Minggu, 07 Oktober 2018

Mood

15.19 2 Comments

Biasanya nulis sembunyi-sembunyi di blog. Karena blog itu tempat persembunyian paling aman untuk mengeluarkan kotoran-kotoran hati. Paling beberapa orang ndak kenal yang baca atau komentar. Ndak apa-apa. Mereka ndak kenal aku di dunia nyata. Ndak masalah.

Paling masalah kalau teman dunia nyata diam-diam main ke blog. Bikin aku malu. Makanya aku ndak suka nulis di IG, FB, atau status WA. Pasti dibaca sama orang-orang yang tahu aku. Ndak pede aku tu. Sampe aku sempet envy sama orang-orang yang terbiasa nulis di IG. Kok mereka bisa berani sih, pikirku.

Meskipun begitu, aku nggak pernah kepikiran untuk menghilangkan rasa ndak pede atau ketakutanku. Malah kurawat tumbuh sempurna. Akhirnya, media sosial kubiarkan kosong mlompong nggak ada tulisan baru. Dan tentu saja, di blog makin banyak tulisan (beberapa bulan lalu, sekarang ndak) wkwk.

Entah, mungkin melalui seorang teman ini aku mau memanfaatkan IG dan FB buat nulis. Dia lagi suka gambar, aku suka lihat gambarannya. Kutanya, "Gimana caranya pede buat ngunggah gambar kek gitu?" Dia bilang, "Awalnya aku malu, tapi kupikir-pikir kalau ndak aku yang menghargai karyaku, lalu siapa lagi." Menohok banget. Iyaya, pikirku.

"Ndak usah pikirin apa kata orang, orang lain menerima apa tidak ya terserah. Yang penting apa yang kita hasilkan bukan sesuatu yang negatif. Kita itu harus jadi orang pertama yang mengapresiasi karya kita sendiri," jelasnya. Emm ngena banget sampai hati kalimatnya.

Jadi semenjak itu aku mulai nulis di IG dan FB. Gak perlu lagi buka laptop buat nulis di blog. Tinggal selonjoran ngetik-ngetik di hp.

Dia juga bilang, "Emosiku semakin membaik setelah aku sering gambar. Misalnya aku gambar suasana pegunungan jadi seger gitu lihatnya."

Kurasakan akhir-akhir ini setelah nulis keadaan hatiku membaik. Lama-lama galauku ilang, lama-lama marahku mereda, lama-lama sedihku sirna, lama-lama aku ketiduran pas ngetik ini sampai lupa upload tadi malem ;)

Art by @lanadevinta

Karena Jauh dan Kita Perempuan

15.09 0 Comments


"Nanti setelah sidang kalau ada bencana lagi (ya semoga aja gak ada sih wkwk), kamu mau nemenin aku terjun?" tanyaku pada seseorang setelah Lombok terkena gempa.

"Aku juga pengen, tapi ndak boleh sama orang tua." Hmm, sebenarnya aku pun juga tidak tahu diizinkan atau tidak. Karena kita adalah perempuan, pasti orang tua lebih khawatir.

Terulang lagi tadi malam aku tanya ke seseorang yang sudah niat sekali ingin berangkat ke Palu. "Gimana, Dek? Jadi berangkat?" Dia mengirim emotikon sedih. Aku sudah menduga apa yang akan dia katakan. "Ndak boleh sama ibuk, Mbak." Saat kutanya, "Kenapa, Dek?" "Ibuk ndak tega," jawabnya.

Padahal kalau dipikir, tidak berangkat ke Palu pun kalau kita sudah ditakdirkan celaka, maka celakalah kita. Bagaimana pun krisisnya keadaan di Palu kalau Allah masih mengizinkan kita selamat, kita akan tetap selamat kembali ke rumah. Tapi naluri ibu memang seperti itu. Khawatir.

Setahun lalu aku sempat izin juga mengikuti program mengajar di pedalaman. Padahal masih izin, daftarnya pun masih tahun depan (read: tahun ini). Tapi orangnya sudah khawatir, hampir tiap hari tanya, "Nduk, jadi daftar ndak?" "Tahun depan, Buk. Aku kemarin tu masih rencana aja mau daftar." Orangnya langsung bilang, "Ndak usahlah, ndak usah daftar. Jauh, kamu perempuan." Aku diam tak mencoba meyakinkan lagi. Dan ternyata, program itu diberhentikan ketika aku kepo-kepo di websitenya. Rasanya pengen nangis, kecewa, berantakan hati aku. Gini ternyata kalau tetep keukeuh sama hal yang tidak diridhoi orang tua.

Aku salut sama mereka yang terjun ke bencana, mereka itu yang siap psikis, tenaga, waktu, dan nyawa. Mereka itu tentara Allah yang berani meninggalkan segala kesenangan hidupnya. Meski 2 minggu di tempat bencana, pastilah banyak tantangannya. Tapi ketika kita berbagi, yang ada malah rindu dan ketagihan untuk terjun lagi, begitu kiranya kata orang yang pernah terjun bencana.

Kelak nanti kalau jadi orang tua, serahkan anak kita kepada Allah. Biarkan dia melanglang buana menjadi tentara-Nya. Karena ketika kita membahagiakan orang, berarti bahagia kita adalah tanggung jawab Allah.

Sabtu, 06 Oktober 2018

Salah Fokus

06.41 2 Comments

Kemarin saat menuliskan tentang seseorang, sebenarnya itu bukan pertama kalinya. Dan tujuanku bukan mengkhususkan untuk orang tersebut. Pun kemarin juga tidak sedang dalam rangka apa-apa. Hanya ingin menyampaikan pesan yang tersurat di tulisan. Sebenarnya aku sering nulis tentang banyak orang di blog tanpa menyebut nama, baru kali ini saja berani nyebut nama dan upload di akun medsos. 

Aku sempat izin kepada dia sebelum mengunggahnya. Awalnya dia tidak mengizinkan untuk menyebut namanya di tulisan. "Nanti bisa membuat penyakit hati," katanya.  Memang sih, memuji seseorang terlalu berlebihan itu tidak baik.

Lalu dia mengatakan lagi, "Jika Anik ingin menginspirasi, biarkan  orang-orang membaca kisahnya, bukan siapa orangnya."

Aku membenarkan apa yang dia katakan, sayangnya ada alasan lain kenapa aku tetap ingin menyebut namanya. "Biarkan kisah kita cuma aku, kamu, dan Allah yang tahu," katanya. Bikin aku meleleh pas dia bilang seperti itu.

"Tapi aku ingin sambil upload foto ini," ucapku sambil mengirim foto rajutan nama dia. Fotonya bagus, sayang kalo ndak diupload, pikirku. Hmm, hanya karena foto. Bagaimana mungkin aku merahasiakan namanya, kalau foto yang ingin kuupload saja bertuliskan namanya.

"Ndak apa-apa fotonya diupload sebagai apresiasi, tapi namaku jangan disebut di tulisan. Kalau terlalu sering disebut nanti jadi penyakit hati." Akhirnya dia mengizinkan. Kuhapuslah semua nama dia di tulisan, hanya tinggal satu kata di judul. Baiklah, aku unggah seperti apa yg dia minta.

Melihat respon orang-orang, ternyata benar apa yang dia katakan. Ketika kita menuliskan seseorang, fokus mereka pada tokoh yang sedang dituliskan, bukan pada pesan yang disampaikan.

Jadi lain kali ketika aku diam-diam menuliskan tentang cerita yang ternyata sama persis dengan apa yang pernah kualami dengan kalian, bisa jadi kalian sedang menjadi tokoh tulisanku. Tapi aku tak lagi ingin menyebut nama, bukan karena aku tak ingin memperkenalkan kalian pada dunia. Hanya saja aku ingin melindungi kalian dari pujian manusia yang bisa membuat lupa diri.

Hati-hati diam-diam aku suka mengamati untuk inspirasi ;)

art by @lanadevinta

Izza di Mata Anik

06.28 0 Comments

Pertama tahu dia saat aku diwawancarai seleksi masuk relawan 2016. Melihat dari cara bicara, berbahasa, dan mendengar suara aku sudah terkesan dengan dia. Awal masuk relawan sering manggil dengan tambahan 'Mbak' di depan namanya. Ternyata kita seangkatan. Jadilah aku hanya memanggil namanya sampai sekarang.

Entah, beberapa minggu ini aku lebih sering bertemu dia. Komunikasi melalui WA lebih intens dari sebelum-sebelumnya. Padahal dulu kita hanya sekadar kenal dan ngobrol saat ada acara relawan, tidak seakrab sekarang.

Suatu ketika, dia mengantarku pulang ke kos. Aku lupa karena apa, sebelum masuk kos dia sempat tertawa karena ulahku. Lalu dia bilang, "Aku kadang ingin seperti kamu yang bisa bercanda." Dalam hatiku, "Cewek pecicilan dan suka menertawai hal-hal receh itu bukan suatu kebanggaan. Padahal aku lebih ingin menjadi kamu." Tapi sayangnya, kalimat itu tidak sampai kuutarakan, karena masih terdiam terpaku mendengar pengakuannya.

