facebook twitter instagram Tumblr

Anik's Blog

Semakin meluas pemahaman seseorang, maka semakin baik sudut pandang tentang kriteria pasangannya. Semakin dewasa seseorang, semakin sederhana yang diinginkannya. Dulu aku pengen punya suami yang setia, perhatian, kerja mapan, dan rentetan kriteria lain. Makin ke sini aku sadar, karakter-karakter suami yang dulu aku inginkan bisa diefisienkan menjadi "baik secara agama dan akhlaknya." Aku juga makin sadar, nggak ada di dunia ini orang yang benar-benar sabar, baik, bijaksana, dan lainnya. Karena kita semua diciptakan dengan sifat manusiawi yaitu lupa dan khilaf. Hanya saja yang membedakan adalah siapa yang selalu ingin belajar menjadi lebih baik. Pun aku sendiri juga bukan orang yang selalu baik, pemahaman agama belum paripurna. Masih banyak kurangnya dimana-mana. Setidaknya, sama-sama menjadikan diri orang yang selalu ingin belajar. Itu sudah cukup menurutku.

Lalu tentang mapan, menurutku definisi mapan bukan tentang dia sudah punya rumah dan gaji dua digit. Cukup memiliki pekerjaan dan bertanggung jawab kepada anak istri menurutku sudah kategori mapan. Jumlah gaji itu bukan tolak ukur bisa hidup bahagia dan tenang. Gaji banyak tapi angsuran tercecer dimana-mana bikin tidur tambah tidak nyenyak. Malah aku sudah tidak tertarik lagi dengan pria mapan yang bergaji banyak dan berkedudukan terpandang. Karena yang lebih penting bukan berapa kekayaan yang dia miliki, tapi bagaimana pemahamannya tentang uang dan kebermanfaatan hidup. 

Masalah finansial memang hal yang krusial dan sensitif. Setiap orang mempunyai pemahaman tentang uang masing-masing. Bagiku uang itu bukan tujuan, tapi alat. Kita boleh ingin kaya dan punya penghasilan banyak. Tapi kekayaan yang kita punya adalah alat yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Nah, penting juga ngobrolin masalah ini ke calon pasangan sih biar nggak salah paham ketika sudah menikah. Ternyata ada orang yang menyuruh istrinya bekerja untuk mendapatkan tambahan gaji, menimbun kekayaan untuk kepentingan perut sendiri, dan ada juga yang tidak mengizinkan istri mengikuti kegiatan  sosial yang dirasa hanya menguras tenaga tapi tidak memberikan keuntungan materi. Kalau dipikir-pikir, ternyata luas sekali ya masalah uang. Bukan hanya tentang siapa yang memegang kendali keuangan dan bagaimana menggunakannya. 

Jujur, sebenarnya aku memiliki banyak ketakutan tentang menikah, makanya banyak banget keinginan kriteriaku. Misalnya, ingin suami suka baca, syukur-syukur suka nulis, suka parenting, asyik diajak ngobrol, bisa dijadikan tempat untuk cerita dan bertanya banyak hal, kalau bisa sih yang kerjanya di rumah aja (ini bukan hal yg wajib banget) biar anak-anakku nanti tidak mengalami fatherless (kapan-kapan aku bahas ini deh), mau diajak menerapkan zero waste, resep sehat jsr, hidup minimalis, berkebun di rumah, suka mendaki (ini sih karena aku nggak mampu mendaki karena masalah kesehatan, makanya suami aja biar aku cukup jadi tempat cerita perjalanannya wkwk). Ribeeeet bangett kan. Banyak banget keinginannya. Nggak tahu apakah ada kriteria yang masih aku lupa. Tapi kurang lebih itu yang aku ingat. 

Aku pernah dengar di podcast Positivistri milik Lulu istrinya Choqi Isyraqi kalau kalian tahu. Dia bilang, "Sebenarnya jodoh kita itu dekat, tapi kita aja yang belum ngerasa." Kupikir, apakah jodohku tertutupi dengan kriteriaku yang hanya di awang-awang itu. Terlalu menginginkan hal-hal rumit. Padahal hidup bukan tentang menuruti keinginan kita, tapi bagaimana kita menerima takdir-Nya yang tepat untuk kita. 

Kadang, kalau sisi ambisiku muncul pengen punya suami yang ini itu seperti kriteria tadi. Tapi pas lagi waras-warasnya, bilang ke diri sendiri, "Apapun yang Allah berikan nanti, itu adalah yang tepat untukku."

Aku juga sedang bersiap-siap untuk menerima segala takdir yang aku terima. Kalau toh nanti suamiku tidak seperti yang aku inginkan ya aku harus siap. Aku menjadi berpikir untuk mengubah cara berpikirku, ingin menjadikan diriku ini berarti untuk orang lain. Kalau suamiku tidak suka baca yasudah aku yang harus mengenalkannya dengan dunia baca, dia tidak bisa diajak diskusi dan ngobrol berarti aku yang harus lebih banyak menstimulusnya berbicara. Aku lebih takut jika aku diberikan Allah untuk ada di kehidupan orang lain, tapi aku tidak bisa memberikan dampak positif kepadanya. 

Pada intinya sih sebenarnya, kita punya tujuan hidup yang sama atau engga dengan pasangan kita. Dan orang-orang yang setujuan dengan kita inilah yang tepat untuk dijadikan pilihan.

Ada perempuan berusia 30 tahunan menikah dengan laki-laki 28 tahun. Perempuan ini sendiri yang bercerita kepadaku tentang pernikahannya. Dia mempunyai pemahaman agama yang baik dan terpelajar, pengajar senior di sebuah sekolah Islam modern berbasis asrama. Banyak laki-laki mapan, berpendidikan tinggi yang sempat ingin melamarnya. Tapi gagal dengan banyak alasan, salah satunya ada yang menginginkan dia menjadi wanita pekerja, sedangkan dia ingin menjadi ibu rumah tangga atau berkegiatan di rumah. Pada akhirnya, yang berhasil bertakdir dengannya adalah laki-laki biasa duda muda tanpa anak. Lulusan SMA dan pemahaman agama masih kurang. 

Ketika kutanya kenapa mau menerima laki-laki ini? Dia bilang, "Aku lebih takut melihat seseorang hanya dari kacamata manusia, padahal Allah yang lebih tahu yang tepat untukku."  Tapi tentunya, perempuan ini memilih laki-laki tersebut setelah istikhoroh dan meminta restu orangtuanya. Tidak ada yang membuatnya ragu dan semua prosesnya dilancarkan sangat cepat hanya sebulan. Gitu ya kalo emang udah jodoh mah. 

Suaminya ini mau diajak pada kebaikan, bersedia belajar agama, dan mendukung perempuan ini dalam segala hal. Sedangkan hal-hal tersebut tidak dia temukan pada laki-laki yang dulu pernah datang kepadanya. Hal-hal seperti ini yang sering luput dari pemahaman kita sebagai manusia.

Hal yang lebih penting lagi sih, lebih baik kita memperbaiki diri dulu. Dengan catatan bukan untuk mendapatkan jodoh, tapi murni aja karena Allah. Agar apapun yang diberikan, siap untuk kita terima. Agar kita tidak sibuk menuntut orang lain, tapi berupaya mengubah diri kita terlebih dahulu. Dengan begitu kita bisa menyadari berubah menjadi baik butuh proses, sehingga kita sabar menemani proses pasangan kita.

Jangan sampai kita sibuk "mencari", tapi lupa untuk "menjadi". 


Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
source: Google

Di atas segala cerita, jodoh bukan tentang perasaan, tapi perihal takdir Tuhan.


Terlepas dari siapa-siapa yang wajib aku cintai, aku pikir apa perlu aku mencintai seseorang? Menyisihkan ruang khusus untuk orang yang diberi label pasangan. Ketika misalnya aku sudah mencintai, lalu tujuanku dengan mencintai itu apa? Atau hanya untuk mengisi kekosongan, membuat kita bahagia, atau apa? 

Ada berbagai macam cerita, orang-orang yang saling mencintai pada akhirnya juga tak tentu duduk di pelaminan yang sama. Sekalipun sudah menikah, juga tak tentu selamanya tinggal seatap. Ada orang yang sudah berjuang mati-matian dengan perasaan cinta yang tumpah ruah, lalu kandas di tengah perjalanan. Melihat ini semua aku jadi mikir, apa aku masih perlu memilih seseorang untuk aku cintai? Atau sebenarnya aku hanya perlu memilih seseorang untuk menjadi suami yang pastinya nanti akan aku cintai? 

Pertanyaan-pertanyaan macam ini lahir kurasa karena aku diserbu rasa takut kehilangan. Ibarat orang menggali lubang, aku tidak suka yang cuma dangkal-dangkal. Inginnya kugali terus-menerus sampai dasar bumi dan akan banyak penemuan-penemuan di dalamnya. Begitu juga dengan mencintai, aku tidak bisa hanya setengah-setengah. Selalu terlalu dalam. Sialnya, orang-orang yang terlalu amat mencintai akan lebih perih ketika kehilangan. Dan aku lebih takut menanggung pedihnya perpisahan. Merasa kelimpungan, kehilangan hidup, serasa bumi berhenti berotasi. Semengerikan itu yang pernah kurasakan, sampai akhirnya kupikir aku nggak perlu mencintai lagi sebelum seseorang benar-benar pasti menjadi pelabuhan terakhirku. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari berharap kepada manusia.

Aku kadang heran melihat beberapa teman berani menaruhkan perasaannya untuk masa depan yang tak jelas pasti akan berujung dengan siapa. Pacaran lama dengan seseorang, atau hanya sekadar berkomitmen. Apakah mereka tidak pernah terbayang-bayang takdir mengerikan yang berupa mencintai tanpa pernah memiliki? Beruntung kalau ternyata mereka berjodoh. Terlanjur nyaman dan cinta juga menjadi soal untuk tetap mempertahankan. Atau mungkin, aku yang terlalu mencundangi diri untuk mencintai? 

Makin ke sini, aku menemukan tujuan penting sebuah pernikahan lebih dari hanya tentang saling mencintai atau ingin memiliki seseorang.

Sekarang kurasa aku tak lagi mempedulikan aku cinta atau tidak dengan seseorang. Tapi lebih pada pemikiran, siapa yang kurasa tepat untuk menjadi teman ibadah, teman mendidik anak, teman ngobrol dan berpikir sampai tua. Hal-hal itu menurutku lebih logis untuk dijadikan alasan menikah, dibandingkan cinta tanpa alasan yang bisa memudar karena mungkin kelak juga bisa saja ditinggalkan tanpa alasan. Aku butuh orang yang setujuan denganku. Untuk masa depan, aku justru perlu alasan yang kuat kenapa aku memilih orang itu. Pada beberapa hal kita tak perlu alasan untuk melakukan, tapi pada rumah tangga tidak bisa demikian. 

Pada banyak proses yang dilalui bersama maka dengan sendirinya perasaan cinta tumbuh. Rasanya nggak perlu khawatir tidak bisa mencintai pasangan sah kita. Setidaknya, ketika kita menginginkan tujuan yang sama pasti perasaan satu sama lain juga akan bermuara pada ujung yang sama atas izin-Nya. 

Aku merasa betapa membosankan nanti pernikahanku jika hanya sekadar saling memberi kejutan, kencan, dan mengunggah di media sosial foto berdua. Lalu letak esensi pernikahan ada dimana? Aku ingin pernikahan dan keluarga kecilku ngasih impact positif ke orang lain. Dengan bersatunya aku dan dia, ada semacam sinergi pada kebaikan, bukan hanya tentang kepentingan pribadi. Kurasa, untuk menjalani sampai akhir, cinta manusia yang kadarnya tak tentu karena hati sering terbolak-balik ini, tak cukup bisa diandalkan menjadi bahan bakarnya. Ada hal lain yang sifatnya lebih bisa melekat kuat pada niat.

Jika sudah menikah, setiap perasaan yang tercurah untuk pasangan adalah ibadah. Tidak akan sia-sia. Tapi nanti berjuang pada pernikahan bukan hanya atas nama cinta, tapi karena tujuan yang sama. Dengan begitu pernikahan akan berasa hidup karena akan lebih banyak hal yang direncanakan dan dilakukan. 

