Jumat, 11 Agustus 2017

# FIKSI

(CERBUNG) Cinta Sepasang Blogger 2

Dissolve.com


Seminggu Kemudian . . . .

Ada ruang hampa pada hatinya. Ruang yang tak lagi berisi kabar, cerita, bahkan gurauan dari seseorang yang diam-diam telah mengambil hatinya. Selama ini Yoga telah melakukan praktik pencurian hati tanpa pernah disadarinya. Dan sekarang, kehilangan Yoga seperti kehilangan separuh dari semangat hidupnya. Semangat dari goresan kata-katanya.

Tapi sangat disayangkan jika Mela berhenti ngeblog hanya karena seseorang yang baru dikenalnya. Bertahun-tahun dia jatuh bangun mengumpulkan semangat untuk menulis, apa harus dia berhenti begitu saja. Bagaimana pun, dia juga rindu pada rumah mayanya. Dia rindu menulis apa saja.

“Mel, ada paket bunga di depan.” Suara Ninda kakaknya membuyarkan lamunan. Paket bunga, benda yang menurutnya asing. Sejak kapan ada seseorang yang mengirimkan bunga kepadanya. Dia yakin pasti itu salah kirim.

Dia lihat namanya tertera jelas di kertas putih berpita yang mengikat bunga edelweis. Tubuhnya mematung tak tahu apa yang harus dia katakan dan lakukan.

“Tadi siapa yang ngantar, Kak?” Untuk ke sekian menit setelah otaknya bisa mencerna dengan baik keadaan yang sedang terjadi, dia berhasil menanyakan itu kepada kakaknya.

“Bapak dari jasa pengiriman paketan.”

“Ada resi pengirimannya?”

“Resinya aku taruh di meja depan TV.”


Mela berjalan cepat ke tempat yang ditunjuk kakaknya. Setelah dia mencari ke atas, bawah, samping, dan sekitar meja tidak ada. Di selipan sofa dan bawahnya juga tidak ada. Semua sudut ruang itu dia telusuri, namun tetap tak dia temukan secarik kertas resi yang dicarinya.

Mela berjalan kembali ke kamar kakaknya. “Kakak yakin ada di meja? Aku cari tidak ada.”

Ninda sedikit mengerutkan kening mengingat-ingat kembali. “Yakin, kok. Coba kamu tanya Ibu, siapa tahu kebawa.”

Dengan gesit Mela segera berlari ke dapur menemui ibunya. Dia mendapati ibunya membawa setumpuk sampah di dekat perapian.

“Ibu tahu kertas di meja TV?” tanya Ninda dengan nada terengah-engah.
“Ini Ibu bakar,” jawab ibunya enteng.

Tanpa berpikir panjang, dia membawa air dengan gayung dari kamar mandi lalu dia siram ke perapian itu.

“Kok disiram?” Ibu Mela membulatkan matanya karena heran.

“Itu tadi kertas penting, Bu.” Mela mengacak-acak sampah yang apinya telah padam. Dia mendapati secarik kertas resi yang terbakar seperempatnya. Dia masih bisa melihat alamat pengirimnya tapi tidak dengan nama pengirim. Alamat pengirimnya dari Probolinggo, Jawa Timur. Siapa? Batinnya.

Tanpa mempedulikan ibunya yang keheranan, dia lari ke kamar. Dia membuka akun blog dan email-nya dengan ragu. Lalu dia dikagetkan dengan notifikasi email, chat hangout, dan komentar blog pada postingan terakhirnya. Dan semua notifikasi itu lebih banyak diramaikan oleh Yoga. Ada nada khawatir yang Yoga sampaikan pada chat hangout. Dia memborong banyak pertanyaan menanyakan tentang keadaan Mela yang seminggu ini tak berkabar.

Tidak cepat membalas seperti sebelumnya, Mela berpikir lama sekali sambil memandang buket bunga edelweis dan secarik resi basah di samping laptopnya. Dia kira alamat pengirimnya dari Jakarta dan si pengirim itu adalah Yoga. Ternyata bukan.

Dia melihat halaman blognya. Sepi tanpa postingan seminggu ini. Lalu melihat profil google+. Setiap postingan blog yang dia share ke google+ selalu ada angka dua pada icon plusnya. Itu berarti ada orang lain yang juga memberi plus pada setiap postingannya selain dirinya. Dia lihat ada nama Daniel di sana. Nama akun itu memang tidak asing. Selalu mampir di notifikasi Mela, tapi tidak terlalu dihiraukan oleh Mela karena selama ini dia hanya fokus pada akun Yoga.

Dia melihat profil Daniel lalu menelusuri halaman blognya. Dia tertegun cukup lama melihat postingan Daniel tentang perjalanan liburan semesternya ke Bromo dua hari lalu. Dia mendampingi teman-teman kampusnya berlibur ke sana. Dan setelah itu ada postingan yang dia tuliskan dengan mengunggah foto buket bunga edelweis persis seperti yang saat ini berada di sampingnya. Siapa laki-laki ini? Pertanyaan Mela menggema dalam benaknya berkali-kali.

Dia lihat di about me blog Daniel. Ternyata Daniel orang asli suku Tengger Probolinggo dan kuliah di jurusan sastra di kampus yang sama dengannya. Dia menyukai travelling dan juga mengikuti UKM pecinta alam.

Sejenak Mela menyempatkan waktu untuk membaca tulisan Daniel.

Bunga Edelweis Penyampai Rindu

Aku memang laki-laki pengecut. Mengagumimu diam-diam pada sajak-sajak yang selama ini kau tuliskan. Tanpa pernah berani untuk mengungkapkan tentang kerinduan yang telah lama menikam. Enam bulan lalu setelah menemukan alamat blogmu di biodata redaksi majalah kampus, aku rajin main ke blogmu. Aku tidak mempunyai nyali untuk memberi komentar pada tulisanmu. Dan kau tahu, pertama kali aku melukiskan plus pada akun google plus mu rasanya seperti bermandikan keringat. Aku ragu dan gugup untuk melakukannya.

Ingin mengurungkan memperlihatkan diriku, tapi kupikir cara yang bagaimana yang harus kulakukan agar kau bisa melihat keberadaanku. Kukira dengan memperlihatkan diri di notifikasimu akan memancing penasaranmu kepadaku. Ternyata aku salah. Sekali pun sudah puluhan tulisanmu aku ramaikan dengan icon plus, kau tetap tak pernah berbalik untuk mengisi notifikasiku.

Aku sadari, kadang perempuan memang selalu bersikap dingin pada laki-laki asing sepertiku. Tak ada cara lain yang membuatku lebih berani untuk kulakukan. Sehingga aku lebih memilih diam-diam menjadi secret admirer di blogmu. Andai saja di blogmu ada penghitung pengunjung terajin, pasti akan ada namaku di daftar paling atas. Aku suka dengan tulisan-tulisanmu yang begitu lembut. Setiap membaca tulisanmu itulah aku mengenal sosokmu, dan merasakan setiap perasaan yang kau tuangkan di dalamnya.

Dan ini kali pertamanya aku berani untuk mengungkapkan, aku rindu pada seminggu kau berlalu tanpa ada tulisan di blogmu. Di sini aku menunggu bersama jarum jam yang seakan menertawakanku.

Dan ini kali pertamanya aku berani mengirimkan sebuket bunga edelweis seperti yang pernah kau tuliskan pada cerpenmu. Pada seikat bunga itu ada ikatan rindu yang sempat aku taruh diam-diam tanpa ada orang yang tahu. Mungkin juga kau, tak akan pernah tahu bahwa aku yang mengirimkannya. Bahkan, aku yang memotongnya sendiri dari halaman rumahku tadi pagi.

Dari aku,

Yang selalu menunggu tulisanmu

Mela baru sadar setelah melihat postingan google+ nya sampai bawah, Daniel memang selalu menampakkan diri dengan lukisan plus-nya. Tapi semua tidak pernah terlihat karena Mela terlalu sibuk dengan Yoga. Padahal Daniel sudah lebih lama mengikutinya.