Ditambah lagi, dia pernah bilang seperti ini saat perjalanan pulang dari pernikahan seorang teman relawan, "Terima kasih, ya. Setelah aku seminar proposal hanya kamu dan teman-teman relawan yang ngajak foto." Aku terpekur beberapa saat lalu membalas ucapannya, "Kemarin kan teman-temanmu yang lain banyak yang datang." Lalu dia menjawab, "Iya, tapi tidak akrab. Aku tidak punya teman di kampus." Saat itu aku merasa dibohongi. Dia seorang organisatoris yang kulihat hangat dan ceria, pintar beradaptasi, selalu punya bahan obrolan dengan orang-orang baru, tidak mungkin rasanya tidak memiliki seorang teman. Aku saja betah berlama-lama dengan dia. Dia selalu mempunyai pengetahuan-pengetahuan yang tidak terpikirkan olehku sebelumnya. "Tapi kamu kan orangnya pintar bergaul." Dia menjawab dengan nada rendah, "Hanya kelihatannya saja kok, Nik." Lalu aku terdiam.

Hari Minggu lalu setelah pulang panahan, aku bilang, "Aku ingat waktu bilang kamu ingin seperti aku, padahal aku yang ingin jadi kamu. Kamu itu wise, dewasa, menyenangkan, dan lainnya." Dia tertawa, lalu bilang, "Tapi aku suka lho cara kamu untuk membuat orang lain terbuka. Bercerita tentang dirinya ke kamu." Lagi-lagi dia menyebut fakta yang tidak kubenarkan. Karena aku merasa tidak seperti itu."Yaaa, mungkin kita bisa saling belajar," ucapnya.

Dia sering merendah bilang seperti ini, "Maaf, ya. Aku orangnya terlalu serius dan monoton." Aku tertawa lalu bilang, "Kamu begitu menyenangkan."

Semenjak obrolan itu aku berpikir, kadang ada hal yang tidak kita syukuri dalam diri kita padahal itu yang disukai orang lain. Ketidakbersyukuran itu ada ketika kita tidak benar-benar mengenal diri kita masing-masing. Itu karena kita terlalu sibuk mengenali orang lain sampai lupa dengan diri sendiri. Bagaimana pun itu, kita semua mempunyai sisi unik masing-masing.

art by @afifahpr


Rabu, 03 Oktober 2018

Bencana Alam dan Kepekaan Manusia

22.50 1 Comments

Air mata di Lombok belum mengering, getaran gempa dan hempasan tsunami di Palu dan Donggala sudah menggiring. Belum luka terbalut, letusan gunung Soputan sudah menyambut. Ibarat luka yang ditaburi garam, semakin perih. Tapi serumit apa pun keadaan saat ini, Allah tetap Maha Baik penyimpan rencana yang begitu apik. Aku percaya, Allah tidak sedang marah. Allah tetap Maha Penyayang dan Pengasih seluruh umat manusia. Tidak pantas kita manusia biasa ini berprasangka buruk bahwa ini pertanda Allah sedang murka. Bisa jadi, ini adalah bentuk kasih sayang-Nya. Allah ingin kita semakin dekat dan berdoa lebih lama dari biasanya.

Ketika Sulawesi menangis, pun semua anak manusia di negeri ini ikut merintih melihat kabar mereka dari portal berita. Meski hanya melihat mereka terpontang-panting di layar televisi maupun ponsel, tapi rasanya tubuh ini ikut lemas merasakan betapa cemasnya mereka. Duka mereka juga menjadi lara kami. Meski tak pernah bertatap muka, mengetahui namanya pun tidak, tapi mereka tetaplah menjadi bagian kami. Saudara setanah air yang menjadi tanggungan kami.

Senin, 01 Oktober 2018

Manajemen Emosi dengan Hobi

22.59 0 Comments

Setelah Isya’ tadi aku melihat status wa seorang teman tentang hobi barunya yaitu menggambar. Sebenarnya buka hobi baru, dia sudah lama menyukainya tetapi akhir-akhir ini kesukaan itu mulai dia tekuni lagi.

Saat aku mengatakan, “Lagi senang menggambar, ya?”

“Lagi coba-coba aja nih. Semua kucoba, doodle, lettering, caligraphy,” jawabnya.

“Aku dari dulu feeling jiwamu itu di seni,” balasku. Dia bekerja sebagai bagian akuntansi kantor cabang bimbingan belajar ternama di negara ini. 

“Soalnya aku orangnya nggak bisa diatur, ya,” katanya sambil mengirim emotikon tertawa.

“Bukan begitu, gimana ya jelasinnya.” Aku bingung menanggapi balasannya. Memang sulit untuk mendeskripsikan penilaianku.

“Padahal pas jaman SMK aku vakum karena tidak punya alat-alatnya, sekarang kuturuti aja semuanya.”

“Soalnya udah punya pemasukan, ya,” candaku.

“Sebenarnya menggambar itu untuk manajemen stress.”

“Berhasil?”

“Bisa jadi, stress ku teredam dengan baik. Aku jadi merasa santai gitu.”

“Mungkin aku akhir-akhir ini emosian gara-gara emosiku tidak terlampiaskan dengan baik, ya,” balasku.

Dari percakapan dengannya aku sadar, selama ini banyak perasaan, pemikiran, dan emosi yang mengendap dalam diriku. Tidak pernah aku lampiaskan kepada siapa pun atau apa pun. Yang ada aku malah berlari dari emosi itu, aku mencari kesibukan lain. Setelah aku selesai dengan kesibukan, emosi itu akan menghinggapiku lagi. Menggerogoti lagi pertahanan diriku. Bukan mengobatinya, tapi malah memeliharanya dengan baik.

Sekarang aku percaya kebenaran artikel tentang menulis bisa membuat awet muda. Memang benar, setiap kali setelah menulis ada energi buruk yang terlepaskan. Serasa plong lega gitu. Unek-unek di hati sudah hilang. Meski menulis tidak membantu banyak menyelesaikan masalah, setidaknya bisa membantu untuk mengontrol emosi.




Sabtu, 31 Maret 2018

Mencintai Diam-Diam Itu Bukan Diam-Diam Mencintai lho!

00.13 4 Comments

See the source image
Source: Google
Mencintai itu fitrah. Setiap manusia dikaruniai oleh Allah rasa cinta kepada sesama mahluk. Manusia boleh mencintai lawan jenis, tidak ada larangan untuk itu. Hati kita tidaklah mati rasa yang akan terasa biasa saat bertemu dengan lawan jenis yang mengagumkan atau sikapnya yang meneduhkan. Manusiawi jika ada rasa getaran apabila bertemu pandang dengan seseorang yang diam-diam mencuri hati. Namun, sebagai muslim/ah kita harus tahu bagaimana cara mencintai yang sesuai syariat. Bukan dengan melakukan tindakan yang dimurkai Allah seperti pacaran.

Mencintai yang baik itu dengan cara menyebutnya dalam doa dan memantaskan diri agar kelak diberikan jodoh yang pantas pula. Mencintai seperti ini biasa disebut dengan mencintai dalam diam. Menyimpan rasa kepada seseorang tanpa mengungkapkan. Hanya memendam diam-diam, namun ramai dalam lantunan doa untuknya.

Kalian juga pernah mencintai diam-diam? Atau bahkan sekarang sedang mengalaminya? Sering stalking instagramnya, kah? Sering kepo statusnya di facebook? Atau sering tanya-tanya kabar si doi ke temannya?

Kalau jawabannya kebanyakan sering, patut dipertanyakan lagi, sebenarnya perasaan kalian itu mencintai diam-diam atau diam-diam mencintai? Memang apa bedanya, bukannya sama saja?

Sebenarnya sama saja. Sama-sama tidak mengungkapkapkan perasaan kepada doi. Namun yang membedakan, mencintai diam-diam itu menyerahkan segalanya kepada Allah. Apabila rindu, menyampaikan kerinduannya kepada Allah yang Maha memiliki hati doi. Bukan memenuhi linimasa media sosial dengan status galau yang memperlihatkan kalau kita sedang rindu dengan seseorang. Jika rindu malah stalking instagram, memandangi foto, dan melihat foto unggahan lamanya.

Mencintai diam-diam itu bukan dengan mencari-cari jalan agar bisa berpapasan, melihat sekilas wajahnya, atau memandanginya dari kejauahan. Namun, menjaga pandangan dari doi yang belum halal. Malahan yang lebih baik, menghindar tidak bertemu agar tidak menumbuhkan perasaan.
Baca Selengkapnya: https://trenlis.co/mencintai-diam-diam-itu-bukan-diam-diam-mencintai-lho/