Dulu saat sudah duduk di bangku kelas 6 SD, Ibu selalu
bilang bahwa aku harus mulai belajar mencuci baju sendiri. Apalagi saat itu aku
sudah menstruasi, kata beliau perempuan yang sudah menstruasi berarti sudah
baligh dan tidak boleh lagi bajunya dicucikan orangtuanya, apalagi kalau sampai
orangtua mencucikan baju yang ada bekas darah. Lalu naik ke tingkat SMP Ibu
mulai mengajariku hal baru yaitu memasak. Setiap hari Minggu saat libur sekolah
menonton kartun yang tiada hentinya tayang terasa lebih seru dibandingkan harus
memetik sayur dan menggoreng lauk di dapur bersama Ibu.
Ibu sering mengeluh ketika aku tidak mengindahkan
perintahnya. Ibu bilang, memasak itu harus belajar mulai dari sekarang agar
nanti ketika sudah dewasa tidak bingung belajar lagi. Dan belajar masak itu
katanya tidak mudah, harus mencoba berulang kali. Ibu takut aku hanya pandai
membaca buku, tapi tidak pandai meracik bumbu. Segala cara dilakukan ibu agar
aku mau belajar memasak. Namun, hasilnya nihil. Sampai lulus SMA, aku belum
juga bisa memasak kecuali merebus mie instans atau goreng telur.
Lalu setelah menjadi mahasiswa dan ngekos, aku mulai
belajar memasak karena biayanya lebih hemat. Sempat frustasi karena masakanku
tidak enak. Rasanya tidak keruan membuat tidak nafsu makan. Lalu aku menyerah
dan memilih untuk membeli makanan saja. Di kos yang baru diwajibkan untuk iuran
LPG sekalipun tidak memakainya, kupikir sayang kalau ikut iuran tapi tidak ikut
memakai. Akhirnya aku mulai lagi untuk belajar memasak. Rasanya tetaplah sama,
belum enak. Lebih sering keasinan. Tapi aku tetap saja melanjutkan untuk terus
memasak, lama-lama aku suka dan mulai mencoba memasak yang lainnya misalnya
membuat kolak, bubur, dan lainnya. Menurutku masih belum terlalu enak rasanya,
tapi not bad-lah, sudah lebih baik dari yang dulu.




