dengan teman. Oleh karena itu, ini upayaku untuk bisa mengobrol dengan siapa pun agar lebih kenal sudut pandang baru. Btw, surat yang sudah dikirim akan kubalas jika ada waktu senggang. Jadi, tidak bisa secepat aku membalas chatting. 

Terima kasih :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sebelum new normal, aku sempat mendengarkan podcast Iqbal Hariadi tentang skill apa yang harus kita miliki ketika new normal sudah diberlakukan. Ada 4 skill yaitu personal branding, belajar online, bekerja jarak jauh, dan satu lagi aku lupa. Hal yang ingin aku bahas adalah kemampuan belajar online. Bagi orang-orang mungkin terkesan aneh. Belajar online itu tinggal duduk manis di depan layar laptop atau ponsel dan memperhatikan materi. Semudah itu, semua orang pasti bisa melakukannya. Tapi ternyata untuk diriku dan mungkin beberapa orang di luar sana merasa tidak semudah itu ferguso. Contoh kecilnya adalah satu dari sekian banyak podcast hanya pada Iqbal pilihanku bertahan. Uhuy haha karena Iqbal pembawaannya nyantai dan memberi insight baru. Aku download spotify hanya untuk mendengarkan podcast Iqbal seorang. Meski banyak podcast lain yang kata orang menarik, entah aku belum tertarik. Kadang pun dengerin podcast Iqbal juga nggak sampai akhir kalau sudah bosen. Aku paling tidak bisa fokus lama-lama jika online. That's why aku juga tidak suka menerima telepon atau chatting lama-lama. Bosen. Mending kita ketemu pesen minum ngobrol seharian tanpa pegang hp. Aseeeli aku bakal betah. Ett, kita, kita sama siapa nih. Wkwkwk

Jadi gini, sebelum adanya pandemi ini aku sudah tidak asing dengan namanya kulwap (Kuliah whatsapp), webinar, atau kelas online macam lain. Aku beberapa kali ikut kelas online semacam ini jauh-jauh tahun sebelum kita kenal corona, misalnya kelas menulis, parenting, motivasi, masalah anak stunting, memilih sekolah terbaik untuk anak, atau bahkan kelas gizi anak. Masih single tapi udah kemaruk belajarnya macam-macam. Teman di dalam grup adalah emak-emak. Ketika memperkenalkan diri, kadang hanya aku yang masih single, kalau beruntung ada beberapa singlelillah lain di dalamnya. Pernah beberapa kali ikut yang berbayar, tapi seringnya yang gratisan. Hahaaa. 

Aku pernah ikut kelas Bengkel Diri milik Ummu Balqis. Kelas yang jadi dambaan banyak gadis dan para emak. Karena pemberi materinya adalah orang yang diidolakan banyak perempuan. Membaca banyak testimoni tentang kelas ini di instagram kebanyakan bagus-bagus. Yaiyalahh Maemunah, kalau testimoni buruk mana mungkin diposting. Wkwk Aku terpengaruh dan menjadi tertarik untuk ikut dengan harapan dapat ilmu untuk memperbaiki diri. *uhuk

Tapi ternyata, setelah mengikuti banyak grup gratisan dan beberapa kelas online yang berbayar aku jadi sadar kelas online tidak cocok untuk diriku yang suka goleran di kasur sambil mendengarkan materi. Ketiduran, bosen lama-lama nyimak materi akhirnya main instagram lalu chat numpuk males buka. Btw, dulu memang belum musimnya orang pakai Zoom, Kaigi, Google Meet, atau aplikasi meeting lain. Masih menggunakan via suara di whatsapp atau medsos lain. Aku lebih suka bertemu tatap muka, mendengarkan secara langsung, dan memperhatikan gerak-gerik pemateri. Rasanya seperti tenggelam pada obrolan meski aku hanya diam. Beberapa lalu ditawari teman ikut kelas onlinenya yang gratis. Aku tidak mau. Gratis pun percuma kalau hanya meramaikan ponsel buang-buang kuota dan aku tidak menyimak.

Pada bulan Februari lalu aku sempat mendaftar kelas pranikah lagi. Jangan diketawain ya ikut kelas beginian. Haha kali ini offline maka dari itu aku tertarik. Ehh ternyata, ketabrak corona sehingga kelas harus online. Kesel pas itu, kesel banget uring-uringan. Aku memaksa diri untuk ikut kelasnya, tapi tetap saja bosan. Sampai 10 kelas berakhir aku hanya sedikit mengikuti materi. Hari Ahad pekan ini semua tugas harus dikumpulkan dan aku masih mengerjakan dua atau tiga saja. Malas mengerjakan tugasnya karena memang sudah nggak excited. Tapi kalo nggak diseriusi kok sayang banget sudah bayar.  Rasanya hanya buang-buang uang. Ohya, ada satu hal lagi yang membuat aku tidak excited yaitu pematerinya. Aku tidak mendapat hal baru dari para pematerinya. Dari awal nyimak ternyata materinya adalah hal-hal yang bisa dipelajari dari buku atau bahkan internet. Hal yang sudah biasa dibahas. Padahal kupikir dengan ikut kelas berbayar seperti ini akan mendapatkan penyegaran materi yang berbeda dari lainnya. Nominalnya juga lumayan lho padahal. 

Apalagi panitia dari kelas ini adalah teman kerjaku sendiri. Ngerasa sungkan, nggak enak hati kalau sampai aku tidak mengerjakan tugas sama sekali. Lengkap sudah rasanya ke-setengah hati-an ini. Wkwk

Mulai malam ini aku mencoba menata niat meski masih belum terkumpul seperempat untuk mengerjakan tugas dan mendengarkan serta menyimak materi yang sudah ada di grup dari awal. Meski berat rasanya seperti bawa batu bata. Yasudahlah, aku kerjakan entah sampai pada titik mana nanti. 
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

Foto saya
Anik's Blog
Hi, ini tempat pulangnya Anik. Berisi hal-hal random yang rasanya perlu ditulis.
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Tumblr

Member Of

1minggu1cerita

Categories

  • Blogwalking
  • Calon Ibu
  • FIKSI
  • Flashback
  • Kerelawanan
  • Obrolan Cermin
  • Review Ala-Ala
  • Sudut Pandang Pernikahan

Postingan Populer

  • Ketika Aku Masih Diingat
  • Butiran Candu
  • Sepucuk Surat Merah Hati (2)
  • (CERPEN) Tangisan di Rumah Marni
  • Teman Main Kirana

Blog Archive

  • Maret 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Juli 2023 (2)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (2)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (4)
  • Juli 2020 (3)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (17)
  • April 2020 (4)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (9)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (1)
  • Maret 2019 (7)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • Oktober 2018 (6)
  • Maret 2018 (22)
  • Februari 2018 (14)
  • Agustus 2017 (7)
  • Juli 2017 (11)
  • Juni 2017 (11)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (14)
  • Desember 2016 (12)
  • November 2016 (2)

Created with by ThemeXpose