Jadi, yang lebih penting adalah menentukan tujuan untuk apa menikah, nanti kita tahu orang seperti apa yang tepat untuk menikah dengan kita. 

Jika hati masih memaksa untuk harus menikah dengan seseorang karena perasaan cinta, perlu dicek lagi. Itu mah beneran mau nikah atau hanya nafsu ingin memiliki? Kadang cinta itu bikin buta, membuat kita membenarkan dan menoleransi hal-hal yang salah dan bertentangan dengan prinsip kita. 

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Source: Google

Membicarakan tentang perasaan dan pernikahan memang nggak akan ada habisnya. Justru topik-topik semacam ini yang masih laris di pasaran, nggak ada matinya. Sebenarnya aku pengen speak up lebih banyak tentang hal ini minimal ke orang-orang terdekat. Tentu dengan sudut pandang yang berbeda. Tapi nyaliku menciut untuk menanggapi komentar orang-orang yang lebih berisik. Ada sebagian orang yang menganggap membicarakan tentang pernikahan itu karena kebelet nikah dan yang sering membicarakan tentang perasaan karena sering galau. Padahal sebenarnya nggak juga. Bisa juga karena banyak mengamati orang, mendengar lebih banyak cerita, atau membaca lebih banyak teori. Jarang orang-orang yang menganggap ilmu pranikah atau parenting adalah modal persiapan.

Aku memang bukan orang yang tergolong sabar dalam menghadapi apapun, kecuali memperlakukan anak kecil. Melihat makhluk satu ini rasanya cuma gemes, seneng, dan lucu. Aku amat memahami anak kecil itu bertingkah karena belum banyak materi yang dia pahami dan fisiologi otaknya yang masih dalam proses perkembangan. Melihat banyak anak kecil yang sudah bertingkah lebih cepat dari usianya dan bahkan kelewatan, bukan anak tersebut yang layak sepenuhnya disalahkan. Tapi perlu menilik ke belakang hal apa saja yang sudah dilakukan orangtua dalam mendidik anaknya. 

Sempat aku merasa takut, nanti bisa nggak ya aku didik anak. Nanti anakku akan seperti apa. Semasa lajang sekarang lihat anak kecil masih gemes-gemesnya, gatau nanti kan. Pas nggak sengaja lihat ibu-ibu di tempat umum, ada yang bentak anaknya. Sekilas kita akan menilai, ini ibu kok tega banget sih bentak anaknya. Tapi kita nggak tahu mungkin seharian ibu itu sudah lelah dengan rutinitas, ada masalah pribadi dengan keluarga, atau anaknya memang sangat susah diatur. Pikirku, sabar kita harus lebih luas lagi. Kalau cuma ngandalin kesabaran yang kita punya, rasanya nggak akan mudah. Kita perlu kembali ke niat awal, menikah, mengurus anak dan keluarga adalah ibadah, amarah harus bisa dikondisikan. Harus pandai-pandainya kita mendekatkan diri kepada Allah, agar niat dan hati lebih tertata. 

Aku pernah baca tentang seorang anak yang begitu membenci ayahnya. Dia sendiri tidak tahu kenapa. Setelah diusut saat konsultasi ke psikolog, ternyata dulu semasa dia di kandungan, ayahnya sering melakukan kekerasan kepada ibunya. Aku bayangin janin yang bersemayam dalam rahim sudah ketakutan untuk melihat dunia. Mendengar bentakan ayahnya, tangisan ibunya, suara-suara jahat di luar sana membuatnya trauma. Apalagi mendengar sepasang orangtua yang kelak menjadi pelindungnya juga diragukan untuk menemani di dunia. 

Awalnya aku bahas pernikahan kok tiba-tiba merambat bahas anak-anak. Sebenarnya terntang pranikah dan parenting itu berkaitan. Karena mendidik anak dengan baik dan tepat adalah tujuan dalam pernikahan. Mendidik diri sendiri merupakan upaya untuk mendidik anak nantinya. Bagaimana kita bisa mendidik anak kalau didik diri sendiri saja belum bisa kan, ya. Seringnya masalah ini sering luput dari para orangtua. Dikira menikah itu mencintai pasangan, memiliki anak, dipenuhi secara materi, disekolahkan, sudah cukup. Padahal di dalamnya ada banyak hal-hal yang harus dipenuhi. 

Aku pernah ketakutan, apabila aku gagal didik satu anak saja maka akan gagal pula aku melahirkan generasi-generasi berikutnya. Bukannya sama saja aku mempunyai hutang pada anak keturunanku. Padahal mereka berhak mendapatkan pendidikan yang baik dari aku orangtuanya. Betapa mereka akan kelimpungan menjalani hidup tanpa bekal kecakapan hidup dari orangtua. 

Rasanya pengen banget sih aku bahas ini dengan teman-teman. Tapi mereka selalu bilang pemikiranku terlalu jauh. Bagiku, tidak ada kata berlebihan atau terlalu cepat dalam belajar untuk sebuah pernikahan, dimana itu adalah ibadah terpanjang semasa hidup kita. Dan menulis hal-hal semacam ini upayaku untuk mengobati keinginanku mengobrol topik ini tapi belum tahu dengan siapa. 

Aku nggak janji, karena takut tidak kutepati seperti cerita perjalananku label "Flashback" yang belum juga kuselesaikan sampai saat ini. Tapi aku pengen tulisan ini kuselesaikan beberapa topik ke depan. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Source: Hipwee.com

Dulu aku paling tidak suka kalau ada orang laporan dibaca pada whatsapp dimatikan. Menurutku seperti membohongi orang-orang, padahal sudah dibaca tapi kelihatan belum. Ternyata sekarang aku kemakan pikiran sendiri. Lagi merasa ingin sendiri, tidak ingin balas pesan yang cuma haha hihi karena terlalu membuang energi dan pikiran. Iiish alay kali aku ini ya. Padahal balas chat cuma ngetik pake jempol, nggak sampai bikin lari-lari muterin sekompleks. Kalau aku secara pribadi sih, balas chat juga kadang nggak mood. Introvert macam aku ini moodnya naik turun, kadang ingin sendiri, tidak ingin ada siapa-siapa. Tandanya suka uring-uringan sama orang, males diajak ngobrolin apapun, ada rasa sebel pengen buang hp tapi sayang. Pengen sembunyi nggak bakal ada yang nemuin aku. Kalo seperti itu udah deh gak perlu dilanjutin untuk ngobrol sama orang sekalipun itu di dunia maya. Daripada yang ngobrol sama aku kena semprot mulu. 

Sejujurnya aku ini orang yang hatinya senstitif, mudah kasian iya, mudah marah juga iya. Nggak enak. Sering banget uring-uringan sama orang, padahal kesalahan orangnya juga nggak parah-parah amat. Tapi, ngamuknya sampai buang-buang energi. Setelah puas marah, menjauh dari orang tersebut lalu nyesel-nyesel sendiri. Sering tuh aku yang marah, aku juga yang minta maaf. Pas pikiran sudah dingin bisa mikir, nanti kalo aku marah di tengah-tengah aku nggak tahu tiba-tiba aja "berpulang" belum sempet minta maaf, atau orang yang kumarahi "berpulang" duluan aku bakal dihantui rasa bersalah. Tapi, ya tetep aja diulangi lagi marah sama orang. Dasar aku emang. 

Temanku pernah bilang, "Coba deh kamu catat keburukan orang yang kamu marahi, kalau belum ada seribu berarti dia masih baik. Atau coba bandingkan kebaikan dan keburukannya banyakan mana. Kenapa sih kita itu sukanya mencari keburukan saudara sendiri."

Dengar kalimatnya berasa ada pisau yang masuk jantung. Jleb gitu. Menohok untuk orang macam aku yang rasanya sulit sekali untuk memandang dari sudut pandang positif. Kenapa satu kesalahan saja mengaburkan berbagai macam kebaikan orang-orang. Padahal aku sendiri juga sering membuat kesalahan, tapi orang-orang tetap baik dengan pemaklumannya. 

Aku pernah takut ketika marah omonganku tidak terkontrol, lalu di ujung sana entah kapan ada orang terisak-isak karena mengingat omonganku. Ngeri, kan. Betapa mengalir dosa yang aku lakukan. Sakit hati itu membuat orang nggak nyenyak tidur kepikiran. Betapa hidupku menyedihkan, nggak bisa bikin bahagia orang, tapi malah bikin sakit nggak ketulungan. Memori orang terus bekerja merekam segala kejadian. Bukan bukti cctv yang bisa dicuri terus hilang jejak rekamannya. Rekaman otak manusia akan abadi pokok dia nggak pikun aja pada masa tuanya. Gimana kalau aku dikenang dengan sesuatu yang buruk. Dasar aku emang. Kalau lagi waras bisa berpikir seperti ini, tapi tetep aja nanti marah-marah sendiri. Masih labil belum bisa ngontrol emosi. Padahal aku sendiri juga nggak suka lihat orang marah, bikin hati nggak bisa adem. 

Aku sering mikir kenapa sih si A nggak bisa jadi orang yang baik, si B nggak bisa jadi orang yg ngomongnya alus, si C nggak bisa jadi orang yang enak diajak ngobrol. Lalu pikiran itu balik lagi ke diriku sendiri, "Emang kamu juga udah jadi yang terbaik untuk mereka? Atau jangan-jangan kamu malah nggak ngasih yang terbaik buat mereka." 

Orang-orang di hidup kita itu ibarat tamu. Memperlakukan mereka selama di hidupku sama saja dengan menjamu tamu. Kusuguhi dengan perilaku yang seperti apa semasa bersamaku. Lalu ketika mereka jatah di hidupku sudah habis lalu pergi, maka mereka akan membawa kesan tersendiri dari aku. Ada tamu yang begitu senang pada jamuanku, puas, dan rasanya paling berkesan di antara orang yang lain. Tapi ada juga yang sampai dia menyesali kenapa bertamu kepadaku, karena aku tidak memperlakukannya dengan baik. 

Padahal kita itu tidak pernah tahu pertemuan mana yang akan menjadi terakhir, pesan mana yang terakhir dikirim seseorang, atau hal apa yang terakhir dilakukan bersama-sama. Seandainya kita sama-sama tahu, pasti aku akan melakukan yang terbaik pada pertemuan itu. Tapi sayangnya, hidup itu bukan seperti matematika yang kepastiannya bisa kita ketahui. Hidup itu juga bukan keadaan keuangan yang masih bisa diprediksi meskipun kadang ada hal mendadak. Hidup itu seperti kotak rahasia yang penuh tebakan, tugas kita bukan menebak-nebak isinya, tapi menjalani dan siap-siap pada apapun yang terjadi.

Maka, atas ketidaktahuan itu jalani setiap hal dengan siapapun itu dengan sebaik-baiknya. Nulis ini berasa lagi ngomong sama diri sendiri. Kita tidak pernah tahu orang yang mana yang akan tetap tinggal sampai ke depan atau orang mana yang akan berhenti pada persimpangan. 
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Tidak bisa dipungkiri, rasanya stalking dari dulu adalah hobi. Apalagi stalking orang lain yang pencapaiannya lebih banyak, pemikirannya lebih bertumbuh, atau keadaan hidupnya banyak yang berubah. Padahal sudah tahu stalking adalah salah satu hal yang membuat pikiran tidak sehat, tapi jempol rasanya makin lihai saja melakukannya. Tidak sebanding dengan hati yang berbisik bilang, ini hanya media sosial yang keindahannya bisa dimanipulasi, kehidupan paripurna ada pada kenyataan masing-masing. 

Sudah tahu usia makin menua, buku self improvement juga banyak dilahap, pikiran kian hari kian berpikir lebih dalam, tapi nafsu sering menggerogoti pertahanan. Keadaan psikis sudah jauh-jauh hari ditata sedemikian rupa agar bisa menikmati hidup, menerima keadaan dan diri sendiri. Tapi runtuh begitu saja karena stalking yang cuma beberapa menit. Sialnya, kenapa instagram gemerlapnya bikin silau? Nggak bikin hati makin terang, tapi makin keruh karena penyakit hati. Hmm, bukan salah instagram, lebih tepatnya hatiku aja yang nggak pandai dikondisikan. 

Tapi ada satu stalking yang rasanya selalu bisa charger amunisi diri untuk fresh lagi, yaitu stalking diri sendiri. Sering gitu kangen dengan diriku yang telah lama, lalu lihat tulisan yang telah lewat. Ada juga orang yang suka lihat foto lawas, kalau aku sih tulisan. Rasanya tulisan itu bilang, nih dulu tu kamu bisa nulis sepanjang dan sedetail ini. Terus berakhir aku berpikir panjang di pojokan kamar, kenapa sekarang rasanya nggak makin produktif, tapi makin bergelung dengan kemalasan. Apa karena pikiran yang makin kompleks menjerat diri sehingga sulit diajak beranjak. Melihat teman yang lain makin produktif menulis, nerbitin buku, jadi blogger, wirausaha, trus rasanya pengen neriakin diri sendiri, "Kamu sudah jadi apa?" Kenapa rasanya kok nggak terlalu banyak yang berubah dari aku.

Sepertinya bulan lalu aku ingat terakhir nongkrong sama teman sebelum corona menahanku di rumah. Pas lagi santainya menikmati matcha dan cireng ala cafe yang enak dan pengen kucoba lagi tapi belum bisa. Seseorang di depanku tiba-tiba nyeletuk, "Kamu ngerasa nggak sih kalau kamu tuh makin beda." Cireng di mulutku rasanya nggak mau ditelan saat itu juga. Aku pura-pura biasa saja, padahal aslinya jantung nggak beraturan kira-kira mau bilang, "Apaan nih maksudnya?"

"Dulu tu kamu bukan orang yang enak diajak ngobrol karena sibuk main hp, kalo dibilangin nggak mau denger, suka ngambek nggak jelas, yah pokok ada beberapa lagi lah yang bikin orang emosi. Tapi sekarang kamu jadi Anik yang makin hari makin dewasa."

Aduhai, melambung nian aku dibuatnya. Tapi nggak begitu lama, karena apapun yang dia katakan aku tetap merasa jadi orang yang kekanak-kanakan, belum ada baik-baiknya. Cuma kujawab, "Masa sih?" Terus cengegesan sambil pikiranku melompat jauh ke belakang. Pas kuingat-ingat, iya juga ya tapi aku kok nggak sadar. Mungkin karena aku jarang mengevaluasi diriku sendiri. Hm iya, aku memang belum menjadi baik, tapi makin membaik.

Lalu suatu ketika di tengah obrolan via whatsapp ada seorang teman maya yang kira-kira sudah empat tahunan berteman denganku. Dia juga nyeletuk begitu saja, "Kamu tuh makin dewasa, ya." Mataku membulat membacanya seakan bilang, "Apaan lagi nih?"

Pura-pura biasa lalu mengetikkan balasan, "Dewasa gimana maksudnya?" Dia membalas, "Ya dewasa, masa sih nggak ngrasa." Secepatnya aku membalas, "Tapi makin ke sini aku memang merasa ada yang berbeda sih." 

Aku tidak sedang ingin membicarakan aku yang makin dewasa atau apa. Cuma terharu ternyata ada orang-orang yang tetap stay sebagaimana pun aku. Senyebelin apapun aku, annoying banget, bahkan memuakkan sekalipun. Aku sebenarnya nggak tahu alasan mereka apa. Ketika aku tanya, "Kamu kenapa tetap mau bertahan temenan sama aku?" Ada yang jawab, karena aku pendengar yang baik, enak diajak ngobrol, paling ngertiin, selalu ngingetin tentang Allah. Masyaallah, duhai manusia, andai kalian tahu aibku tak akan pernah sudi kiranya kenal dengan manusia hina macam aku ini. 

Banyak proses di hidup ini terlewati yang membuat aku sering takut menjalani. Tapi setiap zamannya Allah selalu mempertemukan aku dengan orang-orang baik yang mau menemani prosesku. Dari mulai Anik yang dulu kanak-kanak banget sekarang udah naik tingkat dikit. Segala hal mereka jadi saksi tanpa menghakimi. Seakan memberiku kepercayaan bahwa aku bisa belajar menjadi baik.

Diem-diem inget hal ini jadi ngasih insight ke aku, pencapaian itu tidak harus tentang juara, berkunjung ke tempat yg recommended, duduk di jabatan mentereng. Tapi ketika aku sering melakukan perjalanan lebih dalam ke diriku sendiri juga merupakan pencapaian yang jarang kusadari dan bahkan nggak bisa diketahui orang-orang. Perjalanan mendalam ke  diri sendiri yang bisa membuat kita banyak berpikir dan berubah lebih baik.

Mungkin aku yang terlalu memberi standar pencapaian pada hal-hal yang semu sehingga melihat kesemuan orang lain rasanya langsung silau.  Toh perjalanan dan pencapaian diri kita nggak perlu diketahui orang lain. Nggak perlu disuguhkan di media sosial. Aku kurang sabar dengan proses diriku sendiri sampai akhirnya aku juga sering nggak bisa menerima proses orang lain. Nuntut orang lain seperti ini dan itu. Aku nggak tahu diri sekali. Tanpa peran orang-orang yang menerima prosesku nggak mungkin aku tetap punya orang-orang support system seperti mereka.

Wahai hati, pandai-pandailah menerima diri sendiri. :)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ada Azhar Nurun Ala yang dua atau tiga tahun (aku agak lupa) menemani istrinya berjuang untuk mendapatkan keturunan. Istrinya sering menangis sampai dia sebagai suami kehabisan akal bagaimana cara menenangkan. Setelah banyak upaya ditempuh, akhirnya ada anak yang dititipkan Allah. Mereka beri nama Salman. Dia dan istrinya baru menyadari suatu hal. Salman lahir ketika ekonomi rumah tangganya kian membaik. Jika Salman lahir menuruti waktu yang diinginkannya saat itu, maka keadaan akan lebih susah. Karena dia masih dalam kondisi menyelesaikan skripsi dan merintis usaha penerbitan baru setelah menikah. 

