Rabu, 16 Agustus 2017

Aku dan Kehampaan

Enam bulan terakhir, banyak yang berubah dalam hidupku. Aku tak lagi mempunyai banyak teman seperti dulu. Aku tak lagi mempunyai banyak waktu untuk keluar berfoya-foya ke sebuah tempat makan seperti dulu. Dan aku tak lagi dekat dengan gadis-gadis yang lebih suka membicarakan diskon sepatu atau baju. Aku sempat merasa resah dengan duniaku sekarang. Banyak kecemasan yang kurasakan. Aku merasa jauh dari pergaulan dan terasingkan.

Saat banyak teman mengunggah foto ngopi di suatu café atau jalan-jalan ke mall, jujur ada perasaan aneh dalam diriku. Aku merasa, kenapa aku tidak lagi bisa berteman dengan mereka. Kenapa hatiku tidak lagi bisa menyatu dengan mereka. entah, kurasa memang beginilah Allah mengatur segala hal yang detail dalam hidupku, termasuk dengan pergaulan. Aku merasa apa mungkin ini rencana Allah untuk mengubah lingkunganku agar mempermudah diriku untuk hijrah.

Aku merasakan banyak keganjalan. Dimana teman yang dulu sangat dekat, bahkan seharian bisa bersamaku. Kemana-mana memanggil namaku minta ditemani. Apa-apa dia ingin bersamaku. Hanya masalah sepele saja. Sungguh, masalahnya sangat sepele. Jika kuceritakan pasti kamu akan tertawa geli mendengarnya. Tapi Allah yang lebih pandai menguasai hati manusia. Masalah sepele itu bisa mengubah seratus delapan puluh derajat dalam hidupku.


Orang yang sudah seperti permen karet yang begitu lengket denganku sekarang seperti kapas yang diterbangkan angin. Hatinya tak lagi untukku. Bahkan, raganya juga tak ingin bersanding denganku. Dia lari sejauh-jauhnya dari pergaulanku, bahkan dia ingin keluar dari hidupku. Aku sudah tak memiliki ruang pada bilik hatinya. Tak ada lagi sisa rasa sayang dia untukku. Aku tak lagi diakui menjadi siapa-siapa. Bahkan mungkin, dia tak menganggap pernah mengenalku. Aku hanya orang asing yang ada dalam hidupnya. Tak lagi ada sapa, canda, dan tawa. Dan awalnya aku merasa hampa lalu lama-lama aku terbiasa.

Aku pernah merasa terpuruk karena hal ini. Aku pernah merutuki diri. Tapi lagi-lagi, aku percaya Allah lah yang mengatur segalanya. Jika aku tidak berjauhan dengannya, mungkin jalan hijrahku tak semudah ini. Mungkin aku akan terkungkung pada lingkungan yang jauh dari syariat Islam. Tidak mungkin orang yang begitu dekat dan erat bisa berubah pikiran karena hal sepele. Itu semua karena Allah yang menghendakinya.

Semakin ke sini ada banyak hal yang membuat aku berpikir. Dalam kesepian aku merasa ada suatu kekosongan. Bukan tentang siapa yang sekarang menjadi temanku, juga bukan tentang siapa yang mengisi kekosongan itu. Tapi tentang diriku sendiri. Aku merasa ada yang keliru pada diriku. Tapi entah itu apa. Hidupku selama ini habis hanya untuk mengisi usia tanpa ada makna. Jika waktunya kuliah ya kuliah, mau lulus ya skripsi, setelah lulus lalu kerja.

Hidupku memang terencana. Setelah ini aku mau ini, itu, atau apa. Semua memang sudah tersusun rapi dalam rencana. Tapi bukan itu yang aku maksud. Aku merasa selama ini yang kulakukan adalah suatu kesia-siaan. Aku tahu kuliah untuk mendapat ilmu dan pengalaman, kerja untuk mendapat uang, dan lalu menikah untuk melanjutkan keturunan. Tapi aku rasa semua tidak ada artinya. Aku merasa jika nanti mati lalu untuk apa ilmuku, hartaku, dan anak-anakku. Aku tahu hidup itu untuk ibadah. Semua diniatkan untuk mendapatkan ridho Allah, bukan semata untuk kepentingan dunia. Tapi maksud mendalam dari kalimat itu apa?

Ada yang kosong, hilang, hampa, dan aku bingung harus berbuat apa.

*) Suatu malam saat aku dalam kehampaan





5 komentar:

  1. Tulisan yang inspiratif mba. Apa yang kita jalani harus ridho Allah SWT ya. Saya pernah merasakan kehampaan.

    BalasHapus
  2. Tetap positif thinking yaa kak, Inshaa Alloh akan ada waktunya kkak bisa memahami apa maksud dari yang terjadi 😊

    BalasHapus
  3. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ruang lingkup berteman Kita semakin terpilah, sadar atau tak sadar. Aku pun pernah merasakannya. Tapi hidup harus berlanjut, jd dibawah santai dan sabar aja Mba. Semangaaat 💪

    BalasHapus
  4. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ruang lingkup berteman Kita semakin terpilah, sadar atau tak sadar. Aku pun pernah merasakannya. Tapi hidup harus berlanjut, jd dibawah santai dan sabar aja Mba. Semangaaat 💪

    BalasHapus
  5. Aku pernah merasakan hal seperti itu. Dan pada akhirnya pun aku sangat bersyukur. Itu adalah cara Allah menyelamatkanku.

    BalasHapus

Follow Us @soratemplates