Sabtu, 02 September 2017

# ODOP

PR Baru Sebagai Pengajar

Source: Ciamik.info

Kalau lama nggak nulis, pasti rasanya kaku dan malas untuk memulai. Untuk membangkitkan lagi semangat, aku membiarkan diriku berkata apa saja. Lalu akhirnya, semangat menulis timbul lagi. Sesederhana apa pun kalimat awalnya pasti akan bisa membangkitkan. Seingatku sudah dua minggu aku tak menulis apa pun. Bukan karena malas, tapi karena jadwal yang padat (sok sibuk bangettts). Sudah dua minggu ini aku menjalani PPL di sebuah SMPN di Jember. Sengaja aku tak menuliskan identitas sekolahnya. Karena beberapa hari ke depan akan banyak cerita di sekolah tersebut yang ingin kutuliskan. Takutnya jika yang kutulis menyangkut privasi sekolah.

Kegiatan PPL itu begitu menguras tenaga, pikiran, bahkan biaya. Sebenarnya aku belum terjadwal mengajar kelas, karena minggu pertama dan kedua masih digunakan untuk observasi dan magang. Akan tetapi, aku sudah sering masuk ke kelas-kelas untuk mengisi jam kosong para guru yang rapat, diklat, atau lainnya. Menunggui anak-anak yang mengerjakan tugas, membaca Alquran saat waktunya Baca Tulis Alquran (BTA) atau program membaca surat Yasin setiap hari Jumat sangatlah mengesankan. Selalu ada cerita yang mereka torehkan pada hari-hariku. Entah sikap mereka yang menjengkelkan, menyebalkan, menguras emosi, atau bahkan mencengangkan. Baru dua minggu di sana banyak cerita yang meluap-luap ingin kubagikan kepada para pembaca blog ini. Tapi waktu memanglah belum bersahabat, atau mungkin karena aku yang tidak bisa membagi waktu. Hmhm, entahlah.


Sekolah ini menerapkan kurikulum 2013 hanya pada kelas 7. Sehingga hanya kelas 7 yang pulangnya agak sore yaitu pukul 14:00 WIB, begitu pun juga aku. Sesampainya di kos biasanya pukul 15:00 WIB. Setelah itu memasak, mencuci, bersih-bersih, dan lain sebagainya. Malam harinya masih ada agenda rapat organisasi untuk acara kemerdekaan bulan kemarin. Pulang malam lalu lelah dan aku belum sempat memegang buku dan lembaran skripsi. Dalam tidur malamku pun masih terbayang-bayang RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan Program Kerja yang harus aku buat untuk sekolah. Melelahkan sekali.

Sekarang aku mengerti kenapa para guru senior sering menggunakan metode ceramah tanpa media interaktif untuk menunjang pembelajaran. Mereka terlalu lelah dan tidak sempat untuk mempersiapkan hal-hal semacam itu. Mereka kualahan membagi waktu antara siswa, administrasi sekolah, dan keluarga. Yah, meski kita tahu lelah itu bukanlah sebuah alasan. Tapi aku sangat memaklumi keadaan mereka. Ditambah lagi, banyak guru yang mengaku gaptek dan tidak paham kurikulum 2013. Pikirku, mungkin ini semua karena ketidaktahuan mereka tentang bagaimana mengajar dengan model yang menarik dan membuat siswanya aktif.

Aku termenung, siapa yang harus disalahkan jika sudah begini. Siswa yang pasif dan sulit diatur, guru yang gaptek dan tidak paham tentang kurikulum baru, orangtua yang tidak mendukung belajar anak, pemerintah yang menetapkan kebijakan tanpa melihat keadaan, atau bahkan kita semua karena tidak kepedulian kita?

 Tapi yang harus aku beritahu kepada kalian, meski lelah aku menyukai kegiatanku menjadi seorang pengajar di sekolah. Aku merasa saat ini mempunyai tanggung jawab dan PR baru untuk memperbaiki keadaan. Bukan hanya mengkritik tanpa bertindak.

2 komentar:

  1. Aku termenung di bagian ini "pemerintah yang menetapkan kebijakan tanpa melihat keadaan" haha kayaknya terlalu baper karena ektp gak jd2 (lah malah curhat).

    Btw tetap sabar dalam memintarkan bangsa ya Mba, karena guru itu pahlawan tanpa tanda jasa 😊

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates