Jumat, 23 Februari 2018

Tips Membagi Waktu Saat Skripsi

00.00 0 Comments
See the source image
Source: Silahkansimak..blogspot.com


Awal semester akhir, serasa aku mendapat beban yang amat berat. Aku membayangkan nantinya hanya akan sibuk dengan buku dan perpustakaan dan harus berhenti dari kegiatan organisasi serta hobiku yang lain. Sampai akhirnya, kita akan memilih salah satunya dan yang terjadi kita akan mengerjakan itu dengan terpaksa. Misalnya kita hanya mengerjakan skripsi dan menganggurkan organisasi serta hobi, hasilnya kita akan bosan, jenuh, dan merasa tertekan. Lalu kalau kita lebih memilih sibuk di organisasi dan hobi dulu, skripsi belakangan, yang ada malah kita kepikiran dengan skripsi dan tidak bisa enjoy melakukan kegiatan di luar sana.
Pada beberapa akhir ini aku menyadari beberapa hal, salah satu adalah sebenarnya saat kita masuk ke semester tua, waktu kita untuk kuliah untuk sangat sedikit bahkan sudah tidak ada. Tapi nyatanya, aku belum bisa membagi waktu. Sekali pun aku pernah beberapa hari untuk tidak sibuk dengan organisasi, nyatanya aku juga tetap tidak mengerjakan skripsi. Yang ada malah kongkow nggak jelas di kos atau selonjoran di kasur yang gravitasinya sangat kuat.                   
Setelah perenungan beberapa hari, akhirnya aku menemukan beberapa cara agar bisa membagi waktu berorganisasi, mengerjakan hobi, dan skripsi:
  1. Bangun Mindset Bahwa Skripsi Itu Asyik
Aku merasakan begitu pentingnya sebuah mindset atau cara pandang kita. Banyak sumber yang kubaca, sebenarnya pikiran itu mempengaruhi cara kerja tubuh kita. Kalau kita berpikiran skripsi itu berat, hasilnya akan males-malesan mengerjakan skripsi. Tapi kalau kita menikmati semester akhir ini, yang ada kita akan semangat untu mengerjakan sesulit apa pun itu. Percayalah, sebenarnya skripsi itu bukan penghalang kita untuk tetap aktif dan eksis di luar sana.
  1. Memanfaatkan Waktu di sela mengerjakan skripsi dengan hal bermanfaat
Tidak perlu kamu keluar dari organisasi atau meliburkan diri mengerjakan hobi karena alasan skripsi. Jadikan saja organisasi dan hobi sebagai sebuah hiburan. Kalau kamu memutuskan untuk tidak mengerjakan kegiatan apa pun karena takut mengganggu skripsmu, yang ada nantinya di sela waktumu akan terbuang dengan hal yang tidak bermanfaat. Misalnya saja kamu mengerjakan skripsi seharian, setelah lelah kamu datang ke café-café untuk nongkrong enggak jelas pulang malam sampai lupa waktu. Yang ada besoknya kamu kesiangan dan badan menjadi tidak fit. Nongkrong memang tidak buruk, akan tetapi kalau itu menjadi sebuah kebiasaan, yang ada di sela waktumu akan terbuang dengan percuma. Isi saja waktu kosongmu dengan nongkrong berfaedah dengan teman organisasi untuk berbincang-bincang tentang program yang bermanfaat, menonton film, membaca novel, nge-games, menonton vlog yang membangun dan lainnya.
  1. Membuat Daftar Kegiatan Selama Sehari
Membuat daftar kegiatan adalah solusi agar bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Karena nantinya kita akan lebih terarah. Jika tanpa jadwal, saat ada waktu kosong kita malah gabut dan akhirnya melakukan hal-hal yang tidak berfaedah, misalnya stalking mantan, gosip dengan teman kos, atau chatting sampai lupa waktu. Sehari itu kamu harus menargetkan hal apa yang harus kamu lakuan dan apa yang kamu capai. Dan beri konsekuensi jika kamu tidak mematuhinya agar dirimu terbiasa disiplin.
  1. Mengerjakan Skripsi Sebagai Ganti Waktu Kuliah
Sebenarnya saat semester akhir, waktu untuk mengerjakan skripsi itu banyak karena sudah tidak dibebani dengan waktu kuliah. Tapi entah kenapa, kebanyakan orang termasuk aku juga pernah tidak bisa membagi waktu.  Bahkan, berhari-hari hanya menyentuh buku pada halaman yang sama. Jadi caranya adalah mengerjakan skripsi di jam kuliah. Jadwal kuliah kebanyakan kampus adalah pagi sampai sore. Kita bisa mengerjakan skripsi di waktu pagi sampai siang, entah itu membaca buku, mencari referensi, dan mengetik skripsi. Dengan begitu kalian tidak perlu begadang untuk menyelesaikan tugas akhir kalian. Pagi sampai siang, matikan ponsel dan sibukkan waktu kalian dengan skripsi. Anggap saja kalian sedang kuliah dan tidak bisa diganggu. Jangan mengerjakan skripsi setengah-setengah di waktu ini, misalnya sambil main hp, medsos, atau nge-game. Karena nantinya sebanyak apa pun waktu yang kalian gunakan hasilnya tetap tidak akan maksimal kalau kalian tidak fokus. Pilahlah waktu skripsi dan senang-senang sendiri.
  1. Mengerjakan Tugas Organisasi di Luar Jadwal Mengerjakan Skripsi
Misalnya kalian menggunakan jadwal mengerjakan skripsi seperti cara di atas, maka sibukkan kalian dengan organisasi pada waktu sore atau malam. Menurut pengalamanku, rapat organisasi dilakukan pada saat sore atau malam mengingat pada pagi hari semua pengurus sibuk dengan urusan kuliahnya. Jika pun ada acara pagi, pasti organisasi itu memilih waktu Sabtu atau Minggu karena di waktu itu adalah waktu libur kuliah. Jika pun ada urusan organisasi yang harus dilakukan pagi pada hari efektif, usahakan kalian tetap menyempatkan waktu untuk mengerjakan skripsi meski hanya satu halaman atau satu jam. Agar nantinya kalian tidak lupa dengan skripsi dan kalian tetap bisa konsisten untuk mengerjakan.
  1. Jangan Suka Menunda dan Hindari Mengerjakan Hal Yang Tidak Berfaedah
Semakin sering kita menunda, kemalasan yang ada pada diri kita semakin menumpuk. Sedikit saja kalau kita membiasakan setiap hari mengerjakan skripsi itu akan lebih baik. Dari pada mengerjakan lembur pada hari tertentu, itu akan memberatkan diri kita sendiri.
  1. Buatlah Target Pencapaian Skripsimu
Buatlah target pencapaian skripsimu, misalnya tanggal sekian harus selesai revisi, harus selesai bimbingan, mencari referensi, membaca 10 jurnal, atau lainnya. Agar skripsimu lebih terarah dan tidak mengalir apa adanya sampai kamu lupa waktu.  
Itu tadi tips yang bisa aku bagi, semoga tugas akhir kita dilancarkan oleh Allah :)

Kamis, 22 Februari 2018

Cerita Ngodop Hari ini :)

00.30 2 Comments

See the source image
Source: Hasbee.wordpress.com

Sebenarnya ini tulisan kemarin, biar bisa kelihatan nulis setiap hari jadinya aku menjadwal tulisan ini terbit pada hari besoknya (sekarang). Alhamdulillah, terhitung 7 hari ini aku bisa ngODOP (One Day One Post). Kata seorang teman dari sumber yang dibacanya, apabila kita bisa konsisten melakukan suatu kegiatan berturut-turut tujuh hari, maka kegiatan itu akan menjadi kebiasaan kita. Semoga saja ngODOP ini bisa menjadi kebiasaanku sampai nanti.

Di postingan kali ini aku ingin bercerita, sebenarnya menulis sehari sekali itu sangat mudah. Tujuh hari terakhir ini aku menulis paling lama sekitar 20-30 menit. Bahkan ada tulisan yang bisa kutulis hanya 15 menit. Ya memang sih, tulisanku tidak membahas hal-hal berat, hanya cerita ringan. Tapi disitulah kunci ngodop, kita bisa menulis apa pun tentang seharian kita. Hal-hal sederhana yang bisa kita bagikan ke orang lain. Jangan membahas hal-hal berat, kamu nggak akan kuat seperti Dilan. :D

Aku jadi merasa  bersalah pada diri yang selama ini menulis tapi ingin terlihat begitu perfect. Yah, aku memang seperti itu. Orangnya terlalu perfeksionis pada beberapa hal. Tapi memang, berusaha terlihat perfect itu hanya akan menyiksa diri kita sendiri. Karena di saat itu akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengoreksi tulisan. Karena sedikit pun tidak ingin ada yang salah atau ada yang cacat pada tulisanku. Itu memang baik, tapi caraku terlalu berlebihan.

Aku juga memaksa diri untuk menulis cerpen dan hal berat lainnya setiap hari. Itu sangat menguras tenaga dan pikiran. Jadinya, ya memang blog akan terisi dengan postingan yang lebih oke, akan tetapi urusan yang lain menjadi terbengkalai karena menulis terlalu lama. Dan di sisi lain, karena terlalu memforsir diri sendiri, aku menjadi cepat bosan untuk menulis jika tidak ada ide.

Kalau kita terbiasa membicarakan hal ringan, saat tidak ada ide pun kita tetap akan terbiasa untuk membahas hal ringan atau sepele. Padahal hal sepele pun itu kadang luput dari pandangan orang. Maka jangan sepelekan hal sepela, ya.

Ohya, kalau kalian punya waktu luang dan banyak sekali hal yang ingin kalian tulis atau ceritakan, sekali duduk nulis beberapa postingan juga not bad lho. Karena itu bisa menjadi tabungan untuk postingan besok. Jadinya kita tetap bisa mempostingnya jika ada waktu-waktu sibuk sehingga tidak bisa ngeblog.

Yah begitulah cerita ngodop hari ini. Semoga aku bisa nulis dan bisa konsisten mempraktikannya. :)


Rabu, 21 Februari 2018

Nikmati Setiap Prosesnya :))

13.38 0 Comments
See the source image
Source: lianurbaiti.wordpress.com

Siang ini aku duduk di bangku kayu perpustakaan kampus. Aku merasa nyaman berada di ruangan yang dingin dan hening ini. Berlalu lalang orang datang dan pergi tapi tak mengganggu konsentrasiku. Ingin rasanya aku mengumpat diriku sendiri yang baru menyadari duduk berjam-jam di perpustakaan itu ternyata enak. Ya memang tempat ini bukan lagi asing bagiku. Di mata kawan lain pun aku terlihat lebih rajin dari mereka mengunjungi tempat ini. Tapi sayangnya, aku tidak lebih rajin dari apa yang mereka kira.
Aku datang ke perpustakaan hanya untuk meminjam novel sebentar lalu pergi begitu saja. Jika ada tugas, aku meminjam buku sebanyak mungkin sampai lupa untuk kubaca. Nyatanya, aku lebih sering membayar denda belasan ribu untuk buku yang hanya menumpuk di meja kamar.
Ini suatu kemajuan. Biasanya, siang-siang begini aku meringkuk di kasur kosan. Hari ini entah mendapat suntikan semangat darimana, aku memaksa diri untuk bersepeda ke perpustakaan demi skripsi. Aku mengetik, membaca, dan duduk berjam-jam di perpus sampai sekarang aku mengetik postingan ini.

Selasa, 20 Februari 2018

Masa Buru-Buru

00.31 0 Comments
Image result for gambar naik tangga kartun
Source: Pixabay.com

Aku dihadapkan pada masa ini. Masa dimana siapa yang cepat dialah yang terlihat lebih hebat. Siapa yang dulu dialah yang terlihat lebih maju. Hingga orang yang masih berada di belakang akan tertinggal. Lalu semua menjadi terburu-buru agar terlihat lebih maju. Nyatanya, hidup bukan persoalan siapa yang lebih cepat, lebih maju, atau lebih hebat. Tapi tentang sebuah catatan perjalanan yang memiliki makna dari setiap waktu yang dilaluinya.

Tulisan ini terlahir dari sebuah kegalauan yang sedang mencari makna tentang hidup. Dimana aku menjadi buru-buru ketika melihat teman-temanku yang sudah maju terlebih dahulu. Padahal seharusnya aku tahu, bahwa maju selangkah saja membutuhkan perjuangan yang tidak sebentar. Sebuah pencapaian membutuhkan tetesan peluh dan kerja keras yang tidak sedikit. Semua kerja keras membutuhkan kesabaran yang tidak intans.

Senin, 19 Februari 2018

Semua Ada Waktunya

17.02 0 Comments


Aku ingat sekali, pada tanggal 10 Februari 2018 lalu aku datang ke wisuda seorang kawan yang usianya lebih tua dariku. Melihat senyum merekahnya ada haru yang kusembunyikan. Aku takut dibilang alay oleh kawan yang lain jika memperlihatkan perasaan haruku.

Aku terharu bukan hanya karena toga yang dikenakannya, terlebih karena cerita tak terduga yang pernah diceritakannya sendiri di hadapanku.

Jadi ceritanya, kawan yang ini adalah seorang pementorku di suatu organisasi. Seorang perempuan tangguh yang begitu aku kagumi karena kedewasaan, pemikiran, dan prestasinya. Aku belajar banyak dari dia. Kesibukannya di organisasi, membuat dia harus menghabiskan waktu di kampus selama lima tahun.

Aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat melihat temannya sudah lulus, bekerja, atau menikah, sedangkan dia masih sibuk dengan skripsi yang tak kunjung selesai. Dia mengabdikan dirinya pada organisasi untuk berdakwah dan menyiapkan kader dakwah selanjutnya. Seorang perempuan yang misi hidupnya untuk berjuang di jalan Allah itu terlihat tak gentar meski tertinggal dari teman lainnya.

Lalu suatu ketika di tahun 2017 saat terjadi bencana meletusnya gunung berapi di Bali, dia terjun membawa nama organisasi kerelawanannya. Dia membuang penat karena bertepatan hari itu sidang skripsinya ditunda oleh dosen. Dia membuang rasa galaunya dengan melakukan aksi kebaikan di Bali. Setelah itu, aku tidak tahu-menahu apa lagi yang terjadi dengannya.

Singkat cerita, pada awal bulan Desember 2017 aku dikejutkan sebuah ucapan polosnya. “Kalian belum tahu ya kalau aku akan menikah?” Sontak saat itu mataku membulat mendengarnya. Kupikir dia bercanda, tapi kurasa perempuan seperti dia tidak akan pernah bercanda pada hal-hal yang serius.

“Dengan siapa, Mbak?” tanyaku.

“Dengan anak relawan,” katanya.

“Relawan Jember, bukan?” tanya teman sebelahku.

Di organisasi relawan ini jika ada orang yang menikah, kita selalu penasaran menikah dengan siapa. Karena di organisasi yang menerapkan syariat Islam ini tidak mengenal kata pacaran sebagai pendekatan. Jika pun menikah dengan sesama relawan, kita selalu ingin tahu bagaimana perjalanannya.

Perempuan itu menggeleng. “Dengan siapa, Mbak?” tanyaku. “Dengan relawan Bandung. Kalian nggak kenal. Aku saja baru ketemu sekali saat aksi di Bali,” ungkapnya.

