Jumat, 11 Agustus 2017

# FIKSI

(CERBUNG) Cinta Sepasang Blogger


Mulpix.com
Mela tidak menyangka, komentar tak sengajanya di blog seseorang membuat hubungannya semakin dekat. Dia sendiri juga lupa darimana mendapat alamat blog Yoga yang kini meramaikan notifikasi e-mail dan hangout miliknya.

“Cerpenmu hari ini keren.” Tulis Yoga pada chat hangout.

Sejenak ada garis senyum pada bibir Mela lalu membalas pesan itu melalui ponselnya. “Catatan perjalananmu hari ini juga keren,” jawab Mela.

“Oh, ternyata kamu sudah membaca.” Ada tawa yang Mela tahan.

Bagaimana tidak tahu postingan Yoga kalau Mela selalu rajin membuka daftar bacaan di blog atau melihat beranda google plus. Bukankah mereka saling mem-follow. Tentu ini bukan sesuatu yang mengherankan jika Mela selalu update dengan tulisan Yoga.

Lalu obrolan mengalir begitu saja membicarakan tentang keseharian masing-masing. Yoga bercerita tentang kuliahnya di Institut Kesenian di ibukota. Dia yang selama ini selalu aktif mengikuti pendakian di UKM pencinta alamnya. Dan Mela yang memilih UKM jurnalistik di sebuah kampus negeri di Yogyakarta. Mereka tidak pernah bertukar kontak BBM, Whatsapp, atau media sosial lainnya. Hanya dengan blog dan e-mail mereka saling berkirim kabar dan cerita.


“Kamu baru pulang dari Semeru?” Tulis Mella.

“Iya. Dua hari lalu. Kan aku sudah cerita.”

“Oiya sih. Ada jadwal mendaki lagi minggu depan?”

“Nggak. Ke Semeru saja aku sudah membuang waktu kuliah dua mingguan. Bulan ini fokus dulu di kuliah.”

Mela melihat kalender yang duduk di mejanya. Awal bulan Agustus—bulan ketiga perkenalan mereka. Dan selama tiga bulan itulah mereka berdua tidak pernah berhenti memberi kabar atau komentar di blog. Apalagi Mela masih libur semester, banyak waktu untuk berkutat dengan blognya. Berbeda dengan Yoga yang sudah memasuki masa perkuliahan.

Yoga tidak pernah tahu saat chat yang dia kirimkan mampu mengubah rona wajah gadis berlesung pipi itu. Dan banyak hal dari Yoga yang mampu mengubah hidup Mela. Dia tak lagi peduli seberapa banyak pengunjung yang main ke blognya atau seberapa banyak followers google plus atau blog yang bertambah setiap harinya. Yang dia selalu ingin tahu, cerita apa yang Yoga tulis setiap harinya. Dan dari postingan di blog itulah Mela selalu mempunyai bahan obrolan yang bisa memperpanjang durasi chatting.

Yoga, laki-laki yang terlihat dewasa di foto dengan jenggot tipis yang memenuhi dagu dan rahangnya terlihat cocok. Penampilannya memang terlihat jelas seperti anak kesenian yang tubuhnya jangkung  dan rambutnya sedikit gondrong.

Yoga juga selalu mempunyai alasan untuk memulai chat. Entah membicarakan tokoh pada cerpen Mela atau menanyakan tentang berita-berita kampus yang sedang Mela kerjakan. Dibanding Mela, Yoga yang paling rajin melayangkan komentar, entah di blog langsung atau di hangout. Sedangkan Mela, dia lebih memilih untuk membaca dan menyimpan diam-diam kesannya tentang Yoga. Dia tidak terlalu banyak komentar, karena baginya Yoga itu begitu mengagumkan dan tak mampu dilisankan melalui kata-kata.

Mela bukan orang yang pandai memuji seperti Yoga. Tapi perempuan jebolan jurusan ekonomi itu  lebih pandai menyembunyika rasa yang dia sendiri bingung untuk mengartikannya. Semenjak mengenal Yoga, dia semakin rajin menulis banyak cerpen, review buku, atau ulasan tentang film Thailand kesukaannya. Selama tiga bulan itu hanya dua kali dia absen mengisi blog karena kesibukan di majalah kampus.

Entah, sihir macam apa yang Yoga gunakan untuk membius Mela dengan penampilan dan kharismatiknya di dunia maya. Meski belum pernah bertemu pandang secara langsung, namun hubungan mereka teramat dekat. Seperti sepasang kekasih yang sedang menjalin longdistance relationship. Namun dibalik itu semua, Yoga memang tidak pernah mengutarakan perasaannya. Hanya perhatian yang dia berikan pada Mela.

Suatu pagi, setelah Mela menyelesaikan tulisannya sehabis Shubuh, dia memposting cerpen. Cerpen yang menceritakan tentang seorang pendaki yang mencari bunga edelweis di Bromo untuk kekasihnya. Dia membayangkan jika Yoga benar-benar pergi ke Bromo lalu mengirimkan paket buket bunga edelweis yang bunganya akan abadi berpuluh-puluh tahun lamanya. Bunga yang begitu Mela sukai tapi belum pernah berkesempatan untuk memilikinya bahkan datang ke tempatnya tumbuh subur.

Tapi rasanya tidak mungkin. Dari cerita, Yoga sudah pernah ke Bromo setahun lalu dan berhasil membawa seikat bunga edelweis yang sekarang masih menggantung di jendela kamarnya.

Setelah berhasil memposting, dia melihat daftar bacaan blog yang diikuti. Terlihat postingan Yoga dua jam yang lalu. Kali ini Yoga bercerita tentang weekend-nya di Kota Tua. Lalu di bawah tulisan itulah dia menemui sederet komentar Yoga dengan seorang wanita yang terlihat amat dekat. Mela penasaran siapa perempuan yang bernama Jasmine itu. dia menelusuri blog Jasmine. Dan ternyata, di sana juga banyak komentar Yoga. Hampir semua postingan selalu Yoga komentari. Sama seperti yang Yoga lakukan kepadanya.

Mela kembali ke tulisan Yoga yang telah lewat. Karena tidak jelinya Mela, dia baru sadar setiap tulisan Yoga juga dikomentari perempuan itu. Mela diam sejenak untuk menenangkan detak jantung yang mulai tak beraturan. Setiap tulisan Yoga juga ada lukisan jempol like Jasmine. Bahkan semakin ke bawah, Mela juga baru sadar ternyata ada tulisan Jasmine yang di-reblog oleh Yoga. Tulisan itu berisi puisi duet mereka. dia membaca setiap untaian kalimat di puisi itu. Terlihat bukan kalimat yang ditulis seperti biasa, tapi puisi yang menggoreskan tentang perasaan cinta dua anak manusia. Mela mengakui, seperhatian apa pun Yoga kepadanya, dia belum pernah menulis puisi berdua dengannya.

Semua mendadak berubah. Semangat dan harapan Mela kepada Yoga runtuh begitu saja. Mela menutup laptop dan mematikan ponselnya. Dia merutuki dirinya sendiri. Kesalahannya mencintai seseorang yang belum dia lihat dan kenal secara langsung. Sejauh apa pun cerita Yoga tentang kehidupannya yang dia tahu, itu hanya sebagian kecil. Masih banyak kepingan hidup Yoga yang tersembunyi dan tidak akan dia temui di layar laptop maupun ponselnya.

Menelusuri kehidupan Yoga tidak semudah menelusuri kata kunci di google. Tidak semudah dia mengetahui asal SMA Yoga hanya dengan mengetikkan nama panjang laki-laki itu di google. Mela salah besar jika hanya dengan hangout dan catatan kecil blog dia sudah bisa mengenal jauh seseorang. Entah perempuan itu siapa, seorang kekasih atau hanya teman seperti hubungan Yoga dengannya, yang jelas Yoga tidak hanya dekat satu perempuan. Yoga tidak hanya menabur komentar pada blog atau chat di hangout-nya, mungkin juga belasan perempuan di luar sana.

Mela rasanya ingin menjauh bahkan keluar dari dunia blog. Mela tak ada lagi semangat untuk menulis apa saja. Dia tidak mempunyai alasan untuk tetap menulis. Bahkan, dia berniatan untuk menghapus blognya. Dia merasa benci sekali jika nanti Yoga menemui postingannya setiap hari lalu memberi komentar. Dia tidak ingin Yoga muncul lagi dalam kehidupan mayanya. Tapi ada sesuatu yang berat menahannya. Dia merasa sayang sekali jika harus meninggalkan sembarangan blog yang dia rawat bertahun-tahun semenjak masih SMA. Blog yang sudah berisi ratusan followers dan cerpen yang dia tulis.

Yang dia inginkan sekarang adalah menenangkan diri tanpa Yoga. Akun hangout pada ponselnya dia logout dan aplikasinya dia hide untuk sementara waktu.  Untuk beberapa hari ke depan dia tidak akan memposting apa pun di rumah mayanya. Dia berhenti sejenak. Melepaskan segala kemarahan dan luapan emosi yang dia rasa tidak ada tempat untuk meluapkannya. Padahal dulu dengan blog lah dia sering meluapkan emosinya. Tapi sekarang, dia tidak ingin lagi ada apa pun tentang dirinya yang bisa diketahui oleh Yoga.


Seminggu Kemudian . . . .

To Be Continued!

1 komentar:

Follow Us @soratemplates