facebook twitter instagram Tumblr

Anik's Blog

Di sebelah seorang ibu yang memiliki tujuh anak, tenggorokanku tercekat melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku tidak bisa menerka apa yang sedang dirasakannya. Anak dan suaminya masih utuh. Anak-anaknya bisa sekolah karena beasiswa, bahkan ada yang sudah menghafal Al-Quran. Kepada kami beliau bercerita, rumah yang ditinggalinya adalah warisan. Merasa bersyukur bisa mendidik banyak anak di dalam rumah yang bisa dikatakan cukup luas.

Kudapati matanya membasah setelah aku bertanya tentang anaknya. Pertanyaan selanjutnya di kepalaku hanya menggantung tak bisa kulontarkan. Aku membiarkan beliau menyelesaikan perasaannya sebelum kuat untuk bicara lagi. Suasana hening, tapi aku paham semua mata di ruangan ini sibuk mengartikan apa yang dilihatnya. Pikiran kami riuh tentang ibu yang ada di sampingku. 

Setelah beliau terlihat berhasil menenangkan dirinya sendiri, beliau mengucapkan sesuatu, "Kalau punya anak yang dekat dengan Al-Quran itu tenang rasanya." 

Dari situ aku paham, mungkin ada kerinduan yang tertahan dengan anak-anaknya di ujung sana yang masih harus menyelesaikan kewajiban di pesantren. Dari beliau aku tahu penghasilannya dan suami tidak seberapa untuk bisa menghidupi keluarga. Tapi yang kulihat, ada syukur yang membentang pada beliau. Dan seakan kulihat hal-hal berbau duniawi tak ingin digenggamnya. 

Di sudut yang lain, ada perempuan kuat yang sembunyi di balik tertawanya. Suami baginya hanyalah sebutan untuk laki-laki yang pernah menikahinya, bukan yang bertugas menafkahi. Karena untuknya, mencari nafkah adalah tugasnya sendiri. Bahunya cukup kuat atau sengaja dikuat-kuatkan untuk menanggung dua anak dan ibu yang tinggal bersamanya. Beruntung, anak perempuannya baru lulus sekolah lalu bekerja membantu mengepulkan dapurnya. 

Meski beliau terlihat tertawa berbicara dengan kami,  tapi dari cerita-ceritanya aku tahu hatinya tidak sedang baik-baik saja. Ada kecewa yang terpaksa harus ditelan. Hanya saja beliau mengalihkan untuk lebih mensyukuri apa yang masih ada. 

Ada perempuan-perempuan yang hatinya lebih sunyi karena kehilangan suaminya. Membesarkan sendiri anak-anaknya. Berjuang melanjutkan kehidupan tanpa ada peran laki-laki. Berat memang, tapi hidup memang kadang seperti itu memposisikan kita tidak bisa memilih.

***

Mereka adalah perempuan yang aku temui tadi siang. Jauh-jauh hari ramai memperbincangkan aksi untuk Ramadhan dengan teman-teman relawan. Datang juga hari yang dinanti-nanti. Hari ini merupakan hari pertama penyaluran bingkisan untuk keluarga kurang mampu yang membuat riweh sana sini. Terbayar setelah bertemu dengan para perempuan hebat di istananya yang megah dengan rasa syukur. 

Sebenarnya aksi yang kami laksanakan diperuntukkan untuk janda dan keluarga tidak mampu. Kebetulan yang disengaja Tuhan hari ini semua penerima bingkisan yang kita temui adalah para perempuan. Kami ngobrol sebentar untuk bertanya tentang keseharian dan upaya mencukupi kebutuhan di tengah pandemi ini. 

Ada yang suaminya masih sehat bugar, sudah meninggal, atau masih ada tapi tak nampak perannya. Aku melihat dari sorot mata mereka ada rasa mendalam yang menjelma dengan berbagai rupa. Dari mereka aku paham setiap manusia mempunyai jatah ujian dan nikmatnya masing-masing. Dan perempuan harus kuat dengan atau tanpa laki-laki.

*) Sengaja tidak mengunggah foto mereka untuk menjaga privasi.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Jumat, 26 Juli 2019 Gunung Tangkuban Perahu erupsi. Media sosial ramai beredarnya video ketika erupsi. Di tengah-tengah sedang mengamati video dan komentar para netizen, ada satu pesan whatsapp dari adik di organisasi relawan.

“Mbak Anik, adikmu keluyuran nih ke Bandung,” tulisnya disertai dengan emoticon tersenyum menutup mulut seperti meledek.

“Ngapain, nyari Teteh-Teteh, ya,” ledekku.

“Hahaha. Kami dari aksi pembagian superqurban di Bromo, setelah itu mau silaturahmi ke Bandung. Sekalian ikut mobil orang pusat. Ternyata, setelah kami sampai di sini Gunung Tangkuban Perahu erupsi, akhirnya kami juga ikut aksi ke sana.”

Ada pesan yang tak tertulis tapi aku bisa membacanya. Bukan pesan dari adik itu, tapi pesan dari Allah yang kuterjemahkan dengan kekaguman. Awalnya mereka ke Bandung hanya untuk bertemu dengan orang pusat sekalian jalan-jalan, ternyata siapa menyangka bahwa sebenarnya Allah seolah memperintahkan mereka untuk ikut aksi ke Gunung Tangkuban Perahu. Aku selalu percaya, bahwa Allah tak pernah salah memilih pundak untuk memikul amanah. Bukan sebuah kebetulan, tapi ini memang bagian dari skenario-Nya.


Di setiap waktu, harta, dan tenaga yang kita miliki, ada hak milik orang lain. Maka tunaikanlah hak mereka dengan membantu dengan sesama, entah dengan apapun itu caranya.

Bagi relawan, ikut aksi ke bencana bukan sebuah hal yang menyusahkan, karena liburan relawan tak melulu ke tempat wisata, ke tempat bencana pun adalah hiburan bagi kami. Insyaallah, lelahmu lillah ya, Dek.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Air mata di Lombok belum mengering, getaran gempa dan hempasan tsunami di Palu dan Donggala sudah menggiring. Belum luka terbalut, letusan gunung Soputan sudah menyambut. Ibarat luka yang ditaburi garam, semakin perih. Tapi serumit apa pun keadaan saat ini, Allah tetap Maha Baik penyimpan rencana yang begitu apik. Aku percaya, Allah tidak sedang marah. Allah tetap Maha Penyayang dan Pengasih seluruh umat manusia. Tidak pantas kita manusia biasa ini berprasangka buruk bahwa ini pertanda Allah sedang murka. Bisa jadi, ini adalah bentuk kasih sayang-Nya. Allah ingin kita semakin dekat dan berdoa lebih lama dari biasanya.

Ketika Sulawesi menangis, pun semua anak manusia di negeri ini ikut merintih melihat kabar mereka dari portal berita. Meski hanya melihat mereka terpontang-panting di layar televisi maupun ponsel, tapi rasanya tubuh ini ikut lemas merasakan betapa cemasnya mereka. Duka mereka juga menjadi lara kami. Meski tak pernah bertatap muka, mengetahui namanya pun tidak, tapi mereka tetaplah menjadi bagian kami. Saudara setanah air yang menjadi tanggungan kami.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Panitia aksi 


Hari Sabtu lalu aku memang sibuk seharian mempersiapkan aksi di organisasi kerelawananku yaitu Relawan Nusantara Jember yang bersinergi dengan Relawan Inspirasi, pemuda-pemudi Desa, Forum Komunikasi Koperasi Mahasiswa Jember (FKKMJ) dan UKM LABAIK Politeknik Negeri Jember. Sepulang dari sana, aku lelah sekali. Pukul 22:00 WIB sudah tidur. Padahal biasanya aku insomnia sampai pukul 00:00 WIB lebih. Karena lelah, Minggunya aku gunakan hanya untuk santai-santai. Akhirnya, dua hari lalu blog ini tidak ada postingannya.

Aksi yang aku laksanakan bersama teman relawan yang lain yaitu Siaga Sehat dan Yuk Berjilbab. Aksi Siaga Sehat adalah program pengobatan gratis. Sedangkan, aksi Yuk Berjilbab adalah tausiyah tentang menutup aurat dan pembagian jilbab gratis. Acara ini sudah dilaksanakan kedua kalinya, pertama di Kecamatan Pakusari dan kedua kemarin di Kecamatan Panti. Awal Februari kita sudah menggalang donasi jilbab layak pakai. Alhamdulillah, hasilnya ada 2.200-an jilbab, gamis, baju, dll yang terkumpul dari Gorontalo, Madura, Malang, Kediri, Semarang, Madiun, dan lainnya aku lupa.

Sebenarnya kami hanya ingin melaksanakan aksi pembagian jilbab ini sekali pada bulan Februari kemarin, tapi karena jilbab yang terkumpul sangat banyak, ada aksi season kedua, niatnya ketiga, dan sampai jilbab donasi habis.

Aksi Yuk Berjilbab kami kolaborasikan dengan Siaga Sehat tujuannya agar acara tidak monoton, menarik warga desa untuk ikut serta, dan memberikan fasilitas ke warga desa yang notabene-nya mereka memiliki biaya yang minim untuk berobat. Alhamdulillah, tenaga medis berasal dari relawan sendiri, ada yang apoteker dan perawat.
Bagian tensi darah

Bagian tes gula darah dan konsultasi kesehatan

Bagian obat


Serangkaian acara di Siaga Sehat ini terdiri dari pendaftaran, tensi darah, tes gula darah, konsultasi kesehatan, dan obat gratis yang di-support oleh Rumah Zakat. Warga berbondong-bondong ke acara ini. Namun sayangnya, karena waktu kami dari hanya dari habis Ashar sampai menjelang Maghrib, maka ada kuota pendaftaran yaitu 50 orang. Warga yang mendaftar ada 46 dan bisa terlayani semua menjelang Maghrib.

Warga mengaku senang dengan adanya pengobatan gratis ini. Mereka mengaku, uang mereka hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya pengobatan gratis bisa dilaksanakan di puskesmas. Karena jarak puskesmas yang cukup jauh, mereka enggan untuk ke sana. Apalagi pada pagi sampai siang hari, mereka masih sibuk dengan pekerjaan rumah. Banyak warga yang gula darahnya tinggi. Mereka mengaku karena suka minum-minuman yang manis. memakan nasi yang dimasak di magic com juga salah satu penyebabnya. Karena nasinya mengandung gula yang tinggi. Begitulah penjelasan tim medis yang sempat kudengar. Kalau memang ingin tetap menanak nasi di magic com, tanak lagi nasinya agar air di nasi tersebut bisa turun kadar gulanya.

Pada sehabis Maghrib, kami melaksanakan aksi Yuk Berjilbab. Pertama, acara pembukaan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan sari tilawah. lalu kedua, sambutan dari panitia pemuda-pemudi desa dan koordinator relawan. Lalu masuk ke acara inti yaitu tausiyah tentang pentingnya berjilbab. Pada tausiyah ini diisi oleh ketua muslimatan di desa yaitu Bu Amma. Tapi kali ini, Bu Amma mempercayakan kepada putrinya untuk mengisi. Tausiyah ini tujuannya untuk mengenalkan kepada warga tentang kewajiban seorang muslimah berjilbab.
Tausiyah

Sambutan coordinator relawan

warga desa yang antusias




Lalu ada ppembagian jilbab gratis, setelah itu aku dan seorang teman relawan yaitu Afifah memperagakan penggunaan jilbab secara baik dan benar sesuai syariat. Pada tutorial ini kami tidak mempergakan jilbab yang sulit. Hanya jilbab yang sederhana. Poin pentingnya bukan sebagus apa modelnya, tapi apakah jilbab itu sudah sempurna menutup aurat kita atau belum. Kami menjelaskan bahwa jilbab itu harus memanjang menutupi *maaf* dada. Dan kami juga memberikan tips bagaimana cara menggunakan jilbab paris agar tetap panjang dan tebal yaitu dengan men-double-nya menjadi dua lalu dilipat kecil saja.
tutorial jilbab





Alhamdulillah, respon warga desa dan takmir Masjid begitu positif dengan adanya acara ini. Acara ini juga berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan yang berarti.





