facebook twitter instagram Tumblr

Anik's Blog

 

Mungkin ada dua tahun terhitung aku tidak menulis dan mengunjungi blog ini. Lagi-lagi kesepian yang membuatku kembali lagi ke sini. Sebelum menulis postingan ini, aku melihat sejenak beberapa tulisan teman lama. Dulu ada beberapa yang suka menulis kejombloannya di blog, lalu sekarang ternyata sudah menikah aja. Ternyata waktu berjalan sangat cepat.

Berulang kali refleks bilang ke diri sendiri, aku masih gini-gini aja. Segera kutepis pernyataan itu. Mungkin kalau dibandingkan dengan orang lain, aku akan kalah jauh. Banyak teman yang sudah menikah, memiliki anak, kerja di BUMN, jadi PNS, punya usaha, atau bahkan sudah punya rumah sendiri. Sedangkan aku, belum menjadi salah satu yang aku sebutkan di atas.

Tetapi pencapaian itu ada yang adakalanya juga bukan hanya tentang materi, tapi juga perihal kedewasaan. Lebih baik memang aku tidak membandingkan diriku dengan yang lain, tapi dengan diriku yang sebelumnya.

Untuk menjadi Anik yang sekarang, aku harus melewati perjalanan yang sangat terjal. Allah lebih tahu untuk mengasah mentalku memang harus dengan ujian yang berat. Diuji dengan kehilangan, rasa takut, sakit, dan lain sebagainya. Ternyata itu semua mencetak Anik yang sekarang yang jauh berbeda dengan Anik dulu yang labil, emosional, dan tergesa-gesa. Meski sekarang Anik juga masih akan terus berproses untuk menjadi lebih baik lagi.

Bagaimana aku bisa menjadi seorang istri, ibu, pengusaha, atau berhasil memiliki rumah sendiri, jika aku saja masih labil dan childish. Allah lebih tahu, yang aku butuhkan saat ini adalah perbaikan diri dulu. Bukan harta, jabatan, atau kebahagiaan duniawi yang semu.

Di usia 25 tahunku di 2 tahun lalu rasanya takdir seakan bilang, “Selamat datang di hidup yang sesungguhnya.”

Ternyata ya memang benar, menjadi dewasa tidak semulus yang aku dulu kira. Tapi bukan berarti, menjadi anak-anak akan terus menyenangkan. Apapun itu, proses dalam hidup ini tidak perlu disesali. Mau tidak mau, suka tidak suka, hidup akan terus berlanjut dengan segala tantangannya.

 Anik, tulisan pertama di tahun 2023.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sehabis Isya' tadi jalan-jalan sebentar ke instagram. Melihat ada seorang teman yang membagikan postingan tentang acara di TV One yang sedang mewawancarai seorang suami yang menuntut pihak rumah sakit karena istrinya dimandikan oleh petugas pria. Parahnya, mereka juga memfoto jenazah yang telanjang tersebut, dengan alasan untuk dokumentasi. Dalam aturan Islam, menjaga aurat seorang mayat adalah sebuah keharusan. Bagaimana pun mayat harus tetap dimuliakan. 

Melihat si suami yang menangis setengah menjerit meminta pihak rumah sakit diadili, aku terenyuh. Ia sadar hal itu menjadi tanggung jawabnya. Menuntut hak istri untuk dijaga auratnya meski sudah tidak lagi bernyawa. 

Aku teringat dengan cerita Ustadz Hanan yang selalu berdoa agar ibunya dijaga auratnya oleh Allah ketika meninggal. Sebelumnya Ustadz Hanan bercerita alasan beliau kenapa sampai kepikiran untuk mendoakan demikian. Tapi aku lupa. :D 

Lalu ternyata ketika tsunami tahun 2004 menyapu bersih daratan Aceh, ibu beliau menjadi salah satu korbannya. Alhamdulillah, ibunya ditemukan dalam keadaan masih tertutup oleh baju dan jilbab. Padahal terjangan ombak yang bisa memporak-porandakan daratan, tentu sangat mudah untuk menghempaskan pakaian yang dipakai korban. Saat itu juga aku berpikir, iya juga ya, kenapa aku nggak kepikiran untuk berdoa semacam ini.

Setelah mendengar cerita ini, aku belum pernah mendoakan diriku sendiri atau ibuku dengan doa yang sama. Karena belum kebiasaan dan lagi-lagi cerita Ustadz Hanan menguap begitu saja terlupakan. 

Allah mengingatkanku lagi dengan cerita beliau ketika 2018 lalu aku berkesempatan untuk menjadi relawan di Palu. Jadi waktu itu aku mendapat pos di rumah bapak kepala adat. Kalau sore hampir tidak pernah mandi karena tidak sempat dan buka prioritas ketika di sana. Haha

Dua minggu di sana setiap hari aku mandi selalu di atas pukul 9 malam. Waktu itu listrik sering mati tiba-tiba, syukurnya di rumah kepala adat ini ada genset tapi tidak sering digunakan. Dan gempa juga masih sering mengguncang tiba-tiba. Suatu malam pas ketepatan aku yang mandi, lampu mati begitu lama. Bapak pemilik rumah meneriakiku untuk sabar sebentar karena genset sedang berusaha untuk dinyalakan. 

Di dalam kamar mandi dalam keadaan gelap dan aku tak bisa berbuat apa-apa, pikiranku kacau mengingat kemungkinan terburuk. Fyi, aku ini orangnya overthinking. Kalau takut bisa sangat parah, pikiran tidak terkendali membayangkan banyak hal. Aku jadi ingat cerita ibu-ibu tetangga bapak kepala adat, saat gempa sore itu terjadi beliau sedang mandi lalu langsung lari mengambil handuk dengan panik. Untungnya, sore menjelang Maghrib keadaan belum terlalu gelap. 

Tapi syukurnya, aku tidak mengalami seperti yang beliau ceritakan. Lampu nyala dan aku bisa melanjutkan aktivitas lagi. 

Setelah keluar dari kamar mandi, aku bersyukur berulang kali masih dijaga oleh Allah. Aku jadi teringat dengan cerita Ustadz Hanan. Beberapa hari disana aku merapalkan doa itu terus, memohon diberi keselamatan dan dijaga auratku dalam keadaan apapun. Lalu setelah pulang ke Jawa, aku lupa lagi untuk berdoa hal itu. Karena sudah merasa di tempat yang aman, jadi tidak terpikir lagi untuk berdoa seperti itu. Padahal seharusnya aku tetap merapalkannya karena untuk menjaga apa pun yang akan terjadi nantinya. Seperti halnya, dengan berita yang tersebar bulan puasa lalu di kotaku--Kediri. Ada seorang perempuan yang dijambret ketika mengendarai motor. Perempuan itu sampai terjatuh dari motor dan meninggal di tempat. Fotonya tersebar luas di media sosial dengan baju tersingkap dan bagian perutnya terlihat. 

Doa ini yang mungkin hampir sering terlupakan, padahal sangat penting untuk dimohonkan. 

*) Sorry ya, lama nggak nulis di blog jadi kaku gini



Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar

Seandainya aku bisa meminum kopi, apakah aku akan menjadi anak indie yang akan menyelipkan kopi pada beberapa tulisanku? Pertanyaan yang tidak terlalu penting itu sempat mampir di kepalaku. Aku suka senja yang menenangkan, tapi nyatanya juga tidak aku curi keindahannya untuk diabadikan pada puisi-puisiku. 

Beberapa teman suka mengunggah fotonya bersama secangkir kopi dengan menandai sebuah kedai kopi. Apakah aku juga perlu mengunggah es coklat yang aku sukai, karena ketidakberdayaanku menenggak kafein?

Organ tubuhku diciptakan bukan untuk bersahabat dengan kafein. Awalnya kukira hanya kopi yang tidak bisa kunikmati. Setiap beberapa tenggakan sudah merasuk ke tubuhku, keringat mulai terlihat, detak jantung berkejaran, dan tubuh mulai lunglai tak berdaya. Kadang, pada satu sisi perut terasa sakit atau mules. Parahnya hampir selama 24 jam aku tidak akan bisa tidur. Ternyata setelah aku meminum cappucino atau mocca, tubuhku juga bereaksi demikian. 

Efek sampingnya yang tidak aku suka, membuat aku membulatkan tekad untuk menyingkirkan minuman berkafein itu dari daftar minuman yang bisa kupesan. Hanya satu kopi yang bisa aku nikmati, kopi bapak yang aku seruput diam-diam setiap sore. Itu pun tidak banyak, mungkin jika ditakar hanya satu atau dua mili saja. Bapak tidak pernah tahu kebiasaan yang sudah aku lakukan semenjak masih di jaman putih abu-abu dulu. Sekalipun tahu, bapak juga tidak akan marah. Beliau selalu rela membagi makanan atau minuman apapun untuk anaknya. Aku suka aroma kopinya yang menguar.

Ketika aku sempat kuliah dan kerja di luar kota, salah satu hal yang paling kurindukan adalah menyeruput kopi beliau. Tapi pada akhirnya, ketika aku sudah pindah kerja di kota kelahiranku aku malah tidak lagi melakukan kebiasaan ini. Bukan karena sudah tidak suka, tapi karena ada yang menggantikanku. Beberapa keponakan bergantian menghabiskan kopi beliau, sehingga di sore hari sering aku mendapati kopinya sudah habis. 

Baru kemarin aku makan di meja makan, lalu melihat kopi beliau masih seperempat cangkir. Mumpung masih ada, aku meminumnya sedikit. Ada yang berbeda, kali ini rasa pahitnya yang dominan. Tapi tetap terasa enak. Berbeda dengan kopinya dulu yang masih ada manis-manisnya. Mungkin di umurnya yang sudah menua, bapak tidak lagi ingin menimbun banyak gula di tubuhnya. Belakangan ini aku baru menyadari kopi sachetan itu tidak sehat, tapi bersyukurnya bapak masih baik-baik saja sampai sekarang. 

Kopi pahit sore kemarin mengingatkanku pada seseorang yang amat menyukainya. "Cobain deh minum kopi pahit, itu lebih bisa dinikmati. Kalau kopi manis sama aja kamu cuma nikmati gula," katanya suatu hari yang tersisa di ingatanku. 

"Nggak ah, aku nggak bisa minum kopi. Bisa nggak tidur semaleman nanti. Bikin badan lemes."

"Aku minum kopi tetep ngantuk. Kamu aja yang aneh."

Aku masih ingat betul kejadian itu. Siang hari ketika kita mampir di kedai kopi. Saat itu dia sedang berkunjung ke kotaku. Ada kedai kopi yang kami lewati dan satu-satunya yang paling dekat dengan keberadaan kami saat itu. Daripada berjalan lebih jauh lagi, kami memutuskan untuk mampir saja di tempat itu.

Beberapa bulan mengenalnya aku belum pernah secara langsung melihat dia meminum kopi. Hanya beberapa kali dia mengirim foto kopi panasnya kepadaku atau mengunggah cangkir kopi dan buku di sisinya. 

"Kamu mau pesen kopi?" Aku membaca beberapa menu minuman yang ditawarkan.

"Nggak ah, masa siang-siang ngopi." Akhirnya kami sama-sama memesan es coklat. 

Di awal bulan Maret lalu ketika corona belum masuk ke Indonesia, ada pameran buku di kotaku. Dia menyempatkan diri untuk datang ke kotaku untuk kedua kalinya. Aku menemaninya sampai pukul 7 malam sebelum kereta kepulangannya tiba. 

Sore sebelum jadwal kepulangannya, kita mampir di kedai kopi dengan bangunan lawas yang disulap seestetik mungkin.   

"Kamu pesen kopi?" Aku melihat daftar menu dan bertanya pada dia. 

"Boleh, deh." 

"Yaudah ngopi gih, nanti aku minta dikit."

"Mau kopi apa?" Balik dia yang bertanya kepadaku.

"Terserah kamu. Apa aja boleh."

Setelah dia membaca beberapa saat buku menu, dia menjawab, "Aku pesan kopi vietnam. Nanti cobain."

Di sisi lain aku pesan susu murni hangat, nanti sebagai penawarnya jika aku meminum kopinya terlalu banyak. 

Menunggu pesanan datang, kami mengobrolkan banyak hal random. Mulai dari perbedaan bahasa sukunya yaitu Madura dan sukuku Jawa. Atau tentang perbincangan yang hangat-hangatnya saat itu tentang corona kenapa tidak bisa masuk Indonesia.

Pesanan kopi datang. Oh, aku baru tahu kalau ternyata kopi vietnam itu ada alat penyeduh di atas gelas kopinya. Paling bawah ada susu putih kental yang belum tercampur dengan kopi.

Sumber: Google


"Aku coba dulu sebelum dicampur dengan susunya." Aku mengambil cairan kopinya dengan sendok kecil.  Rasanya pahit menurutku. Lalu aku aduk agar susunya tercampur. Kurasakan lagi, sedikit ada rasa susunya.

"Kamu harus nyobain jenis kopi lainnya. Biar tahu bedanya,"katanya.

"Bukannya sama-sama pahitnya?"

"Ya tapi ada bedanya."

Untuk pertama kalinya aku meminum kopi selain kopi bapak. Sedikit demi sedikit kami sama-sama menghabiskan minuman masing-masing. 

"Mau lagi nggak? Sebelum habis nih." Dia menawari.

Aku menggeleng. Seseruput saja sudah cukup bagiku untuk tahu rasanya. 

Aku memandanginya lekat-lekat. Memperhatikannya ketika dia berbicara, caranya menglihati gelas kopinya lalu menyeruput sedikit, atau ketika dia sedang berpikir sesuatu. Mungkin sebenarnya ini bukan tentang apa yang kita minum, tapi bersama siapa minuman kita semeja. Rasa pahit kopinya tadi, tetap terasa manis di lidahku. Karena apapun yang dia sukai, aku juga akan menyukai. 

Sayangnya, mungkin saat itu adalah pertama dan terakhir kali aku meminum kopinya. Bulan April kami sempat janji akan bertemu lagi, tapi nyatanya batal karena pandemi ini. Lalu pada bulan apapun nantinya, mungkin tidak akan lagi ada pertemuan di antara kami. Karena suatu hal aku memintanya untuk pergi tanpa memberinya kesempatan untuk meninggalkan penjelasan. 

Nanti, di suatu pagi aku akan membuatkan kopi untuk seseorang yang juga akan aku minum sedikit bagiannya. Tapi nanti tidak hanya membuatkan, tapi juga akan aku temani kopinya dengan segelas teh hangat semeja dan obrolan setiap pagi. 

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
"Apa rencanamu setelah ini, Nik?" Seorang teman bertanya. Izza namanya, salah satu temanku di organisasi relawan. 

"Za, sebenarnya aku pengen bikin-bikin sesuatu. Project apa gitu. Tapi aku merasa sendiri, belum menemukan teman yang pas untuk jadi partner." 

Ketika mengobrol ini, aku sudah lulus kuliah dan tahun lalu menyempatkan diri main ke Jember, kota perantauanku. 

"Memangnya kenapa kalau sendiri?" Izza bertanya dengan nada dan raut wajah seriusnya. Kulihati wajahnya yang tidak dipoles riasan apapun. Ada sesuatu yang berbeda, oh frame kacamatanya baru.

"Aku perlu dikuatin orang, Za. Aku nggak bisa jalanin apa-apa sendiri. Memulai hal baru sendiri. Butuh ditemani dan apapun itu kalau mikirnya bareng-bareng pasti lebih ringan."

"Tapi, diri kamu sendiri sudah kuat belum?"

"Aku merasa nggak kuat maka dari itu aku nyari partner untuk menguatkan."

Suasana kedai mie jamur saat itu masih sepi, belum ada teman lain yang berdatangan. Izza datang lebih awal bersamaku. Mereka sengaja mengadakan pertemuan di tempat langganan kami biasa rapat karena kedatangannku.

"Anik, kamu nggak bisa sepenuhnya meminta kekuatan dari orang lain. Setiap orang kan punya sisi lemahnya masing-masing. Sebaiknya kita jangan bergantung kepada partner, harusnya diri kita sendiri yang perlu dikuatkan agar bisa saling mengisi."

"Ya maksud aku bersinergi gitu, Za." 

"Tapi yang perlu ditekankan di sini adalah keinginan kamu untuk dikuatkan dan ditemani. Jangan menunggu orang lain yang menguatkan. Mulai dari menguatkan dirimu sendiri."

Obrolan di atas membuat kepalaku bising akhir-akhir ini. Lagi-lagi aku ada di titik ingin ditemani dan dikuatkan. Pikiran itu hilang timbul, wajar ya karena aku masih dalam masa-masa penatian. Bukan lagi hanya untuk membuat project kebaikan, tapi juga menyatukan visi misi menjadi keluarga; menikah. 

Kadang aku berpikiran, ketika menikah akan lebih leluasa mengobrol dan berdiskusi apapun dengan seseorang. Merencanakan banyak project dengannya. Ketika aku down ada yang menguatkan. Tapi makin ke sini aku menyadari, ada yang salah dengan cara berpikirku. Selain karena obrolanku dengan Izza, juga karena apa kata Kale di film NKCTHI yang bagi orang-orang fakboy. "Bahagia itu tanggung jawab kita masing-masing." Begitu kata Kale. Seperti halnya berdamai  dengan diri sendiri, menjadi kuat, semua adalah tanggung jawab diri kita sendiri.

"Siapa tahu jodohmu belum datang karena masih diperbaiki kualitasnya sama Allah agar dia tepat seperti apa yang kamu butuhkan. Atau bisa jadi, kebalikannya. Kamu yang sedang diperbaiki atau dua-duanya," ucap seorang teman saat aku sedang merasa kebingungan, dimana harusnya aku mendapatkan jodoh. Ini kedengarannya konyol ya. Hm. Tapi kalau dipikir, seandainya Allah sudah mempertemukan aku dengan orang tersebut, apakah aku sendiri sudah bisa menjadi partner yang baik untuknya? Kalo lagi ngaca, jadi makin sadar, Anik belum banyak bisa apa-apa. Belajar terus, belajar untuk memantaskan diri, ya, Nik! 

Melihat Hawariyyun dan Dena Haura, Mbak @alia.aryo dengan suaminya, Kurniawan Gunadi dan istri aku merasa rumah tangga mereka adalah keluarga yang bertumbuh. Support satu sama lain untuk belajar dan memberi manfaat untuk sesama. Keduanya saling mengisi, bukan hanya salah satu pihak yang dikuatkan. Ada rasa takut yang menyusup, bisa nggak ya aku punya rumah tangga seperti mereka, yang terus belajar bertumbuh dan memberi arti untuk sekitar.

Aku sempat bertanya-tanya, dimana harusnya aku mencari jodoh yang setujuan, bisa dijadikan partner untuk berpikir dan diskusi. Di dunia nyata, aku belum menemukan laki-laki seperti ini. Bisa jadi, mungkin lingkaran pergaulanku belum luas sehingga yang kukenal orang itu-itu saja. Sudah pernah mencoba ikhtiar taaruf, tapi ya belum berjodoh. Sampai akhirnya kupikir, Allah masih memberiku waktu belajar lagi.

Aku mencoba meluaskan pergaulanku dan belajar banyak hal. Mungkin nanti entah di titik atau persimpangan mana akan dipertemukan dengan orang yang setujuan. Entah kapan nanti, dengan cara yang mengagumkan menurut Allah pastinya. 

Mas, banyak yang memburu-burumu untuk segera datang. Tapi Allah yang lebih tahu kapan waktu terbaik untuk kita bertemu. :')

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hallo, terima kasih sudah mampir di blog ini. Aku tahu pengunjung di blog ini tidak terlalu banyak dan random stranger. 

Seperti judulnya, aku sedang mencari sahabat pena. Siapapun yang mau bersahabat pena denganku bisa mengirimkan email ke cahyanix@gmail.com. Kalian boleh menggunakan second email yang tidak menunjukkan nama kalian. Boleh bercerita apa saja sesuka kalian, rahasia apa pun tanpa perlu menunjukkan identitas jika enggan. Bercerita sepanjang apa pun pasti akan kubaca, tapi ya jangan sepanjang novel lah ya. Trust me, aku akan menjaga cerita-cerita kalian sekalipun misalnya kalian berani menunjukkan identitas. Tidak ada batas waktu, kapan pun kalian menemukan tulisan ini, boleh mengirimkan email. Jika pun sudah mengirim email, kalian boleh memutuskan untuk tidak membalas emailku kapan pun jika sudah merasa tidak ingin lagi. 

Jika ada yang bertanya, kenapa aku sampai mencari sahabat pena, jawabannya karena aku ingin mempunyai teman ngobrol. Btw, aku bukan orang yang wise atau lulusan psikologi. Hanya seseorang yang suka mendengar cerita orang lain. Aku hanya bisa menjadi teman kalian berbagi agar kalian mempunyai teman untuk menceritakan apa yang menyesakkan. Jangan berekspektasi aku bisa memberikan solusi yang mujarab atau kelegaan.  

Aku pernah menggunakan aplikasi slowly untuk mendapatkan sahabat pena dari dalam dan luar negeri. Tapi ternyata tidak semudah itu. Stranger random yang aku kenal di sana beberapa ada yang hanya mengirim surat-surat pendek, ada juga karena kesibukan tidak lagi membalas surat, sehingga aku memutuskan untuk menghapus akunku. 

Pernah sempat akan berkirim surat melalui pos dengan seorang teman yang aku kenal di tumblr, tapi karena suatu hal sampai berganti tahun dia tidak sempat mengirim ke aku. Mungkin nanti lain kali jika kita sudah akrab boleh lah ya pake surat pos. 

Aku ingin mencari orang yang benar-benar serius untuk bercerita, bukan orang yang hanya iseng untuk berkenalan. Jika ada surat masuk yang hanya iseng saja, maka aku tidak akan membalasnya. Sekali lagi, aku bukan siapa-siapa. Hanya orang yang suka mendengar. 

Semakin ke sini aku makin sedikit memiliki waktu untuk bisa mengobrol berkualitas dengan teman. Oleh karena itu, ini upayaku untuk bisa mengobrol dengan siapa pun agar lebih kenal sudut pandang baru. Btw, surat yang sudah dikirim akan kubalas jika ada waktu senggang. Jadi, tidak bisa secepat aku membalas chatting. 

Terima kasih :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sebelum new normal, aku sempat mendengarkan podcast Iqbal Hariadi tentang skill apa yang harus kita miliki ketika new normal sudah diberlakukan. Ada 4 skill yaitu personal branding, belajar online, bekerja jarak jauh, dan satu lagi aku lupa. Hal yang ingin aku bahas adalah kemampuan belajar online. Bagi orang-orang mungkin terkesan aneh. Belajar online itu tinggal duduk manis di depan layar laptop atau ponsel dan memperhatikan materi. Semudah itu, semua orang pasti bisa melakukannya. Tapi ternyata untuk diriku dan mungkin beberapa orang di luar sana merasa tidak semudah itu ferguso. Contoh kecilnya adalah satu dari sekian banyak podcast hanya pada Iqbal pilihanku bertahan. Uhuy haha karena Iqbal pembawaannya nyantai dan memberi insight baru. Aku download spotify hanya untuk mendengarkan podcast Iqbal seorang. Meski banyak podcast lain yang kata orang menarik, entah aku belum tertarik. Kadang pun dengerin podcast Iqbal juga nggak sampai akhir kalau sudah bosen. Aku paling tidak bisa fokus lama-lama jika online. That's why aku juga tidak suka menerima telepon atau chatting lama-lama. Bosen. Mending kita ketemu pesen minum ngobrol seharian tanpa pegang hp. Aseeeli aku bakal betah. Ett, kita, kita sama siapa nih. Wkwkwk

Jadi gini, sebelum adanya pandemi ini aku sudah tidak asing dengan namanya kulwap (Kuliah whatsapp), webinar, atau kelas online macam lain. Aku beberapa kali ikut kelas online semacam ini jauh-jauh tahun sebelum kita kenal corona, misalnya kelas menulis, parenting, motivasi, masalah anak stunting, memilih sekolah terbaik untuk anak, atau bahkan kelas gizi anak. Masih single tapi udah kemaruk belajarnya macam-macam. Teman di dalam grup adalah emak-emak. Ketika memperkenalkan diri, kadang hanya aku yang masih single, kalau beruntung ada beberapa singlelillah lain di dalamnya. Pernah beberapa kali ikut yang berbayar, tapi seringnya yang gratisan. Hahaaa. 

Aku pernah ikut kelas Bengkel Diri milik Ummu Balqis. Kelas yang jadi dambaan banyak gadis dan para emak. Karena pemberi materinya adalah orang yang diidolakan banyak perempuan. Membaca banyak testimoni tentang kelas ini di instagram kebanyakan bagus-bagus. Yaiyalahh Maemunah, kalau testimoni buruk mana mungkin diposting. Wkwk Aku terpengaruh dan menjadi tertarik untuk ikut dengan harapan dapat ilmu untuk memperbaiki diri. *uhuk

Tapi ternyata, setelah mengikuti banyak grup gratisan dan beberapa kelas online yang berbayar aku jadi sadar kelas online tidak cocok untuk diriku yang suka goleran di kasur sambil mendengarkan materi. Ketiduran, bosen lama-lama nyimak materi akhirnya main instagram lalu chat numpuk males buka. Btw, dulu memang belum musimnya orang pakai Zoom, Kaigi, Google Meet, atau aplikasi meeting lain. Masih menggunakan via suara di whatsapp atau medsos lain. Aku lebih suka bertemu tatap muka, mendengarkan secara langsung, dan memperhatikan gerak-gerik pemateri. Rasanya seperti tenggelam pada obrolan meski aku hanya diam. Beberapa lalu ditawari teman ikut kelas onlinenya yang gratis. Aku tidak mau. Gratis pun percuma kalau hanya meramaikan ponsel buang-buang kuota dan aku tidak menyimak.

Pada bulan Februari lalu aku sempat mendaftar kelas pranikah lagi. Jangan diketawain ya ikut kelas beginian. Haha kali ini offline maka dari itu aku tertarik. Ehh ternyata, ketabrak corona sehingga kelas harus online. Kesel pas itu, kesel banget uring-uringan. Aku memaksa diri untuk ikut kelasnya, tapi tetap saja bosan. Sampai 10 kelas berakhir aku hanya sedikit mengikuti materi. Hari Ahad pekan ini semua tugas harus dikumpulkan dan aku masih mengerjakan dua atau tiga saja. Malas mengerjakan tugasnya karena memang sudah nggak excited. Tapi kalo nggak diseriusi kok sayang banget sudah bayar.  Rasanya hanya buang-buang uang. Ohya, ada satu hal lagi yang membuat aku tidak excited yaitu pematerinya. Aku tidak mendapat hal baru dari para pematerinya. Dari awal nyimak ternyata materinya adalah hal-hal yang bisa dipelajari dari buku atau bahkan internet. Hal yang sudah biasa dibahas. Padahal kupikir dengan ikut kelas berbayar seperti ini akan mendapatkan penyegaran materi yang berbeda dari lainnya. Nominalnya juga lumayan lho padahal. 

Apalagi panitia dari kelas ini adalah teman kerjaku sendiri. Ngerasa sungkan, nggak enak hati kalau sampai aku tidak mengerjakan tugas sama sekali. Lengkap sudah rasanya ke-setengah hati-an ini. Wkwk

Mulai malam ini aku mencoba menata niat meski masih belum terkumpul seperempat untuk mengerjakan tugas dan mendengarkan serta menyimak materi yang sudah ada di grup dari awal. Meski berat rasanya seperti bawa batu bata. Yasudahlah, aku kerjakan entah sampai pada titik mana nanti. 
Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Older Posts

About Me

Foto saya
Anik's Blog
Hi, ini tempat pulangnya Anik. Berisi hal-hal random yang rasanya perlu ditulis.
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Tumblr

Member Of

1minggu1cerita

Categories

  • Blogwalking
  • Calon Ibu
  • FIKSI
  • Flashback
  • Kerelawanan
  • Obrolan Cermin
  • Review Ala-Ala
  • Sudut Pandang Pernikahan

Postingan Populer

Blog Archive

  • Maret 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Juli 2023 (2)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (2)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (4)
  • Juli 2020 (3)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (17)
  • April 2020 (4)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (9)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (1)
  • Maret 2019 (7)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • Oktober 2018 (6)
  • Maret 2018 (22)
  • Februari 2018 (14)
  • Agustus 2017 (7)
  • Juli 2017 (11)
  • Juni 2017 (11)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (14)
  • Desember 2016 (12)
  • November 2016 (2)

Created with by ThemeXpose