Ada bulek Sundarihana (Buleknya Kirana kalau kalian tahu) yang kecewa karena ibunya mengalami penyumbatan di jantung dan harus dioperasi. Tapi dalam keadaan demikian dia masih mengambil hikmahnya. Dia bilang di akun Tumblrnya,  Allah mengatur segala sesuatu secara halus. Ibunya tidak mengalami gejala apa-apa. Penyakitnya diketahui ketika ikut check up suaminya ketika masih belum parah. Allah memilihkan waktu sakit ketika suaminya sedang mengurus pensiun sehingga sudah tidak perlu ke kantor dan biaya operasi masih ditanggung perusahaan. Ketika anak-anaknya sudah besar dan bisa ditinggal. Seakan Allah bilang, ibu waktunya istirahat.

Dan di sini aku  juga menyadari suatu hal. Rasa syukur yang lama tak kutemui tiba-tiba menyusup begitu saja menyadarkan. Bersyukur aku belum menikah sampai saat ini. Andai Allah menikahkan aku tepat setelah lulus kuliah seperti keinginanku, entah jadi apa rumah tanggaku. Perempuan yang masih belum punya cukup pemahaman tentang berumah tangga kala itu.  Perempuan yang belum bisa mengelola emosi dan penerimaan akan segala hal. Meski sekarang juga masih harus banyak belajar.

Makin ke sini sering menjejali isi kepala dengan bukunya Azhar Nurun Ala, Aji Nur Afifah, dan buku pranikah serta self improvement lain jadi sadar pernikahan itu sangat luas sekali persiapan mentalnya. Harus siap menerima, memahami, dan lainnya. Andai aku menikah semuda kala itu apa aku bisa mengalahkan keegoisan diriku sendiri. Belum paham arti pernikahan dan tujuannya apa. Bahkan, memahami pernikahan masih hanya untuk memiliki seseorang yang diinginkan. Belum terpikirkan nanti anak dididik seperti apa atau nanti setelah menikah hal-hal apa yang ingin dicapai. Baru paham itu semua jadi sangat bersyukur Allah masih memberikan kesempatan untuk aku memahami banyak hal ketika masih sendiri seperti ini. Manusia macam aku ini memang seringnya sok tahu dan terburu-buru, padahal perihal waktu hanya Allah yang lebih tahu mana yang pas untuk hamba-Nya.

Sekarang pun di saat sedang menikmati kesendirian melakukan apa saja sesukaku juga jadi berpikir, yakin nih siap nanti hal-hal yang biasa kamu lakukan jadi berkurang karena bertambahnya tanggungjawab? 

Lalu sebagian dari diriku mulai menerima bahwa sekarang Allah masih mendidikku banyak hal. Dan masalah siap atau tidak, Allah yang lebih tahu kapan hamba-Nya ini siap menerima tanggung jawab baru.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ramadhan sudah masuk hari ketiga, tapi rasanya masih hari pertama karena aku baru melaksanakan taraweh malam ini dan puasa besok. Kemarin-kemarin ketika orang rumah sibuk berbuka, berangkat taraweh, sahur, dan melaksanakan rutinitas Ramadhan lainnya, aku merasa hariku masih di bulan-bulan biasanya. Baru malam ini masuk rakaat pertama sholat taraweh di rumah, pikiranku sudah melompat kemana-mana. Ramadhan baru kurasa kehadirannya. Tiba-tiba membayang kalau Ramadhan tahun ini menjadi kesempatan terakhir, atau bahkan malam ini  yang menjadi malam terakhirku. 

Orang rumah masih sholat di masjid, namun aku memilih sholat sendiri di rumah. Selesai sholat perasaanku membuncah ada sesosok teman yang masuk dalam pikiranku. Teman yang tidak akan pernah lagi kutemukan raganya, hanya bisa kukunjungi pusaranya. Dia yang tertidur di mobilnya malam hari perjalanan menuju Bandung lalu keesokan harinya sudah ditemukan tak bernyawa karena kecelakaan tunggal.

Dia tidak pernah mengira Ramadhan tahun kemarin adalah kesempatan terakhirnya. Pikirku, tidak ada yang pernah tahu bisa jadi aku juga begitu. Lalu aku mencari sisa-sisa ingatan, apa yang selama ini sudah kulakukan. Hal yang paling aku takutkan jika ada atau tidak adanya aku di dunia ini tidak memberi pengaruh apa-apa untuk orang lain. 

Ketika suatu waktu kematian masuk dalam pikiranku, yang kuingat adalah teman satu ini. Karena apa? Dia orang yang begitu memberi impact positif untuk orang lain. Kepergiannya membuat banyak orang merasa kehilangan, termasuk aku. Meski kami tidak pernah memilikinya. Apa yang keluar dari ucapannya adalah kebaikan, apa yang dilakukannya adalah bukti kepedulian. Sungguh, aku tidak menemukan kesia-siaan pada apa yang dilakukannya. Raganya yang terkubur, tapi segala kebaikannya masih bersemayam pada ingatan orang-orang.

Kalau kalian juga mengenal dia, pasti apa yang aku tulis ini tidak terlihat berlebihan. Karena memang begitu adanya. 

Sedangkan aku, cuma apa. Manusia yang banyak khilafnya, tapi juga sering melupa untuk memperbaiki diri. Merasa sombong hidup akan lebih lama lagi, padahal jarak hidup dan kematian hanyalah sekedipan mata. Kehidupan dunia tidak akan pernah ada apa-apanya, tapi manusia sepertiku sering lupa hingga mengejar dunia yang sangat fana ini. Sedih jika orang-orang hanya sibuk memberiku ucapan belasungkawa hanya sebagai rasa iba, lalu melupa dengan adanya diriku karena tak pernah ada artinya. Aku takut ragaku ditanam, lalu namaku terbenam tak pernah ada yang mengingat.

Ternyata begini rasanya merindukan seseorang tapi tidak bisa menemuinya. Di antara kami ada batas dimensi dunia yang berbeda. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan kehidupan barunya. Jika dulu rindu hanya sedekat jempol dan tanda call. Sekarang hanya sepenggal doa yang mampu menembus dunia yang tak kasat mata.

Dia hidupnya menginspirasi, lalu pergi meninggalkan banyak arti. Ternyata kita hidup tergantung ingin dikenang seperti apa.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Di sebelah seorang ibu yang memiliki tujuh anak, tenggorokanku tercekat melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku tidak bisa menerka apa yang sedang dirasakannya. Anak dan suaminya masih utuh. Anak-anaknya bisa sekolah karena beasiswa, bahkan ada yang sudah menghafal Al-Quran. Kepada kami beliau bercerita, rumah yang ditinggalinya adalah warisan. Merasa bersyukur bisa mendidik banyak anak di dalam rumah yang bisa dikatakan cukup luas.

Kudapati matanya membasah setelah aku bertanya tentang anaknya. Pertanyaan selanjutnya di kepalaku hanya menggantung tak bisa kulontarkan. Aku membiarkan beliau menyelesaikan perasaannya sebelum kuat untuk bicara lagi. Suasana hening, tapi aku paham semua mata di ruangan ini sibuk mengartikan apa yang dilihatnya. Pikiran kami riuh tentang ibu yang ada di sampingku. 

Setelah beliau terlihat berhasil menenangkan dirinya sendiri, beliau mengucapkan sesuatu, "Kalau punya anak yang dekat dengan Al-Quran itu tenang rasanya." 

Dari situ aku paham, mungkin ada kerinduan yang tertahan dengan anak-anaknya di ujung sana yang masih harus menyelesaikan kewajiban di pesantren. Dari beliau aku tahu penghasilannya dan suami tidak seberapa untuk bisa menghidupi keluarga. Tapi yang kulihat, ada syukur yang membentang pada beliau. Dan seakan kulihat hal-hal berbau duniawi tak ingin digenggamnya. 

Di sudut yang lain, ada perempuan kuat yang sembunyi di balik tertawanya. Suami baginya hanyalah sebutan untuk laki-laki yang pernah menikahinya, bukan yang bertugas menafkahi. Karena untuknya, mencari nafkah adalah tugasnya sendiri. Bahunya cukup kuat atau sengaja dikuat-kuatkan untuk menanggung dua anak dan ibu yang tinggal bersamanya. Beruntung, anak perempuannya baru lulus sekolah lalu bekerja membantu mengepulkan dapurnya. 

Meski beliau terlihat tertawa berbicara dengan kami,  tapi dari cerita-ceritanya aku tahu hatinya tidak sedang baik-baik saja. Ada kecewa yang terpaksa harus ditelan. Hanya saja beliau mengalihkan untuk lebih mensyukuri apa yang masih ada. 

Ada perempuan-perempuan yang hatinya lebih sunyi karena kehilangan suaminya. Membesarkan sendiri anak-anaknya. Berjuang melanjutkan kehidupan tanpa ada peran laki-laki. Berat memang, tapi hidup memang kadang seperti itu memposisikan kita tidak bisa memilih.

***

Mereka adalah perempuan yang aku temui tadi siang. Jauh-jauh hari ramai memperbincangkan aksi untuk Ramadhan dengan teman-teman relawan. Datang juga hari yang dinanti-nanti. Hari ini merupakan hari pertama penyaluran bingkisan untuk keluarga kurang mampu yang membuat riweh sana sini. Terbayar setelah bertemu dengan para perempuan hebat di istananya yang megah dengan rasa syukur. 

Sebenarnya aksi yang kami laksanakan diperuntukkan untuk janda dan keluarga tidak mampu. Kebetulan yang disengaja Tuhan hari ini semua penerima bingkisan yang kita temui adalah para perempuan. Kami ngobrol sebentar untuk bertanya tentang keseharian dan upaya mencukupi kebutuhan di tengah pandemi ini. 

Ada yang suaminya masih sehat bugar, sudah meninggal, atau masih ada tapi tak nampak perannya. Aku melihat dari sorot mata mereka ada rasa mendalam yang menjelma dengan berbagai rupa. Dari mereka aku paham setiap manusia mempunyai jatah ujian dan nikmatnya masing-masing. Dan perempuan harus kuat dengan atau tanpa laki-laki.

*) Sengaja tidak mengunggah foto mereka untuk menjaga privasi.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Source: Google


Ketika itu aku melihat postingan status whatsapp seorang teman yang berdomisili di Kota Maros, sebelah kota besar Makassar. Ada hal berbeda pada apa yang diunggahnya. Baru kali itu dia mengunggah video seorang anak yang mengidap penyakit hedrosefalus sehingga menyebabkan kepalanya membesar melebihi badannya karena terlalu banyak cairan. Alif, nama balita yang masih berusia 6 bulanan pada tahun 2016 lalu. Pada status whatsapp tersebut juga dibubuhi keterangan pembukaan donasi karena Alif lahir dari keluarga yang kurang mampu untuk menjalani operasi penyedotan cairan di kepalanya.

Hati siapa yang tidak tergerak untuk menanyakan keadaannya. Aku mengirimkan pertanyaan pada status itu. Apa hubungan dia dengan Alif dan apa yang terjadi sampai bayi mungil itu harus dirawat oleh keluarga temanku. Ternyata Alif masih terhitung saudaranya dan ibu Alif memiliki beberapa anak yang masih terhitung belia untuk diurus. Sehingga untuk sementara Alif dititipkan di keluarga temanku.

Sejauh yang kuingat ketika itu bertepatan dengan awal bulan, dimana waktu yang dinantikan mahasiswa perantauan untuk mempertebal kantongnya. Seperti biasa transferan uang bulanan sudah masuk ke rekening. Uang yang terbilang cukup untuk sebulan ke depan jika tidak kuhambur-hamburkan. Kupikir-pikir, selama ini uang bulanan selalu habis hanya untuk memuaskan perut dan mataku. Beruntungnya aku tidak kuliah di jurusan yang terlalu banyak praktikum atau apapun itu yang bisa mengurangi uang jajan. Aku bisa tidur nyenyak makan cukup bahkan sampai kekenyangan di kosan. Masih bisa ke sana sini beli barang hanya untuk menyenangkan mata. Namun di seberang sana, ada anak yang lebih berhak untuk kubantu demi keberlangsungan hidupnya.