Mela merasakan sesuatu yang menyeruak masuk pada dirinya. Dia merasa ada semangat baru untuk menulis lagi dan ternyata ada orang yang tanpa dia sadari menunggu tulisannya.

Tapi untuk kali ini Mela tidak akan bersikap bodoh lagi. Dia berbicara dengan dirinya sendiri, Aku menulis bukan untuk seseorang lagi. Tapi untuk diriku sendiri. Untuk diriku yang memang sudah berteman dengan blog sejak lama. Untuk diriku yang tidak bisa berlama-lama jauh dari blogku sendiri. Dan untuk diriku yang menemukan separuh hidupnya ada pada menulis.

Hari ini Mela menulis lagi. Menulis tentang bunga edelweis yang sekarang mendiami meja kamarnya. Tentang rasa senangnya mendapat teman baru, bukan teman spesial atau pun secret admirer. Cukup Mela dan Daniel yang tahu perihal secret admirer. Mela tak ingin menganggap orang yang baru dikenalnya itu istimewa, karena dia takut akan jatuh pada lubang yang sama.

Mela tak lagi membalas chat Yoga karena beralasan sibuk. Mela membiarkan Yoga mencari perempuan pilihan sesuka hatinya. Dengan begini tak kan ada lagi beban yang dia buat-buat sendiri. Dan semakin lama Yoga akan menghilang dengan sendirinya tanpa harus Mela mencarinya. Dunia maya tetaplah maya. Dan di dalamnya tak perlu ada hati yang ikut berperan. Karena di dunia maya akan banyak kebohongan yang bisa seseorang lakukan dan tuliskan. Tapi Mela percaya, di dunia maya masih ada ketulusan meski hanya ada secuil dari ribuan bongkahan kebohongan. Siapa yang tulus, pastilah waktu akan meluluskan perjuangannya.

Setiap hari Mela menulis tentang cerita kesehariannya dan pengalaman baru yang dia dapatkan. Meski sebenarnya dia rindu mengingat setiap hari selalu bercerita apa saja kepada Yoga, tapi dia mengobatinya dengan menulis cerita itu pada blognya. Agar dengan begini, Mela juga bisa bertukar cerita keseharian dengan Daniel tanpa pernah orang lain tahu.

Dua sejoli itu diam-diam berkomunikasi melalui tulisan-tulisan di blog. Tidak ada yang memberanikan diri untuk menyapa terlebih dahulu di chat hangout, email, atau komentar. Semua terasa menyenangkan. Dengan begini tidak ada harapan yang sengaja ditaruh karena merasa sudah mengenal lebih dekat. Tidak ada rasa cemburu jika satu sama lain sudah menemukan pilihan hati masing-masing nantinya. Karena hubungan mereka sudah diikat pada bunga edelweis yang abadi. Tidak akan ada kata berpisah karena mereka tidak pernah mempertemukan diri. Tidak ada rasa kehilangan karena mereka tidak pernah saling memiliki. Yang mereka tahu, mereka akan terus menulis tentang apa saja. Begitu saja terus tanpa pernah meributkan urusan hati.

End


5 komentar:

  1. Ceritanya menarik dan ringan enak dibaca. Ya..cinta jaman sekarang terasa dipermudahkan oleh media social. Blog punya andil ,apalagi itu google plus, klik-klik tanda diam-diam memperhatikan. Rasa rindu bisa dituangkan lewat kata-kata dalam artikel. Ah ..., riak rindu dalam tulisan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Lagi-lagi rindu :D

      Hapus
  2. eh ada nama saya :D salah fokus....

    manis dan enteng dibacanya, menanti cerita lain diblog ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasih kak :)

      Eh iya namanya samaan wkwk

      Hapus
  3. Kenangan lama banget nih. Edelweis. AKu selalu ditinggal lama gegara edelweis ini.

    Hmm.. dari blog bisa jatuh cinta ma blogger ya hehehe

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates