Ruang Sendiri

by - 20.40

Source: Pribadi

Rasanya baru kemarin tahun baru, sekarang bulannya sudah semakin menua aja, ya. Semoga semakin cepat waktu berlalu, semakin mendewasa diri kita. Semakin banyak hari terlewati, semakin banyak target kita yang tercapai. Dan semakin kita bahagia dengan segala pilihan hidup yang kita jalani.

Hari ini aku ingat suatu hal. Bahwa bulan kemarin ada banyak pertanyaanku tentang hidup, dan Agustus datang dengan menyuguhkan berbagai jawaban.

Bulan Juli tepatnya tanggal berapa aku lupa, paketan buku yang kupesan datang. Ada 2 judul buku yaitu Menata Kala milik Novie Oktaviane Mufti dan Khairunisa Syaladin dan Bertumbuh tulisan Novie dan 4 teman lainnya semacam antologi begitu. Tentang Teh Novie, aku sudah bercerita tentang beliau di tulisanku yang lalu. Aku suka dengan tulisan-tulisan beliau, akhirnya memutuskan untuk membeli bukunya. Buku Bertumbuh aku baca di akhir Juli, ada tulisan Teh Novie yang berjudul Perjalanan halaman 3. Tulisan ini serasa disuguhkan Allah sebagai jawaban atas kegalauanku. Berikut kutipan tulisannya:


            Jika kamu perhatikan, perjalanan yang dilakukan oleh manusia selalu berarti dua hal, yaitu berjalan lebih jauh atau berjalan lebih dalam. Jauh atau dalam. Ya, perjalanan yang arah geraknya horizontal jaraknya lebih jauh, dan perjalanan yang arah geraknya vertical menjadi lebih dalam. Seperti apakah perjalanan keduanya?

Orang pertama akan berjalan lebih jauh. Berbekal sebuah peta, dia sudah tahu ke mana dia akan pergi. Tentunya pergi melangkah, menjauh dari tempatnya sekarang. Dalam hatinya, dia berharap bahwa perjalanan yang menjauhkan itu akan membuatnya mengenal banyak orang baru, mengunjungi tempat-tempat baru, dan mengakselerasi dirinya melalui pengalaman-pengalaman baru yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Perjalanan ini akan membuatnya lebih kaya akan pengalaman.

Orang kedua akan berjalan lebih dalam. Dia tidak berbekal apa-apa, kecuali diri dan hatinya sendiri. Jika dilihat dari luar, dia tampak seperti orang yang tidak melakukan perjalanan. Dia tetap diam di tempatnya, tentunya dengan mengupayakan segala hal yang bisa dia lakukan, tanpa harus menyusuri lengkungan-lengkungan jarak. Tidak seperti orang pertama, orang kedua ini mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mengenal banyak orang baru, tidak pergi ke tempat-tempat baru, dan tidak menemukan pengalaman baru di sepanjang perjalanannya. Namun, dia menemukan cara-cara dan pola-pola yang baru dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Mengapa? Karena berjalan lebih dalam membuatnya semakin mengenal dirinya sendiri, dan mengenal Tuhannya.

Manakah yang lebih baik? Jawabannya, tak ada yang lebih baik di antara keduanya, asalkan perjalanan yang ditempuhnya menjadikan dia orang yang tak sama lagi (lebih baik).

Aku sedang merutuki keadaan, dulu aku pernah bercita-cita ingin bekerja yang bisa pulang-pergi ke kota atau pulau orang sebelum menikah. Aku suka berkunjung ke tempat baru, belajar budaya baru, dan berinteraksi dengan orang-orang baru. Membuatku memahami sudut pandang yang berbeda denganku, sangat menyenangkan. Atau paling tidak, aku bisa bekerja dengan bertemu banyak orang. Ternyata Allah memutuskan untuk aku berada di keadaan sekarang. Yang sudah pernah aku ceritakan di tulisan lamaku bahwa aku merasa kesepian karena di pekerjaanku tak banyak orang yang kutemui dan tempat baru yang kukunjungi.

Untuk membuang pikiran jenuh, aku banyak membeli buku, menyelami vlog, postingan instagram influencer, dan internet untuk mengusir kesepian. Aku belajar banyak dari kesendirian dan kesepianku. Meski dilihat orang-orang aku tak kemana-mana, ya bukan berarti sama sekali aku tidak kemana-mana sih, maksudku aku tidak bepergian untuk melakukan sebuah misi. Beberapa kali main ke kota tetangga ya hanya sekadar main. Dalam kesendirian, pikiranku riuh memikirkan dan merenungkan banyak hal, entah itu dari buku yang aku baca, film yang aku tonton, konten yang aku konsumsi, kejadian langsung sehari-hari, obrolan dengan teman, atau bahkan pikiran yang tanpa diundang mampir begitu saja. Aku merasa ada banyak hal yang mengubah cara berpikir dan kebiasaanku menjadi lebih baik. Aku didewasakan oleh kesendirian. Seakan-akan Allah seperti memberiku ruang untuk sendiri agar aku bisa menyelami diriku yang sebenarnya. Dalam kesendirian juga aku menjadi sering mengobrol dengan Allah dan diriku sendiri, setelah aku sadar bahwa sekian lama aku selalu riuh dengan obrolan dengan manusia. Lalu mendadak hidupku sunyi senyap tanpa ada suara obrolan apa-apa. Membuat aku diingatkan, bahwa ada Allah yang bisa kuajak berbicara kapan pun itu dan membicarakan masalah apa saja.

Aku ingat bagaimana dulu semasa kuliah waktu dari pagi sampai malam habis untuk rapat, bertemu orang-orang, mengobrol serius atau hanya sekadar bercanda. Bahkan saat menanti lampu merah yang hanya semenit saja tak pernah terlewatkan oleh obrolan dengan teman yang saat itu bersamaku. Terlalu asyik dengan manusia, sampai akhirnya aku lupa untuk mengobrol dengan Allah dan diriku sendiri.

Membaca tulisan Teh Novie aku jadi sadar, sebenarnya ketika kita suka pergi kemana-mana, bertemu dengan siapa saja, atau menemukan banyak hal baru, bukan tentang kuantitasnya yang kita temukan atau seberapa jauh jarak yang kita tempuh. Namun, seberapa besar esensi sebuah perjalanan dalam hidup kita dan seberapa dalam pengaruhnya pada diri kita.

Apapun yang kita lakukan, temui, tempuh, dan tuju, semoga semuanya bermuara untuk Allah semata, ya.


You May Also Like

3 komentar

  1. iya nih sering banget mikir
    aduh udah tua nih aku
    astaga kok masih beginibegini aja :(

    BalasHapus
  2. tapi ternyata aku orang yang menikmati self-talk
    ngobrol sama diri sendiri dan waktu berkualitas dengan diri sendiri
    ngerasa jadi mellow nggak jelas sih pada waktuwaktu tertentu
    mungkin salah hormon
    tapi terus berusaha menyibukkan diri agar nggak punya waktu ngerasa sedih
    salam kenal anik!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Ninda. Sebenarnya selftalk bagus kok untuk refleksi diri sendiri aja, bukan untuk menikmati kesedihan. Hehe

      Hapus