Kamis, 10 Agustus 2017

# ODOP

Andaikan Media Sosial Tanpa Status



Apa jadinya jika media sosial tanpa status?

Pasti membosankan dan tidak ada variasi. Itulah alasannya mengapa setiap aplikasi selalu memberi terobosan baru pada fiturnya.  Jan Koum dan Brian Acton yang mendirikan whatsapp berinisiatif menambah fitur status pada aplikasinya agar semakin banyak orang yang tidak jemu lalu meninggalkan aplikasi buatannya.

Tapi beda denganku yang malah menyesal kenapa di whatsapp ada fitur status. Padahal dulu aku rela uninstal BBM dan beralih ke WA  karena di WA hanya ada fitur chat dan panggilan. Itu pun dulu hanya tersedia panggilan suara.

Terdengar aneh memang. Harus kuakui, aku adalah orang yang type bapernya akut. Kronis malah, sudah stadium empat. Tahu sendiri kan, di BBM setiap pagi sampai malam, bahkan 24 jam sudah seperti warung makan yang menyediakan foto makanan lauk apa saja. Seperti majalah yang menyediakan foto cewek dan cowok dengan gaya yang berbagai rupa. Serta menyediakan foto yang banyak sekali tidak jelas. Dan harus kuakui juga, aku pernah masuk dalam kategori itu. Dikit-dikit upload, dikit-dikit buat status. Kalau sedikit saja ada sesuatu yang terjadi, seakan dunia harus tahu dengan mempostingnya di status.


Dan sekarang aku sudah taubat. Hiks. Aku sadar ternyata dulu sempat masuk dalam dunia yang alay. *Maaf tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa pun, aku sedang membicarakan diriku sendiri*.

Aku sempat berpikir seperti ini, banyak waktu yang terbuang sia-sia. Hanya karena satu unggahan foto. MasyaAllah, untuk mengunggah satu foto saja harus menjepret berulang kali agar hasilnya bagus. Lalu mengedit sana-sini agar tampilannya lebih wah. Dan yang terakhir, membumbui dengan caption yang begitu manis agar terlihat lebih bermakna.

Di sisi lain, aku merasa sudah banyak jam yang aku habiskan hanya untuk melihat status orang. Mungkin ini hanya aku yang merasakan, karena ini semua tergantung dengan lingkaran orang yang berteman dengan kita di media sosial. Status mereka bagiku amat nggak penting. Sesuatu yang sepele banget. Dan bodohnya aku dulu yang mau-maunya men-scroll sampe bawah untuk kepo dengan status mereka.

Dan yang lebih tragis, media sosial digunakan untuk menyindir seseorang. Meluapkan emosi dengan berkata kotor dan mengumpat orang sepuasnya. Dan ini yang selalu membuat salah paham antara teman satu dan teman lainnya. Padahal energi buruk yang diluapkan melalui tulisan, ucapan, dan lainnya bisa memberikan pengaruh buruk pada psikologis seseorang. Semakin sering seseorang mengonsumsi pengaruh buruk, maka dalam dirinya juga akan muncul energi buruk. Hmhmh, dan aku juga pernah masuk dalam kategori yang ini.

Beda cerita kalau teman BBM kita adalah orang-orang yang dewasa dan bijak. Setiap apa pun yang mereka upload selalu berupa nasehat dan hal-hal yang penting. Meski membaca status beberapa menit saja, rasanya sudah mendapat ilmu yang banyak.

Untuk mengantisipasi hal itu, di media sosial mana pun aku hanya melihat story orang-orang yang sering menyebarkan ilmu dan nasehat. Jika ada orang-orang yang story-nya alay, aku mute. Agar aku tidak membuang waktu untuk melihatnya. Kalau berisi guyonan satu dua kali masih wajar. Memang hidup tidak selalu dibawa serius.

Semakin ke sini, aku semakin sadar tidak semua hal harus dipublikasi. Jika ada acara organisasi, reuni, acara keluarga masih pantas untuk diunggah. Tapi jika setiap hari mengunggah foto jalan-jalan dengan foto makanan yang menggiurkan, aku mikir-mikir untuk ini. Sempat baca di blognya Mbak Gita Savitri, coba baca tulisan dia yang berjudul Kesederhanaan yang Dirindukan. Ada satu kalimat yang buat aku mikir di tulisan itu, Bagaimana pertanggungjawaban gue nanti, kalau ternyata ada banyak orang yang iri melihat hidup gue karena secara tidak sadar gue pamer kekayaan. Lalu orang-orang itu lantas mikir hidupnya itu nggak menyenangkan dan nggak patut disyukuri.

Orang yang suka kuliner dan orang yang hanya suka mengunggah foto itu beda, gaes. Aku nggak menyalahkan orang-orang yang suka kuliner lalu mengunggah setiap foto makanan. Kalau kuliner dijadikan hobi, pasti di foto itu ada keterangan tentang harga, rasa, tempat, atau cara pembuatan. Postingannya sangat informatif. Beda kan kalau cuma sekadar nongkrong. Foto tangan dekat cup coklat atau lainnya. Tujuannya apa coba? Orang yang suka travelling juga akan memberikan informasi tentang tempat-tempat yang dikunjunginya, bukan hanya sekadar upload foto dengan caption yang dibuat-buat agar terlihat bijak.

Aku baca tulisan Mbak Gita tuh mikir keras banget. MasyaAllah, aku mikir lama. Merenungi sikapku dulu yang terlalu berlebihan. Sampai-sampai di instagramku numpuk foto nggak penting dengan gaya yang sok imut. Seketika setelah itu juga aku hapus semua foto itu. Aku berbalik lagi bertanya pada diriku sendiri. Tujuan aku buat akun instagram itu buat apa sih. Kalau sekadar cuma buat upload foto senang-senang lalu mengumpulkan like sebanyak-banyaknya, lalu aku akan mendapatkan apa? Setelah nanti berpuluh-puluh tahun ke depan, apa gaya hidupku yang “dikit-dikit upload” itu tetap aku pertahankan. Lantas, setelah foto itu menumpuk di media sosial fungsinya untuk apa?

Bukankah lebih mengerikan lagi jika banyak orang memuji tentang hidupku. Dan itu yang akan membuatku terkena penyakit hati. Hidup yang kelihatannya baik-baik saja, atau bahkan ada yang menilai aku ini dari orang yang berada. Bener kata Mbak Gita, sungguh, aku merasa berdosa sekali jika ada orang yang tidak mensyukuri hidupnya karena melihat hidupku. Padahal foto itu hanya sekadar gambar yang bisa dimanipulasi dengan senyuman. Kita tidak pernah tahu hidup seseorang sesungguhnya jika hanya melalui foto. Karena itulah, aku mulai belajar untuk menyimpan momen-momen kebahagiaan itu sendiri. Tidak perlu mengumumkan kepada semua orang bahwa aku ini bahagia. Aku pernah baca buku tapi lupa sumbernya. Di buku itu di jelaskan, justru orang yang memperlihatkan kebahagiaannya di media sosial malah sebenarnya dia adalah orang yang sedang menyugesti dirinya sendiri bahwa dia adalah orang yang bahagia. Dialah orang yang berusaha keras untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.

Aku merasa tertampar setelah sadar apa yang selama ini aku lakukan kebanyakan tidak informatif  dan bermanfaat. Hidup hanya sekadar senang-senang dan upload. Itulah sebabnya aku jarang sekali lewat di beranda instagram dan facebook beberapa bulan ini. Membuka akun kedua media sosial itu hanya untuk mengunjungi akun atau grup yang penting. menurutku kedua media sosial inilah yang lebih banyak berisi ke-alay-an.

Sebenarnya aku hanya ingin mem-follow akun yang penting, tapi tidak enak hati jika meng-unfollow ratusan teman sekolah dan kuliah. Sehingga aku lebih memilih menggunakan seperlunya. Jika aku tidak menyukai, ya sudah aku tidak perlu melihatnya. Aku juga takut terlalu menilai postingan orang lain nanti jatuhnya aku merasa lebih baik dan nge-judge orang seenaknya. Di samping itu aku juga takut tidak mensyukuri nikmat yang ada pada hidupku jika banyak melihat kemewahan teman-teman di instagram. Aku pun masih harus banyak belajar untuk bersyukur.

Andaikan media sosial tanpa fitur status, apakah hidup kita menjadi damai tanpa ajang pengeksposan gaya hidup? Atau kah hidup ini serasa menjemukan karena kita tidak lagi bisa kepo tentang suasana hati atau gaya hidup seseorang?

Gaes, kebahagiaan itu tidak dinilai seberapa sering kita upload foto atau seberapa sering kita keluar jalan-jalan menghamburkan uang. Kebahagiaan itu sederhana sekali—sesederhana kamu mensyukuri nikmat Tuhan.

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan"

--Ar-Rahman--

7 komentar:

  1. Setuju. Kebahagiaan itu sederhana banget. Media sosial tanpa status pasti membosankan ya. Saya jarang upload foto, paling kalau share event aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang membuat seru sebenarnya statusnya :)

      Hapus
  2. Tetap harus bijak menggunakan media sosial ya, mbak Anik. Bahagia itu salah satunya bisa berbagi hal-hal yang bermanfaat pada orang lain. Bila tidak bisa memberi manfaat, setidaknya jangan membawa mudharat :)

    BalasHapus
  3. I agree with u Mbak, saya udah jarang banget update status atau ngalay wkwk less selfie more masterpiece sih Mbak prinsip saya cz saya ingin dikenal sbg orang yang kaya akan karya dan manfaat bagi umat^^ nice post, sukakkk

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates