![]() |
Source: Kincir.com
Kemarin
tengah malam sekitar pukul 23:30 WIB, aku mengurungkan memejamkan mata karena
melihat notifikasi whatsapp. Ada nama
seseorang tertera di sana. Agak heran, di tengah malam seperti ini ada
seseorang yang bisa dikatakan tidak terlalu dekat denganku menghubungi. Dia adalah
temannya temanku yang kuliah di Surabaya. Kami belum pernah bertemu sebelumnya.
Hanya sering berkomunikasi melalui chat,
tapi hubungan kami kurasa tidak terlalu dekat karena di antara kami jarang
membicarakan masalah pribadi. Pikiranku mulai bingung melihat emot menangis
yang dia kirim. Ada apa, batinku.
Tanpa berpikir
panjang, langsung kuketik balasan untuk dia, Kamu kenapa? Dia bercerita kalau barusan sedang mimpi buruk. Mimpi buruk apa, aku penasaran. Di sisi
lain, aku juga penasaran kenapa dia menceritakannya kepadaku di tengah malam
pula. Bukankah setelah mimpi buruk lalu menghubungi seseorang adalah tindakan
yang refleks? Kalau refleks, tentu yang dia hubungi adalah sahabat yang
dijadikan tempat cerita biasanya. Entah kenapa, kali ini dia memilih bercerita
kepadaku.
|
| smeaker.com |
Tumblr adalah
media sosial platform blog yang
digandrungi penulis dan remaja sekarang ini. Sayangnya, akhir-akhir ini santer
berita bahwa Tumblr diblokir karena terdapat banyak konten pornografi. Aku pernah
memakai akun ini, tapi tidak terlalu aktif. Hanya sesekali posting lalu
kutinggalkan akunku bersarang laba-laba tanpa pernah merawatnya. Meskipun begitu,
aku ikut bersedih hati melihat teman-temanku yang kebingungan karena tidak bisa
lagi menemukan tulisan penulis favoritnya di sana atau bahkan mereka kehilangan
rumah untuk bercerita.
Postingan
ini kutulis karena aku melihat banyak sekali story kesedihan teman-teman, entah yang kukenal atau tidak. Aku tahu
mereka begitu kecewa, dan aku pernah merasakan di posisi itu. Aku kehilangan
banyak sekali dokumen tulisanku di laptop karena virus yang diam-diam
menggerogotinya. Beruntungnya, semua tulisanku hampir semua sudah kuposting di
blog ini—meski akhirnya semuanya aku hapus beberapa bulan silam.
Aku
mulai takut kalau ternyata blogger ini juga diblokir. Karena menurutku, jika
alasannya karena pornografi, tentu di situs mana saja sedikit banyak pasti ada
konten tersebut. Apalagi blogger yang kita ketahui begitu bebas digunakan oleh
siapa saja dengan gratis. Semua media sosial kurasa juga ada konten
pornografinya. Karena jujur saja, secara tidak sengaja aku melihat akun-akun
dengan gambar tak senonoh itu berseliweran di akun yang direkomendasikan dan explore instagram. Akun dan postingan
itu muncul dengan sendirinya tanpa perlu dicari. Yah begitulah, selalu saja ada tangan-tangan jahil yang menggunakan fasilitas untuk hal negatif. Imbasnya, kita-kita yang berusaha memanfaatkan fasilitas untuk berkarya dan kebaikan jadi tak punya wadah lagi.
Akun instagram
@sundarihana (buleknya Kirana) yang aktif menulis di Tumblr menuliskan
kekecewaannya di Instagram. Dia bilang, aku kehilangan rumah tempat bercerita dan
bersembunyi. Tumblr adalah tempat membuang isi pikiranku.
Sama seperti
dia, aku merasa di blog ini seperti rumah tempatku berkeluh-kesah. Tempatku bercerita
saat tak ada orang lain yang mau mendengar, atau saat hatiku ingin bersuara
melalui aksara. Blog ini juga menjadi tempat persembunyian paling aman. Tidak
banyak orang mengenalku di dunia nyata yang tahu aku aktif ngeblog di sini. Aku
memang sengaja tidak memberitahu mereka dan menyembunyikan segala rasa yang
tertumpah ruah di sini.
