facebook twitter instagram Tumblr

Anik's Blog


Dulu saat sudah duduk di bangku kelas 6 SD, Ibu selalu bilang bahwa aku harus mulai belajar mencuci baju sendiri. Apalagi saat itu aku sudah menstruasi, kata beliau perempuan yang sudah menstruasi berarti sudah baligh dan tidak boleh lagi bajunya dicucikan orangtuanya, apalagi kalau sampai orangtua mencucikan baju yang ada bekas darah. Lalu naik ke tingkat SMP Ibu mulai mengajariku hal baru yaitu memasak. Setiap hari Minggu saat libur sekolah menonton kartun yang tiada hentinya tayang terasa lebih seru dibandingkan harus memetik sayur dan menggoreng lauk di dapur bersama Ibu.

Ibu sering mengeluh ketika aku tidak mengindahkan perintahnya. Ibu bilang, memasak itu harus belajar mulai dari sekarang agar nanti ketika sudah dewasa tidak bingung belajar lagi. Dan belajar masak itu katanya tidak mudah, harus mencoba berulang kali. Ibu takut aku hanya pandai membaca buku, tapi tidak pandai meracik bumbu. Segala cara dilakukan ibu agar aku mau belajar memasak. Namun, hasilnya nihil. Sampai lulus SMA, aku belum juga bisa memasak kecuali merebus mie instans atau goreng telur.

Lalu setelah menjadi mahasiswa dan ngekos, aku mulai belajar memasak karena biayanya lebih hemat. Sempat frustasi karena masakanku tidak enak. Rasanya tidak keruan membuat tidak nafsu makan. Lalu aku menyerah dan memilih untuk membeli makanan saja. Di kos yang baru diwajibkan untuk iuran LPG sekalipun tidak memakainya, kupikir sayang kalau ikut iuran tapi tidak ikut memakai. Akhirnya aku mulai lagi untuk belajar memasak. Rasanya tetaplah sama, belum enak. Lebih sering keasinan. Tapi aku tetap saja melanjutkan untuk terus memasak, lama-lama aku suka dan mulai mencoba memasak yang lainnya misalnya membuat kolak, bubur, dan lainnya. Menurutku masih belum terlalu enak rasanya, tapi not bad-lah, sudah lebih baik dari yang dulu.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
*) Tulisan ini sudah pernah dimuat di inspirasi.co saat Event Surat terbuka





Surat ini saya tujukan untuk para wanita dan laki-laki yang sedang menyandang status ayah dan ibu. Sebelumnya perkenalkan dulu Ayah, Ibu. Saya adalah pemilik nama pena Anik Cahyanik. Seorang mahasiswi semester tua yang masih single tapi begitu menggilai dunia parenting. Semenjak kuliah di fakultas keguruan, saya menyukai dunia anak dan ilmu parenting. Ilmu yang saya dapat memanglah belum banyak. Hanya sebatas dari buku, grup parenting di media sosial, dan artikel di website online. Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan para ayah dan ibu yang sudah belajar ilmu parenting melalui kehidupan yang sebenarnya, entah kalian masih baru atau bahkan sudah bertahun-tahun lamanya.

Maaf, saat kalian membaca surat terbuka ini mungkin terasa geli sekali. Kening kalian akan berkerut menerka-nerka, apa yang akan disampaikan gadis ingusan yang belum merasakan asam manisnya berumah tangga ini. Memang saya sadari, saya ini masih sebatas belajar teori, belum tahu dunia orang tua dan rumah tangga sebenarnya. Tapi melalui teori-teori itulah saya tahu banyak hal yang kurang tepat pada kalian.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
#anakDuri
A post shared by retno hening palupi (@retnohening) on Jul 13, 2017 at 5:01am PDT


*Sebelum baca postingan ini, lebih baik baca dulu postingan sebelumnya di Di Sini agar tidak bingung siapa itu Kirana.

Ibok Retno melabeli dirinya sebagai teman main Kirana, karena hampir setiap waktunya digunakan untuk menemani Kirana bermain. Lebih tepatnya adalah bermain sambil belajar. Meskipun banyak orang mengagumi ibok karena keberhasilannya mendidik anak, tapi ibok selalu bilang beliau adalah ibu biasa yang tidak mempunyai keahlian khusus dalam parenting. Beliau juga bukanlah lulusan psikolog, tetapi pernah mengajar di sebuah Playgroup di Yogyakarta. Pengalaman mendidik anak didapat dari sana.