Dia memulai ceritanya karena aku dan teman sebelah kepo. Pertemuan mereka di Bali adalah pertemuan biasa.  Perempuan itu tidak menaruh rasa kepada siapa pun. Namun mengejutkan, saat sepulang dari Bali, laki-laki yang baru dikenal itu menghubunginya untuk mengungkapkan keseriusannya. Sontak kaget, perempuan itu memberi nomor ponsel abinya kepada laki-laki itu lalu memblokir nomor ponselnya.

Pernikahan mereka simple, hanya satu kali pertemuan keluarga mereka sudah menemukan tanggal pernikahan.

“Mbak, qodarullah ya sidangmu ditunda. Kalau nggak ditunda mungkin mbak nggak pergi ke Bali lalu nggak ketemu si dia.” Perempuan yang anggun itu hanya tersenyum mendengarku.

Mungkin ini hadiah yang diberikan Allah atas ganti tertundanya sidang dan kelulusannya. Karena Allah ingin saat wisuda, perempuan itu didampingi imamnya.

Tidak selalu yang duluan lebih cepat dari yang terlambat. Dan yang terlambat, belum tentu ketinggalan.

Dan sekarang, teman-temannya yang sudah lulus banyak yang belum nikah, sedangkan dia sudah memperoleh double gelar, yaitu sarjana dan istri. Ini sebagai bukti, semua manusia mempunyai masa prosesnya sendiri-sendiri. Kita tidak perlu menyamakan masa proses setiap orang, karena setiap bunga tidak mekar bersamaan. (unknown)


Minggu, 18 Februari 2018

Aku takut!

00.29 0 Comments


Aku pernah, mungkin kamu juga pernah. Aku sering, mungkin kamu juga sering. Merasakan suatu hal yang amat menyebalkan dan menyakitkan. Sekalipun kejadian itu sudah berlangsung lama, tapi lukanya masih membekas bahkan sulit untuk diobati. Entah kenapa, memori buruk itu sama dengan memori baik, yang sifatnya sulit untuk dihapus dari pikiran. Sekalipun sudah berjauhan dengan orang yang bersangkutan, sudah tidak berada di tempat kejadian, dan sudah melompat jauh pada waktu itu, tapi putaran kejadiannya tetap menempel pada ingatan.

Maunya marah. Segala medsosnya diblokir, tidak ingin bertegur sapa, atau parahnya ingin meluapkan emosi sejadi-jadinya. Kamu pasti juga tahu, bahwa menyimpan emosi itu tidak enak dan tidur tidak nyenyak.

Tapi kadang, kita lebih sungkan untuk mengungkapkan kepada orang itu. kita lebih memilih diam untuk mengobati luka sendiri. Kita lebih memilih mengalah agar tidak terjadi masalah. Tapi hasilnya, luka menumpuk dan tak kunjung terobati.

Aku takut jika membenci orang lain karena ulah atau lisannya, hatiku menjadi sakit dan sulit untuk memaafkan. Jadinya malah aku menjadi tak tenang.

Tapi, ada hal lain yang lebih membuatku takut, yaitu ketika ada orang lain yang hatinya tersayat karena tajamnya lidah atau karena buruknya ulahku. Aku takut, pada malam tidurku ada orang tersedu-sedan karena teringat lisanku yang tak keruan. Aku takut saat makan bakpao hangat, ada hati orang lain yang terbakar emosi karena terbayang ulah menyebalkanku.

Bahkan, aku sangat takut. Jika ada orang lain yang tersenyum di depanku, nyatanya di belakang dia begitu ingin murka melihat wajahku.

Aku takut menjadi orang yang begitu tidak diharapkan kehadirannya. Aku takut menjadi orang yang mudah menyakiti orang lain sampai hidupku sama sekali tidak memberi manfaat untuk mereka di luar sana. Aku takut jika banyak orang yang lebih suka ketiadaanku, daripada keberadaanku yang malah membuat gigit jari.

Aku takut, sangat takut sekali. Menjadi orang yang merasa baik-baik saja, padahal di luar sana nyatanya aku sangat buruk. Aku lebih takut lagi, jika tidak ada yang memberitahuku tentang ini. Orang lain tidak peduli denganku, tidak mau menegur jika salah. Memuji setinggi mungkin sampai aku merasa begitu baik, padahal banyak lubang kesalahan yang menganga pada diriku.

Aku sangat takut jika sampai akhir hayatku tidak menemukan orang yang mau menegur kesalahanku.




Sabtu, 17 Februari 2018

Friendship

22.38 0 Comments
Source: Pixabay.com

Diam bukan berarti bungkam. Jika aku diam, bukan berarti apatis dalam segala hal. Banyak yang terpikirkan, namun memendam suatu pikiran adalah sebuah pilihan. Tidak semua hal yang ada dalam pikiran harus diungkapkan.

Jika selama ini namamu tidak pernah aku tulis dalam caption maupun status medsosku, bukan berarti namamu sama sekali tidak ada dalam hatiku. Jika aku tidak pernah mengunggah fotomu, bukan berarti kamu bukan sahabatku. Jika aku tidak pernah mengabarkan kepada khalayak ramai tentang persahabatan kita, atau tak kuabadikan momen termanis kita, bukan berarti momen itu terlewat begitu saja.

Aku memang tidak seromantis kawan lain yang mengucapkan selamat atas bertumbuhnya usia, keberhasilan, dan segala pencapaianmu. Tapi trust me, hatiku bergemuruh ikut merasakan bahagiamu. Mataku hampir membasah melihat kawan yang setiap malam atau pagi menceritakan perjuangan menyebalkan dan melelahkannya, serta tak bosan memintaku mendoakannya, kini sudah mencapai apa yang menjadi tujuannya. Atau pun kawan yang masih dengan cerita perjuangannya sering mencuri-curi waktu untuk bercerita kepadaku. Atau juga kawan yang hanya memperlihatkan melalui sorot mata tanpa pernah bercerita. 

Kita tidak perlu pernah makan bersama, ngafe bareng, nonton, keluar kemana saja, atau bercengkrama lama untuk menjadi seorang sahabat. Cukup saling mengenal dan menyapa di dunia maya maupun nyata kita sudah menjalin ikatan persahabatan. 

Pertemanan kita tidak dinilai seberapa jauh kita main bareng, seberapa sering kita pergi ke cafe, dan seberapa sering kita makan gorengan bareng di tanggal tua.  

Percayalah, aku selalu belajar untuk tidak membicarakanmu dengan penduduk bumi, tapi tanpa kamu ketahui aku begitu ribut membicarakanmu bersama penduduk langit. Bukankah kamu tahu, doa yang digaungkan diam-diam akan lebih dihijabah oleh Maha Penggenggam doa?

Persahabatan kita terlalu manis jika sebatas ditulis dengan caption yang tenggelam di linimasa. Persahabatan kita terlalu berarti jika hanya dilukis dengan foto yang bisa tertelan tumpukan foto di kartu memori. Persahabatan kita terlalu istimewa jika hanya dibicarakan kepada sesama manusia.

Aku menyayangimu dengan caraku sendiri, bukan dengan cara orang lain mengikuti zamannya. Biarkan persahabatan kita sewajarnya saja agar tidak ada yang kecewa jika ada prasangka. Aku takut yang berlebihan justru yang meninggalkan luka. Biarlah begini saja, aku tak meninggalkan janji. Hanya sepenggal doa yang siap mengantri rapi di langit yang selalu menjaga kita. Dan semoga kita tidak hanya bersahabat di dunia, tapi sampai ke Jannah-Nya.


Terima kasih untuk kalian yang sudah menerima Anik apa adanya. Anik yang begitu introvert dan nggak terlalu suka haha hihi di cafe. Anik yang kadang pendiam kadang rame dan menyebalkan. Anik yang kalian bilang lola dan nggak asyik. Anik yang nggak update sama tempat nongkrong dan menu hits di kota.

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis: “Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku."

   *Tulisan untuk semua yang mengenalku di keheningan Sabtu Malam