Berbeda
dengan orang lain yang lebih ingin dikenal sebagai penulis atau blogger dengan orang-orang
disekitarnya. Bagiku, itu tidak terlalu berarti. Yang terpenting dalam kaca
mataku adalah bagaimana aku bisa nyaman menumpahkan segala rasa di sini tanpa
ada yang mempertanyakan tentang kebenarannya serta identitas orang yang aku
kisahkan.
Aku paling
tidak suka jika menulis suatu hal lalu dia bertanya, “Yang ada di ceritamu itu
maksudnya si X, ya?” itu adalah hal privasi yang tidak perlu ditanyakan
menurutku. Meskipun aku mengumbar beberapa cerita keseharianku di sini, tapi
aku tidak pernah membuka identitasnya. Untuk apa? Ya untuk kenyamanan bersama. Aku
bercerita di sini bukan bermaksud membuka aib orang, aku hanya ingin bercerita
dan meluapkan segala isi pikiran dengan diakhiri sebuah solusi yang aku gali
dari diriku sendiri.
Bercerita
seperti ini adalah cara untuk berbicara dan menyugesti diriku sendiri. Caraku untuk mengajak diri
sendiri menggali apa yang sebenarnya diriku inginkan. Apa yang sebenarnya aku
rasakan. Tanpa tertumpah melalui aksara seperti ini, segala yang dipikiran akan
tetap menjadi maya yang sulit untuk ditelusuri. Dengan sudah tersusun rapi menjadi
aksara, setidaknya aku bisa memiliki draft dari perasaan dan pemikiranku.
Itulah alasanku
aku menyembunyikan blog ini dari teman-teman nyataku. Aku lebih suka orang yang
mengenalku di dunia maya yang membaca tulisanku. Karena aku tidak mau jika ada
teman dunia nyata membaca tulisanku, mereka ada prasangka atau kesalahpahaman
lain. Itu juga alasanku kenapa aku tidak terlalu suka bercerita atau
menumpahkan perasaanku di media sosial. Karena media sosialku berisi dengan
orang-orang yang kukenal. Serta aku tidak ingin tulisanku berserakan di media
sosial yang nantinya menimbulkan hal-hal sensitif seperti komentar-komentar
tidak jelas dan tak nyambung. Cukup di tempat ini saja aku mengarsipkannya
dengan rapi.
Dan semoga,
tempat ini tetap berdiri kokoh tanpa ada yang menutupnya. Jika sampai rumah ini tergusur, aku tak tahu harus mencari rumah mana lagi untuk kujadikan tempat teduhan hati ini. :’)
![]() |
| Doc. Pribadi |
Mungkin
bagi kalian bertemu orang baru adalah hal yang menyenangkan. Berbasa-basi
dengan orang asing atau mengobrol panjang lebar dengan seseorang adalah hal
yang baik menurut kalian. Tapi bagiku, itu amat sulit. Membutuhkan energi yang
banyak untuk bisa berlama-lama tenggelam dalam sebuah pembicaraan dengan
seseorang yang baru kukenal. Jika pun aku terlihat baik-baik saja saat bertemu
orang baru, percayalah, sebenarnya dalam diriku sedang tidak nyaman, kaku, dan
berpikir keras tentang bahan obrolan. Yang ada malah aku terlihat kikuk, salah
tingkah, senyum atau tertawa dipaksakan untuk memecah suasana.
Aku adalah
seorang introvert, lupa apa jenisnya. Untuk menjawab telepon dan membalas chat dari
seseorang saja aku harus berpikir panjang. Aku tidak suka ramai di chat atau
status orang kecuali itu hal yang penting atau sudah mengenal dekat orang
tersebut.
Bukanlah
hal mudah seorang introvert untuk pergi kemana-mana. Karena, orang dalam tipe
ini membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa beradaptasi dan mengakrabi
orang-orang baru. Orang tipe ini lebih suka diam di suatu ruangan sibuk dengan
dirinya sendiri atau bepergian seorang diri. Terdengar aneh mungkin, banyak
orang tidak suka kemana-mana sendirian. Sedangkan aku, paling suka menghabiskan
waktu seorang diri.
Akhir-akhir
ini, aku takut dengan diriku sendiri. Takut jika aku tidak bisa mempunyai teman
yang lebih banyak. Aku tidak suka kesepian tapi aku menyukai kesendirian.
Bingung, kan?
Aku bukan
orang yang kelihatan periang. Lebih tepatnya aku sangat terlihat pendiam. Tidak
mudah untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata di depan publik. Sekali pun
dalam pikiranku banyak hal menggelayut, tapi hanya beberapa saja yang berhasil
keluar dari otakku.
Apalagi,
semenjak aku kecil, orangtuaku mendidik dengan cara menakut-nakuti. Melarang ini
–itu sesukanya tanpa pernah memberi penjelasan yang jelas. Yang ada, saat sudah
mendewasa, aku besar dengan pribadi yang penakut, tidak menyukai tantangan, dan
hal baru. Sampai-sampai aku kebingungan bagaimana caranya agar aku bisa menjadi
orang yang berani melakukan banyak hal, berani menerima tantangan, dan suka
untuk melakukan hal-hal baru.
Aku merasa
ruang gerakku sempit. Aku merasa hanya memilih orang-orang tertentu untuk
menjalin jaringan. Dan orang-orang itulah yang menurutku nyaman dan bisa aku
ajak bicara. Hasilnya, tak banyak hal yang kutemukan dan lakukan. Hidupku serasa
monoton. Hanya berkutat pada orang-orang itu saja dan pada hal yang sama setiap
harinya.
Hal yang
paling membuatku takut yaitu aku mulai membenci diriku sendiri. Aku mulai
membentuk diriku menjadi orang lain. Nyatanya, tetap tak bisa. Sulit mengubah
hal-hal dasar pada diri kita. Berulang kali aku membisiki diriku sendiri, bahwa setiap orang itu unik. Sebeda apa pun
kamu dengan orang lain, atau bahkan senyeleneh apa pun itu, tetap akan ada
orang yang menyukai dirimu.
Adakalanya,
aku juga bisa asyik, periang, atau pembawa suasana. Tapi tidak dengan semua
orang. Hanya orang-orang tertentu yang sudah akrab. Jika kalian bertemu aku
dengan tertawa lepas, suka bercerita, dan terbuka menceritakan apa saja,
berarti aku sedang nyaman. Jika tidak, bukan berarti aku tidak suka. Tapi aku
butuh waktu untuk bisa biasa kepada kalian. :’)
Kamu
pernah tahu rasanya cemburu? Sakit, bukan? Sangat sakit. Ada yang menghujam
hatimu begitu dalam. Ada yang menghantam sampai rasanya perih. Aku merasakannya,
pun sampai aku mengetik postingan ini. Namun, aku cemburu bukan kepada seorang
laki-laki yang menjadi idolaku. Pun juga bukan laki-laki yang diam-diam aku
suka. Tapi kepada seorang sahabatku, dia seorang perempuan. Jangan dikira aku
ini suka sesama jenis. Bukan, aku tahu perasaan ini tidak seperti itu.
Aku cemburu
saat melihat sahabat dekat, sahabat paling lengket, pokok best friend bangetlah. Tiba-tiba dia terlihat dekat dengan kawan
yang lain. Dia terlihat lebih bisa tertawa lepas dengan kawan itu daripada
denganku. Dia terlihat lebih bahagia, senyumnya lebih sumringah, dan sering
menghabiskan waktu berdua bersama. Dia tak lagi mengajakku untuk pergi seperti
biasanya. Di situlah aku merasa posisiku
ada yang menggantikan.
Di antara
kami tidak ada suatu konflik yang membuat semua ini terjadi. Selama kami kenal,
Alhamdulillah tidak ada permasalahan serius yang membuat kami bersitegang. Selama
ini kami begitu terbuka, mencoba mengerti agar tidak terjadi prasangka, dan
kami menjaga persahabatan kami dengan tidak menggunjing satu sama lain di
belakang. Aku amat mengenalnya, sekali pun aku ada salah, dia pasti menegurku. Dia
pasti mengingatkanku. Seperti yang pernah dia katakan sebelumnya bahwa kami
adalah sahabat sesurga yang saling
menyayangi karena Allah.
Sayangnya,
rasa sayangku kepadanya terlalu dalam. Aku tahu, bahwa sikap seperti ini salah.
Dia berhak berteman dengan siapa saja, memilih teman yang lain untuk diajaknya
keluar, dan satu hal lagi yang harus aku ingat, bahwa temannya dia bukan hanya
aku. Dia berhak untuk memiliki teman sebanyak apa pun itu. Mungkin aku lupa
tentang itu semua. Aku terlalu egois sampai akhirnya ada rasa memiliki dalam
diriku. Ada sesuatu yang hilang jika aku tidak lagi sering bersamanya.
Mungkin
ini berlebihan bagi kalian, tapi begitulah, aku terlalu menyayanginya juga
berlebihan. Sampai aku tak bisa membendung perasaan ini hingga mataku basah
tadi pagi. Aku menangis sesenggukan. Tidak bisa menahan, kalau aku amat cemburu
melihat sahabatku dengan yang lain.
Aku jadi
teringat, saat masih duduk di kelas 2 SD, kakak perempuanku menikah dengan
laki-laki yang berasal dari kota sebelah. Kakakku dibawa suaminya untuk tinggal
bersamanya. Aku merasa ada orang asing yang merebut perhatiannya dariku. Sampai-sampai
aku selalu memaksa kakakku untuk mengajakku ke rumah mertua dan kontrakannya
untuk menginap. Setiap seminggu sekali, aku diajak menginap di sana. Setiap mereka
keluar, aku selalu ikut meskipun tidak diajak.
Aku tidak
ingin kehilangan sosok yang selama ini begitu dekat denganku. Aku tidak ingin
orang yang selama ini perhatian kepadaku, lalu tiba-tiba mengalihkannya kepada
orang lain. Tidak ada yang bisa menggantikanku. Titik. Begitulah, rasa egoisku
selalu muncul.
Beberapa
kali ini terjadi kepadaku. Misalnya kepada teman laki-laki SMA yang sekampus
denganku, dan sekarang dia sudah punya dunia pergaulan sendiri tanpa membawa
aku ke dalamnya. Atau teman SMP-ku yang pernah kucemburui karena terlalu asyik
mengobrol dengan kawan yang lain. Sampai di waktu ini aku menyimpulkan bahwa
aku ini adalah seorang yang pencemburu.
Karena aku
sudah bukan anak kecil lagi, aku mencoba untuk memahami keadaan ini. Aku mencoba
untuk mengajak bicara diriku sendiri. Mencoba menenangkan diri sendiri adalah
satu-satunya cara yang bijak menurutku. Sampai tulisan ini diposting, aku tak
membicarakan masalah ini secara tatap mata atau personal chat kepada seseorang.
Karena aku tahu, pasti mereka menganggap aku ini seperti anak kecil. Dan sebenarnya
aku sudah tahu bagaimana cara menyikapi hal ini. Hanya saja, kemarin sampai
tadi pagi aku masih kalut sehingga amarah masih membelengguku.
Aku jadi
ingat sebuah ucapan seseorang kepadaku beberapa tahun silam. Dia bilang seperti
ini, “Kamu,
A, B, dan C sama-sama ada di hatiku. Tidak ada dari kalian yang posisinya lebih
tinggi, kalian sama. Tapi kalian sudah mempunyai tempat masing-masing di ruang
hatiku. Dan itu tidak bisa tergantikan.”
Kalau pun
dia sedang bersama yang lain, bukan berarti dia ingin berpindah hati. Mungkin dia
ingin mewarnai hari-harinya dengan orang-orang yang berbeda. Dia ingin lebih
ramai hidupnya dengan banyaknya orang yang Allah pertemukan. Ada saatnya kita
bersama, dan ada saatnya kita membiarkan untuk sendiri-sendiri agar kerinduan
itu ada. Seperti halnya kalimat yang membutuhkan spasi agar mudah dipahami,
begitu juga persahabatan kami yang membutuhkan jarak agar tak ada kebosanan
yang berserak.
Aku juga
pernah dengar, apalah arti kehilangan jika sejatinya manusia tidak pernah memiliki.
Rasa sakit itu ada, karena aku merasa memiliki terlalu dalam dan menyayangi
terlalu berlebihan.
Dan satu
hal lagi, rasa sakit itu selalu mengajarkan kedewasaan seperti halnya saat ini.
:’) Namun sebenarnya, tidak ada yang menyakiti atau disakiti dalam hal ini.
Kalian pernah ngerasain, nggak? Di posisi
yang begitu lelah, akan tetapi kalian tetap tidak mau berhenti karena ingin bergerak pada hari itu. Sebenarnya tidak ada yang
menyuruh, bahkan memaksa untuk melakukannya. Hal itu juga bukan hal yang harus
dilakukan pada hari itu juga. Hanya saja, agar bergerak lebih cepat memang
lebih baik kalian melakukan banyak hal tersebut.
Hari ini aku merasakannya. Aku menunggu
dosen sampai habis Dhuhur, ke perpus harus naik-turun mencari buku, mengurusi peminjaman yang harus
bolak-balik karena dapat denda, ngambil surat di dekanat, ini dan itu. Jujur,
rasanya lelah banget. Tapi tubuh ini entah kenapa seperti ada yang mengontrol
untuk terus bergerak, berjalan, bahkan melakukan banyak hal.
Padahal jam siang itu adalah waktu
dimana aku merasakan kantuk. Kalau sudah begitu, aku akan meninggalkan apa saja
setelah Dhuhur untuk tidur. Pokoknya aku harus tidur kalau nggak mau sore nanti
kepalaku pusing. Hasilnya, aku baru bisa tidur setelah semua misiku kelar hari
ini yaitu setelah Sholat Ashar. Sebenarnya nggak baik sih tidur setelah Sholat
Ashar, tapi karena memang sudah lelah dan kantuk, akhirnya aku memberi hak
tubuhku untuk istirahat.
| Stickpng.com |
Beberapa
bulan terakhir ini aku sudah jarang aktif di media sosial, entah itu twitter,
facebook, dan instagram. Masih memakainya hanya untuk melihat beberapa akun
saja, bukan untuk mengunggah foto atau membuat status. Aku lebih sering memakai
whatsapp. Itu pun juga tidak sangat aktif—tidak sering membuat status. Karena akhir-akhir
ini aku memang sudah tidak sering membuat status dan sudah bosan dengan namanya
media sosial. Sampai-sampai, setiap aku membuka akunku, jarang ada
pemberitahuan. Padahal dulu pemberitahuanku sering ramai. Sekarang sepi sekali.
Jadi tambah malas untuk membuka media sosial.
Di
tengah kemalasan itu, muncul sesuatu yang baru bagiku yaitu google+. Sebenarnya
media sosial ini tidak baru, hanya saja memang tidak banyak digunakan oleh
masyarakat, entah kurang familiar atau fiturnya yang kurang lengkap. Akan tetapi,
aku lebih suka media sosial ini. Bahkan, sekarang aku lebih sering
membuka-tutup akun ini. Untuk apa? Untuk blogwalking.
Sukaku sama
google+ itu termasuk bukan media sosial sembarangan. Maksudnya, tidak semua
orang punya akun ini. Tidak seperti facebook yang sudah merebak di semua
kalangan masyarakat, entah itu anak-anak, om, tante, mbah, mbak, atau mas-mas. Sebenarnya
banyak orang memiliki akun google+ karena akun google memang sepaket bisa
digunakan di fitur mana saja, misalnya gmail, google+, youtube, dll. Tapi tidak
semua orang menggunakannya.
Beruntung,
ada banyak teman kenalanku yang blogger, sehingga aku mempunyai banyak teman
yang menggunakan google+. Dan aku mem-follow
mereka. Nah, di beranda google+ inilah nantinya akan berseliweran link-link
blog mereka. Ini memudahkan aku untuk blogwalking
pada blog-blog yang terkoneksi dengan akun google+ nya.
Tidak
seperti facebook atau twitter yang berisi status curhatan nggak jelas atau link
berita hoax, di google+ ini aku bisa mendapat banyak bacaan blog yang bergizi. Sebenarnya
tergantung siapa yang kita follow
sih, alhamdulillah akun yang aku follow
aman dari hoax. Teman-temanku kebanyakan bercerita tentang keseharian, review produk, motivasi, pengetahuan
dengan sumber yang jelas dan lainnya. Ini bermanfaat banget buat kalian yang
suka membaca dan blogwalking.
Sekali pun
nggak kenal dengan pemilik blog, tapi di dunia perbloggeran sah-sah saja kita
mau nimbrung di komen. Beda dengan facebook atau twitter yang kebanyakan orang
menganggap harus kenal dekat untuk nimbrung dan berteman dengan akunnya. Karena
nih, di media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram memang sangat
sensitif. Komentar salah sedikit bisa berbuntut panjang.
Teman-teman
blog yang selama ini kukenal amat menjaga etika di internet. Postingannya tidak
ada yang berbau provokasi, menggunakan bahasa yang sopan, dan memberikan respon
positif. Karena memang, orang-orang ngeblog bertujuan untuk membagikan atau
mendapatkan ilmu. Beda dengan orang yang hanya bermedsos untuk senang-senang.
Pada dasarnya,
di tengah kemajuan teknologi ini kita tidak hanya dituntut untuk melek
teknologi, tapi juga bijak menggunakannya.
Seperti
biasa, aku selalu merasa terbebani kalau sehari nggak nge-post. Mungkin bener apa yang pernah aku tulis lalu. Seseorang yang
rutin melakukan suatu hal selama 7 hari berturut-turut, maka itu akan menjadi
kebiasaan yang sudah menjadi karakter kita. Sebenarnya sudah ngantuk sekali,
tapi ada dalam diriku maksa untuk menulis.
Aku punya
banyak ide. Tapi sayangnya, aku mengurungkan untuk menulis hari ini. Karena tenaga
dan pikiranku sudah terforsir untuk memikirkan skripsi. Aku mencari data dari
kemarin malam nggak nemu-nemu. Dan aku stress mikir itu. pokoknya hari ini,
pikiranku tercurahkan untuk skripsi. Aku nggak dateng rapat, aku nggak
kemana-mana, cuma malam ini ada tanggung jawab ada jadwal ngelesin di lembaga
akhirnya aku berangkat dengan muka murung dan hati yang nggak keruan.
Berulang
kali aku menyugesti diri sendiri. Sabar,
Nik. Allah selalu memberi kemudahan dalam kesulitan. Sebuah perjuangan itu
nggak mulus gitu aja. Lalu sepulang ngelesin tadi pukul 9 malam, sambil buka
puasa yang tertunda dari habis Maghrib tadi aku cari video di youtube. Aku keinget
Gitasav, dan ku search lah akunnya. Video
pertama yang kutonton tentang pernikahan. Kebetulan video terbarunya itu. Aku
nonton sampai habis dengan sedikit nggak fokus. Akhirnya aku meluncur ke
blognya. Stalking bentar lalu aku menemukan tulisan lama dia tentang
perjuangannya kuliah di Jerman.
Aku
pernah menemui status orang, aku lupa namanya karena tidak mengenalnya. Bunyinya
seperti ini, Imam Ali pernah mengatakan, “Didiklah
anak-anakmu 25 tahun sebelum lahir.” Artinya pendidikan anak dimulai jauh hari
sebelum orangtuanya menikah yaitu dengan cara mendidik diri mereka sendiri dan
mencarikan bagi anak turunannya rahim yang salehah.
25
tahun sebelum lahir sama saja sebelum kita dilahirkan. Jika kita mempersiapkan
mendidik satu generasi sebelum lahir, sama saja dengan mendidik generasi
berikut-berikutnya. Begitu juga, di saat kita mendidik diri sendiri di masa
ini, sama saja dengan mendidik anak-anak kita kelak.
Jujur,
beberapa bulan terakhir ini aku berkeinginan untuk menikah muda. Karena alasan
yang hanya mementingkan diriku sendiri. Tapi semakin ke sini, aku banyak
menemukan perbincangan, tulisan, dan artikel yang mengatakan bahwa pernikahan
itu bukan hanya tentang kesiapan untuk menerima seseorang dalam hidup kita. Namun,
pernikahan itu lebih kompleks. Kita harus menyiapkan bermacam-macam hal untuk
siap menjalani ibadah yang waktunya paling
lama ini. Mungkin dengan cara ini Allah menegurku untuk tidak terlalu
terburu-buru. Allah ingin hamba yang
belum begitu baik ini untuk mempersibuk memperbaiki diri.
Dulu
semester awal, aku belum pernah kepikiran tentang rumah tangga, mendidik anak,
dan hal-hal yang berbau serius. Tapi usia yang membawa pikiranku untuk
tenggelam pada hal-hal yang mau tidak mau harus aku pelajari. Tidak ada yang
pernah menyuruhku untuk mempelajari tentang pernikahan dan parenting. Entah, aku juga tidak tahu dapat bisikan darimana selama
ini.
Di usia
yang semakin mendewasa banyak hal yang
kutemukan dengan sendirinya. Hal itu terbesit begitu saja saat aku menghadapi
suatu permasalahan atau peristiwa. Sampai aku sadar, sebenarnya yang membuat kita
dewasa itu adalah usia. Ya memang, usia tidak menjadi patokan seseorang sudah
benar-benar dewasa. Banyak orang yang sudah berumur, nyatanya masih belum
dewasa pemikirannya. Banyak anak yang masih belia, tapi pemikirannya sudah
seperti orang dewasa. Bisa jadi, itu semua karena pengalaman, lingkungan, dan
konten apa yang dikonsumsinya.
Sebenarnya
aku tidak sering berada di lingkungan orang dewasa. Lingkungan sekitarku juga
banyak yang tidak tertarik dengan parenting
dan ilmu pernikahan. Ada sih, tapi tidak terlalu banyak. Pokoknya entahlah, aku
tidak tahu kenapa begitu serius untuk mempelajari ilmu ini.
Meskipun
aku mempelajarinya dengan mencuri-curi waktu, misalnya saat ada waktu kosong
aku blogwalking pada akun-akun ibu
rumahtangga dengan membaca cerita tentang anak, suami, dan rumah tangga mereka.
Aku juga mengoleksi buku-buku tentang pernikahan dan parenting. Dengan terlihat
lugunya aku pasrah saat ditertawai teman-temanku. Katanya bacaanku sudah
seperti orang dewasa.
Tapi aku
cuek saja. Karena bagiku, mempersiapkan pernikahan dan mendidik anak itu bukan
hanya membaca setelah menikah lalu dipraktikkan. Tapi dimana kita membaca
berulang kali, meresapi, dan mempraktikkkannya juga berulang kali. Semua itu membutuhkan
proses persiapan yang panjang.
Tapi di
sisi lain, kita tidak hanya belajar dari buku. Bisa jadi dari kebiasaan
seseorang, dari sebuah peristiwa, dan lingkungan. Aku sering berkumpul dan
mengamati kebiasaan teman-teman yang menurutku mereka lebih dewasa dari diriku.
Aku memperhatikan mereka saat marah,
saat berbicara, mengontrol emosinya, menghadapi suatu masalah, dan lain-lain. Lalu
dari itu semua terbentuk sebuah karakter baru dalam diriku.
Aku menyadari
sebuah kesalahan yang baru saja aku
sadari. Aku adalah orang yang emosional, mudah meluapkan emosi pada media
sosial, mudah terbawa suasana, dan sulit untuk mengendalikan diri sendiri. Aku malu
sekali rasanya pernah marah dengan orang, berprasangka buruk, membuka aib
orang, mudah memutuskan suatu hal saat marah, dan hal childish lainnya.
Sampai hari
ini, aku mengingat-ingat dari tahun ke tahun sedikit banyak perubahan pada
diriku sehingga terbentuklah hal yang baru pada diriku. Meski belum sempurna
baik dan masih banyak hal yang harus kupelajari.
Hal yang
ingin kusampaikan sebenarnya adalah kalau kita menyadari bahwa kelak setiap
manusia akan mendidik dan mempersiapkan generasi bangsa, pastilah mereka akan
menyiapkan masing-masing dirinya untuk menjadi sebaik-baiknya guru. Mereka berbuat
baik bukan semata hanya untuk menggugurkan kewajiban yang dititahkan Allah. Tapi
karena menyadari, bahwa dari satu karakter dalam dirinya bisa turun pada
generasinya kelak. Pastinya semua orang tidak ingin melihat generasi penerusnya
mewarisi sifat buruk darinya.
Kalau pun
ada orang yang belum bisa dewasa padahal usianya sudah menua, positif thinking
saja, kelak akan ada waktunya dia menjadi lebih dewasa dari saat itu. Setiap
orang berproses mendewasa dengan cara yang berbeda karena banyak faktor. Tidak bisa
disamakan, pada usia ini si A,B,C harus mampu begini-begini. Ada yang lambat
dan ada yang cepat.
Karena aku
pernah merasakan, sebenarnya saat aku
masih terlihat seperti anak kecil atau melakukan hal-hal buruk lainnya, bukan
karena aku ini egois tidak mau belajar. Bukan karena itu karakterku dari kecil
dan bersikeukeuh untuk mempertahankan. Tapi
dari pengalamanku sendiri, itu semua karena atas ketidaktahuanku. Ibarat orang
belajar di sekolah, aku pernah tidak masuk saat pelajaran tentang mengelola
emosi sehingga aku ketertinggalan bab materi.
Seperti
yang sudah kutulis di atas, semua itu membutuhkan proses belajar yang panjang. Andai
saja, pendidikan di Indonesia ini meluluskan siswanya yang benar-benar bisa
mengerti esensi belajar dan menerapkan ilmunya, mungkin bertahun-tahun hanya
segelintir orang yang bisa lulus. Karena apa? Karena selama ini pendidikan di
negara ini lebih mengajarkan kita untuk menghafal dan mendapat nilai bagus. Sampai-sampai
kebanyakan orang lupa tentang sebuah arti belajar sampai dia menua. Banyak orang mengira belajar hanya untuk anak sekolah dan kuliah. Padahal setiap harinya kita
ini belajar tentang apa pun itu, entah kecakapan hidup, mengelola diri,
tanggung jawab, dan lainnya. Ilmu di dunia ini tidak akan habis jika kita
belajar ribuan tahun pun. Karena pada dasarnya, sepandai-pandainya manusia, ada
Maha Pandai yang menguasai semua bidang ilmu.
Kalau
ada yang bilang bulan Maret rezekinya seret, itu cuma mitos. Allah memberikan
rezeki kepada semua hamba-Nya setiap detik, menit, dan kapan pun hamba itu
meminta serta membutuhkannya. Rezeki itu bukan hanya tentang uang. Bagiku, kita
bisa beribadah hari ini dengan tepat waktu juga termasuk rezeki. Dimana nggak
semua orang bisa menemui di awal waktu sholat.
Bisa jadi,
bagi kita sholat di awal waktu itu begitu mudah. Tapi di luar sana orang yang
masih sibuk bekerja, mengajar, atau bahkan selalu punya waktu sholat di akhir,
anugerah terbaik menurutnya adalah sholat di awal waktu.
Tanpa kita
tahu, bisa jadi mungkin hari ini kita bisa terkena penyakit hepatitis. Tapi karena
Allah menjaga, virus itu tidak bisa masuk dalam tubuh kita. Bisa jadi, hari ini
dompet kita hilang. Tapi karena Allah menjaga, pencopet itu mengurungkan
niatnya karena ingin buang air besar.
Begitulah,
makna rezeki itu luas. Segala hal kenikmatan dan kemudahan dalam segala urusan
kita juga termasuk rezeki yang Allah beri.
Meski ini
bukan awal tahun, tapi besar harapanku untuk selalu memulai hari dengan yang
lebih baik. Kapan pun itu, semoga kita selalu bisa menjadi yang lebih baik dari
kemarin.
Bersyukur
kepada Allah, karena sampai detik ini kita masih diberikan napas untuk
mengarungi perjalanan sampai batas. Kita masih diberi kesempatan untuk
melakukan banyak hal, dan semoga di usia kita yang semakin berkurang ini,
banyak hal positif dan produktif yang bisa kita lakukan. Semoga doa yang sudah
menjuntai panjang ke langit segera dikembalikan kepada kita dengan
sebaik-baiknya pengabulan doa.