Untuk kali pertamanya keegoisanku runtuh, entah malaikat apa yang berhasil memenangkan perlombaan dengan setan untuk membisiki. Aku meminta nomor rekening temanku dan transfer uang segera. Aku percaya temanku ini amanah, karena mengenalnya cukup lama dan baik. Jumlahnya tidak cukup banyak untuk bisa meringankan beban Alif, tetapi nominalnya terbilang nekat untuk sekelas anak perantauan yang belum mampu mengisi kantongnya sendiri. Pikirku, Alif sangat membutuhkan uang itu daripada aku. Hari-hari sebulan ke depan aku jalani dengan berhemat, karena bagaimana pun juga pasti ada kebutuhan mendadak untuk tugas kuliah. Hal yang membuatku heran adalah nominal uangku berkurang, akan tetapi tidak ada perasaan kurang pada diriku. Rasanya cukup dan ada rasa senang tersendiri entah karena apa.

Tahun 2016 kala itu masa dimana aku sedang aktif-aktifnya di komunitas menulis online dan mengikuti event menulis di beberapa website. Sampai aku banyak mengoleksi buku, merchandise, dan hadiah bentuk lain dari event menulis. Bulan itu ada lomba surat terbuka yang diadakan oleh platform semacam blog bernama inspirasi.co yang didirikan oleh Fadh Pahdepie. Aku termasuk orang yang aktif menulis di sana. Ada tulisan yang menganggur di laptop. Pada saat itu aku masih bingung tulisan itu akan dilanjutkan seperti apa dan akan diposting dimana. Tulisan yang berisi keresahan mahasiswa keguruan terhadap pergaulan anak-anak zaman sekarang yang terlampau cepat dewasa dibanding usianya. Adanya lomba tersebut kuotak-atik tulisannya menjadi semacam surat dari aku untuk para orangtua. Selesai kukirim tidak terlalu berharap untuk menang. Aku amat menyadari penulis-penulis di sana mayoritas orang yang sudah berpengalaman seperti halnya temanku seorang jurnalis di media online Malaysia. Dia beberapa kali memenangkan lomba menulis di negara perantauannya dan pernah mendapatkan penghargaan. Tentu kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Tanpa berpikir panjang kukirim dua surat sekaligus untuk menghabiskan jatah gagal.

Temanku yang juga ikut lomba ini mengabari bahwa tulisannya dimuat. Aku tidak terlalu kaget, karena tulisannya sudah terbiasa meramaikan media massa. Beberapa hari kemudian aku dikagetkan e-mail masuk dari redaksi inspirasi.co yang menginformasikan tulisanku dimuat dan mendapat hadiah uang yang nominalnya lumayan. Lebih mengejutkan lagi dua tulisanku dimuat. Dari banyaknya orang yang ikut hanya diambil lima surat yang terpilih. Tidak kusangka aku menjadi salah satunya. Lama kupandangi e-mail yang dikirim redaksi. Semacam ada perasaan tidak percaya pada diriku. Aku menyadari tulisanku dimuat bukan hanya karena kemampuanku, tapi atas campur tangan izin-Nya. 

Kuingat rentetan kejadian bulan ini, bagaimana aku tahu tentang Alif, aku yang tiba-tiba memberikan uang begitu saja seperti terhipnotis, lalu sekarang aku mendapat ganti yang nominalnya jauh lebih banyak. Pikirku, Allah sedang menitipkan rezeki Alif melalui aku. Bayi yang sedang berjuang untuk hari-harinya itu lebih membutuhkan daripada aku. Akhirnya, aku memutuskan sebagian hadiah uang yang sudah ditransfer redaksi kukirim untuk Alif. Temanku juga rutin mengabarkan tentang kondisi Alif dan kelanjutan operasi yang masih harus berlanjut beberapa kali.

Aku merasa ketika kita berbagi kepada orang lain, tidak ada apapun yang hilang dari diri kita. Seperti janji-Nya, Allah akan membalas berkali-kali lipat setiap kebaikan yang kita lakukan. Hal yang perlu kita tahu, kebaikan berbagi tidak hanya dibalas berbentuk materi oleh Allah, tetapi bisa sebentuk rasa tenang dan syukur yang mendiami hati kita. Berbagi juga bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban dengan menunggu momen membayar zakat. Kapan pun itu ketika ada orang yang membutuhkan uluran, ringankan tangan kita untuk membantunya.

Ada banyak ladang sedekah yang bisa kita manfaatkan untuk menanam benih kebaikan, menumbuhkan kebahagiaan, dan dipanen berbentuk pahala. Di era secanggih ini menebar kebaikan sudah bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Lembaga amil zakat, infaq, dan sedekah sekarang mempunyai banyak program kreatif untuk masyarakat. Jika sibuk dan tak sempat untuk menyalurkan langsung bantuan, melalui gadget yang kita punya dengan beberapa klik kita sudah bisa menjadi donatur. Menyalurkan bantuan kita kepada lembaga tentu lebih terorganisir dan tersalurkan dengan baik, salah satunya bisa melalui lembaga Dompet Dhuafa. Bisa klik di sini

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa




Share
Tweet
Pin
Share
8 komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

Foto saya
Anik's Blog
Hi, ini tempat pulangnya Anik. Berisi hal-hal random yang rasanya perlu ditulis.
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Tumblr

Member Of

1minggu1cerita

Categories

  • Blogwalking
  • Calon Ibu
  • FIKSI
  • Flashback
  • Kerelawanan
  • Obrolan Cermin
  • Review Ala-Ala
  • Sudut Pandang Pernikahan

Postingan Populer

  • (CERPEN) Tangisan di Rumah Marni
  • Harga Diri Seorang Gadis
  • Ketika Rindu Bertamu
  • Aku, Insecure, dan Parenting Orangtuaku
  • Boneka Pernikahan

Blog Archive

  • Maret 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Juli 2023 (2)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (2)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (4)
  • Juli 2020 (3)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (17)
  • April 2020 (4)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (9)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (1)
  • Maret 2019 (7)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • Oktober 2018 (6)
  • Maret 2018 (22)
  • Februari 2018 (14)
  • Agustus 2017 (7)
  • Juli 2017 (11)
  • Juni 2017 (11)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (14)
  • Desember 2016 (12)
  • November 2016 (2)

Created with by ThemeXpose