Relawan Inspirasi yaitu Akh Emu (Erik Mustaqim) menjelaskan saat rapat evaluasi bahwa acara seperti ini merupakan wadah pemuda-pemudi desa untuk belajar berorganisasi dan mengelola suatu acara. Poin pentingnya bukan terletak pada jilbab yang dibagikan, tapi ilmu yang kisa bisa kita dapatkan. Dengan ada acara ini bisa menumbuhkan rasa empati kita terhadap masyarakat desa.
Akh. Emu Relawan Inspirasi 



Kapan-kapan aku pengen cerita tentang Relawan Inspirasi yang juga menginspirasiku ini. :’)


Share
Tweet
Pin
Share
8 komentar
--Jika kita berlelah-lelah di jalan Allah, InsyaAllah surga adalah tempat istirahat terbaik yang disiapkan oleh-Nya--

Ketika ada kata “para”, maka kata yang mengikutinya berarti jamak. Terdengar aneh memang, jodoh setiap orang diciptakan tunggal, tapi aku menggunakan kata jamak. Aku menemukan arti baru tentang jodoh. Jodoh tak lagi hanya bisa diartikan secara sempit sebagai pasangan hidup, tapi juga semua orang yang bertemu dengan kita saat memiliki hajat.

Arti ini kudapat dari Mas Pandu—salah satu Relawan Nusantara Malang—saat aku bersama teman relawan Malang lain melakukan aksi Syiar Quran. Dalam setiap sambutan, Mas Pandu bilang, “Alhamdulilah, hari ini kita berjodoh untuk membagikan Al-Quran dari donatur.”

Dari situlah aku menyadari, meski aku belum mendapatkan jodoh dalam arti pasangan, aku sudah bertemu dengan para jodohku di Rumah Zakat.

Aksi Syiar Quran mungkin hanya terlihat biasa bagi orang lain. Hanya membagikan beberapa Al-Quran dan Iqro’ di beberapa tempat lalu selesai. Iya aksinya memang se-simple itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Relawan adalah tentara langit yang dibayar oleh Allah, bukan manusia. (Brand Manager Rumah Zakat Surabaya)

Aku mendengar quote itu saat mengikuti kegiataan kemah relawan yang dilaksanakan di Malang pada bulan Maret lalu (jika tidak salah ingat). Kalimat itu masih membekas dan terpatri abadi dalam benakku. Menjadi sebuah pengingat jika diri ini mulai ada niat yang melenceng saat menjadi relawan.

Saat melakukan aksi sosial dengan teman-teman Rumah Zakat lain, tidak ada yang kami cari selain lukisan senyum para penerima manfaat. Kami pun tak ingin menghamba dari ucapan terima kasih mereka. Karena sejatinya, ucapan terima kasih patut diucapkan kepada donatur, bukan kepada kami—karena kami hanyalah relawan yang tak memiliki banyak harta, hanya waktu luang untuk menjadi jembatan antara donatur dan penerima manfaat.

Suatu ketika, jika aku tidak salah ingat pada bulan April lalu. Aku dan beberapa teman relawan Jember lain melakukan survei ke suatu tempat yang amat pelosok. Tempat itu jauh dari hingar bingar kota dan tak terjangkau oleh listrik dan sinyal. Kami sedang melakukan survei untuk aksi Sepatu Anak Nusantara.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About Me

Foto saya
Anik's Blog
Hi, ini tempat pulangnya Anik. Berisi hal-hal random yang rasanya perlu ditulis.
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Tumblr

Member Of

1minggu1cerita

Categories

  • Blogwalking
  • Calon Ibu
  • FIKSI
  • Flashback
  • Kerelawanan
  • Obrolan Cermin
  • Review Ala-Ala
  • Sudut Pandang Pernikahan

Postingan Populer

  • Ketika Aku Masih Diingat
  • Butiran Candu
  • Sepucuk Surat Merah Hati (2)
  • (CERPEN) Tangisan di Rumah Marni
  • Teman Main Kirana

Blog Archive

  • Maret 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Juli 2023 (2)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (2)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (4)
  • Juli 2020 (3)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (17)
  • April 2020 (4)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (9)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (1)
  • Maret 2019 (7)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • Oktober 2018 (6)
  • Maret 2018 (22)
  • Februari 2018 (14)
  • Agustus 2017 (7)
  • Juli 2017 (11)
  • Juni 2017 (11)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (14)
  • Desember 2016 (12)
  • November 2016 (2)

Created with by ThemeXpose