Share
Tweet
Pin
Share
4 komentar
Sekitar tiga bulanan ini, hampir setiap hari aku menjadi salah satu followers dan stalker setia akun instagram @Retnohening. Putri Ibok Retno Hening yang bernama Kirana berhasil merebut hati para pengguna instagram, terutama ibu-ibu dan para remaja perempuan. Karena kecerdasan, kelucuan, dan karakternya yang menggemaskan.
www.Instagram.com/retnohening

Di setiap video-video yang diunggah oleh ibok—panggilan Kirana kepada ibunya—memperlihatkan ibok itu adalah sesosok ibu yang lembut, sabar, dan kreatif dalam mendidik anaknya. Mengajari anak usia 3 tahun berbagi, berempati, dan peka terhadap lingkungan.

Selama ini aku hanya melihat dari media sosial tentang beliau. Mengamati setiap foto dan video dengan bumbu captionnya. Aku hanya tahu bungkus luarnya tentang mendidik anak sepandai itu. Banyak pertanyaan tentang ibok yang selalu mampir tapi tak kunjung kudapatkan jawabannya. Aku penasaran, bagaimana cara mendidik anak seperti Kirana, yang terlihat sangat kritis, lebih pandai dan aktif dari anak seusianya.
Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
www.kartunlucu.com

Masih Bulan Syawal, membicarakan tentang lebaran belum kadaluarsa. Lebaran ini diam-diam aku mengamati sikap anak dan para orangtua saat silaturahmi ke rumah orang, entah itu tetangga atau saudara.

Coba sekali saja kalian mengamati sikap anak-anak yang sedang berkunjung ke rumah kalian, lalu mereka menikmati suguhan yang telah tersaji manis di meja. Ada anak yang cenderung hanya diam tanpa menyentuh sedikit pun meski itu hanya permen. Ada lagi type anak yang lebih aktif, dia mencicipi satu makanan lalu makanan lainnya. Sedikit-sedikit asal rata, mungkin begitu pikirnya. Atau ada juga, seorang anak yang menemukan makanan kesukaannya, lalu memakannya terus-menerus.

Saat melihat itu, hilangkan pikiran buruk tentang anak. Jangan memposisikan kalian sebagai juri yang akan menilai mana tindakan anak yang sopan dan tidak. Nikmati saja melihat mereka dan ajak hatimu untuk memahami. Apa yang kalian pikirkan? Bukankah sebenarnya tingkah mereka itu lucu dan menggemaskan?
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sudah lama aku menjadi anggota di sebuah grup parenting di whatsapp. Kemarin aku sengaja me-screenshoot salah satu cerita yang di-share admin tentang percakapan beberapa ibu yang membicarakan cara mendidik anak. Bagiku percakapan itu menarik, karena sang ibu mengatakan bahwa dia sering menceritakan kepada anak-anaknya tentang Rasulullah.

Sebelum berangkat sekolah, si anak selalu mencium tangan beliau. Sambil mengusap kepala anaknya, sang ibu selalu bilang, “Rasulullah sedang menunggumu di Madinah untuk kau hafalkan hadist-hadist peninggalannya.” Alhasil, dewasa ini anaknya telah hafal Al-Quran dan Hadist serta mendapat beasiswa S2 di Madinah.

Screenshoot penggalan cerita itu tadi aku upload di status whatsapp. Ada seorang teman kuliah yang memberi komentar statusku tersebut.

“Itu grup apa?”

“Grup Wonderfull Parenting.”

“Waduh, aku belum siap.”

“Aku suka aja gabung di sana buat persiapan.”

“Iya deh, calon mom.”

Lalu aku tak membalas pesannya. Pikirku, ada mindset yang salah bagi para calon ibu masa kini. Entah itu mereka yang sudah ingin menikah atau pun belum. Mereka berpikiran bahwa ilmu parenting hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang sudah berumah tangga.
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Older Posts

About Me

Foto saya
Anik's Blog
Hi, ini tempat pulangnya Anik. Berisi hal-hal random yang rasanya perlu ditulis.
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Tumblr

Member Of

1minggu1cerita

Categories

  • Blogwalking
  • Calon Ibu
  • FIKSI
  • Flashback
  • Kerelawanan
  • Obrolan Cermin
  • Review Ala-Ala
  • Sudut Pandang Pernikahan

Postingan Populer

  • (CERPEN) Tangisan di Rumah Marni
  • Aku, Insecure, dan Parenting Orangtuaku
  • Ketika Aku Masih Diingat
  • Boneka Pernikahan
  • Butiran Candu

Blog Archive

  • Maret 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Juli 2023 (2)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (2)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (4)
  • Juli 2020 (3)
  • Juni 2020 (7)
  • Mei 2020 (17)
  • April 2020 (4)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (3)
  • Juli 2019 (9)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (1)
  • Maret 2019 (7)
  • Februari 2019 (3)
  • Januari 2019 (3)
  • Oktober 2018 (6)
  • Maret 2018 (22)
  • Februari 2018 (14)
  • Agustus 2017 (7)
  • Juli 2017 (11)
  • Juni 2017 (11)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (14)
  • Desember 2016 (12)
  • November 2016 (2)

Created with by ThemeXpose